Bagaimana Peran Penting Sunan Ampel dalam Mengembangkan Islam di Indonesia?

Sunan Ampel, satu di antara Wali Songo punya peran penting dalam menyebarkan Islam di Indonesia.

Tayang:
Penulis: Nasaruddin | Editor: Nasaruddin
Kemenag/surabaya.tribunnews.com/bobby constantine koloway
Kolase Sunan Ampel yang punya nama asli Sayid Ali Rahmatullah. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Sunan Ampel, satu di antara Wali Songo punya peran penting dalam menyebarkan Islam di Indonesia.

Nama asli Sunan Ampel adalah Ali Rahmatullah.

Daerah dakwah Sunan Ampel adalah Surabaya di Jawa Timur, khususnya Ampeldenta.

Cara dakwah Sunan Ampel sangatlah unik.

Mengutip Nur Hamiyatun dalam Jurnal Dakwatuna, saat di Ampeldenta, Sunan Ampel membuat kerajinan yang berbentuk kipas yang terbuat dari akar-akar tumbuhan dan ayamanan rotan.

Kipas-kipas ini dibagikan secara gratis kepada masyarakat sekitar.

Hanya tetapi, penduduk cukup mengucapkan kalimat syahadat.

Bagaimana Perjalanan Sunan Ampel Datang ke Pulau Jawa dan Apa Saja Peninggalan dari Sunan Ampel?

Kipas-kipas ini bukanlah kipas-kipas sembarangan melainkan kipas yang juga berfungsi sebagai obat demam dan batuk.

Dakwah Ali Rahmatullah kemudian berkembang dengan banyaknya masyarakat yang masuk Islam.

Dirinya kemudian membangun sebuah langgar untuk tempat pendakwahan yang berkembang terus menurus.

Hingga pada akhirnya membangun sebuah pondok pesantren yang pada abad ke-15.

Pesantren ini menjadi sentra pendidikan yang sangat berpengaruh di wilayah Nusantara, bahkan mancanegara.

Untuk lebih jelasnya, berikut adalah peran penting  Sunan Ampel dalam mengembangkan Islam di Indonesia:

Apa Peran Penting Maulana Malik Ibrahim dalam Menyebarkan Islam di Indonesia?

1. Membentuk Jaringan Kekerabatan Dalam Menyebarkan Islam

Dalam mengembangkan agama Islam, Sunan Ampel punya peran penting dalam membentuk jaringan kekerabatan melalui perkawinan para penyebar Islam dengan putri-putri penguasa kerajaan Majapahit.

Strategi inilah yang menjadikan Islam lambat laun semakin kuat dan mendapatkan dukungan para penguasa.

Sebagaimana Rasulullah SAW menguatkan Islam lewat pernikahannya dengan istri-istri beliau yang berlatar belakang dari berbagai suku dan agama.

Diantara penyiar Islam yang punya hubungan kekerabatan dengan penguasa Majapahit, di antaranya:

a) Raden Rahmat menikahkan Raden Usen dengan putri Arya Baribin, Adipati Madura.

Raden Usen adalah seorang mubalig asal Rusia Selatan dekat Samarkand yang cukup lama ditugaskan sebagai imam dan mengislamkan masyarakat Sumenep, Madura.

b) Syekh Waliyul Islam menikah dengan Putri Retno Sambodi, anak penguasa Pasuruan, Lembu Mirudha atau dikenal dengan Mbah Gunung Bromo.

c) Syekh Maulana Garib dinikahkan dengan Niken Sundari, putri Patih Majapahit bernama Mahodara.

d) Putri Sunan Ampel, Adik Mas Murtosiyah dinikahkan dengan santrinya Raden Paku atau dikenal dengan Sunan Giri, begitu pula putrinya Mas Murtosimah dinikahkan dengan Raden Patah yang menjabat Adipati Demak.

Hubungan dan jaringan kekeluargaan antar penguasa dan penyebar Islam menjadikan agama Islam cepat meluas di berbagai daerah melalui peran para Wali Songo.

