PPKM Darurat! Jika Ada Gejala Covid-19 Pemerintah & Nakes Anjurkan Isolasi Mandiri, Ini Kata Dokter
Dengan demikian, kurang memumpuninya rumah sakit yang menampung pasien Covid-19 ada baiknya jika kita bisa melakukan isolasi mandiri di rumah saja
Penulis: Maudy Asri Gita Utami | Editor: Maudy Asri Gita Utami
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID- Pencegahan Covid-19 harus kita lakukan bersama-sama.
Mulai dari menjaga prokes juga mematuhi peraturan yang dianjurkan oleh pemerintah dalam menjaga jarak, melakukan vaksinasi dan memutus mata rantai.
Saat ini, meningkatnya kasus Covid-19 di Indonesia membuat kita sadar bahwa evaluasi diri bersama-sama adalah hal penting yang harus kita lakukan.
Dengan demikian, kurang memumpuninya rumah sakit yang menampung pasien Covid-19 ada baiknya jika kita bisa melakukan isolasi mandiri di rumah saja jika memiliki gejala ringan.
[Update Berita Lainnya Disini]
• Beragam Manfaat Vaksin Covid-19, Mulai Dari Mengurangi Gejala Hingga Resiko Kematian
Kebijakan ini di keluarkan oleh pemerintah, agar pasien Covid-19 tanpa gejala atau yang bergejala ringan melakukan perawatan isolasi mandiri.
Ini untuk mengurangi beban rumah sakit yang diprioritaskan untuk merawat pasien bergejala sedang dan berat yang perlu perawatan intensif.
Dokter Andi Khomeini Takdir, Sp.PD (K-Psi), Dokter Spesialis Penyakit Dalam & Konsultan Penyakit Dalam Rumah Sakit Darurat COVID-19 (RSDC) Wisma Atlet menyebutkan saat ini tenaga kesehatan yang ada di RSDC Wisma Atlet, kelelahan akibat banyaknya pasien yang mesti ditangani.
“Perlu rencana mitigasi untuk menjaga masyarakat tidak jatuh sakit. Apabila masyarakat tidak sakit, maka kapasitas rumah sakit tidak akan penuh sehingga tenaga kesehatan kita tidak kelelahan merawat pasien,” terangnya dalam Dialog Produktif yang diselenggarakan KPCPEN dan disiarkan FMB9ID_IKP, Selasa kemarin, 29 Juni 2021.
Menurut dr. Andi, masyarakat jangan terlalu fokus dalam menyalahkan adanya varian COVID 19.
“Kunci dari pencegahannya adalah masker. Masker dua lapis menurut penelitian Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dikatakan mampu meningkatkan proteksi dari 