Siapakah Tokoh Penyebar Islam yang Disebut Wali Songo?

2. Melakukan Perubahan Menuju Tradisi Bernilai Keislaman

Masyarakat pesisir utara Jawa adalah masyarakat yang hidup dalam tradisi dan budaya yang turun temurun.

Dalam dakwahnya, Sunan Ampel membawa ajaran Islam yang disampaikan dengan cara-cara damai, moderat, toleran dan menyesuaikan tradisi masyarakat yang telah ada mengandung nilai-nilai Islam.

Sebelum kedatangan para penyiar Islam, orang-orang Majapahit mengenal upacara peringatan terhadap orang mati, disebut sraddha, sebuah upacara peringatan atas kematian seseorang pada tahun ke-12.

Setelah kedatangan penyiar Islam Campa yang dipelopori Sunan Ampel, penduduk Majapahit mulai memperingati tradisi kenduri, dan memperingati kematian seseorang pada hari ke-3, ke-7, ke-40, ke-100, dan ke-1000.

Dalam prakteknya, masyarakat berkumpul mendatangi keluarga yang ditinggal, lalu acara tersebut diisi dengan zikir, tahlil dan doa.

Tradisi keagamaan ini, bukanlah berasal dari ajaran Hindu-Budha, tetapi merupakan tradisi keagamaan muslim Campa yang dikenalkan Sunan Ampel.

3. Membangun Masjid dan Pesantren Sebagai Pusat Penyebaran Islam.

Masjid Ampel merupakan bangunan tempat ibadah yang menyimpan nilai sejarah.

Arsitektur masjidnya memadukan arsitektur Hindu Budha dan khazanah Islam untuk kepentingan dakwah.

Model atap tumpang pada masjid menggambarkan adanya akulturasi budaya Islam dan Hindhu-Budha.

Tiang-tiang masjid masih kokoh hingga sekarang.

Selain membangun Masjid, Sunan Ampel juga membangun pesantren, tempat mengajarkan murid-muridnya membaca Al-Qur’an, syariat dan tasawuf.

Sikap Positif Dalam Pribadi Sunan Ampel

Dalam usaha menyebarkan dan mengembangkan dakwah Islam di Indonesia, Sunan Ampel patut menjadi teladan dalam sikap Positif yang ditunjukkan.

Diantaranya:

1. Berdakwah dengan santun penuh kearifan, dengan tanpa caci maki terhadap pendapat dan agama lain.

Kisah teladan menarik ketika Sunan Ampel mengajak Prabu Brawijaya V (Sri Prabu Kertawijaya) memeluk Islam, meskipun akhirnya tidak memeluk agama Islam namun ia terkesan dengan ajaran agama Islam sebagai ajaran budi pekerti yang mulia.

2. Toleran dan selalu menjalin hubungan baik dengan semua kalangan.

Menghadapi kebudayaan Jawa dan Nusantara yang sudah cukup lama, yang masih kental dengan tradisi Hindu-Budha dan agama Kapitayan (agama asli nenek moyang orang-orang Nusantara), Sunan Ampel secara perlahan melakukan perubahan tradisi, menggelar kegiatan-kegiatan yang bernilai islami.

3. Sosok pemimpin yang merangkul tanpa memandang kasta dan jabatan.

Sosok Raden Rahmat bukan hanya pemimpin agama tetapi juga raja (bupati).

Dua kepemimpinan yang disandangnya membuatnya bergaul dengan siapa saja dari semua kalangan.

4. Seorang guru yang mendidik dengan penuh keihklasan dalam menyampaikan ilmu kepada murid-muridnya, sehingga lahir generasi penyebar Islam ke penjuru Nusantara.

Perinsip dakwah yang disampaikan para Wali Songo seiring dengan ajaran agama yang menjunjung nilai-nilai ahlak mulia sebagaimana yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW.

Sumber: Buku SKI Kelas 6, Nur Hamiyatun dalam Jurnal Dakwatuna

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved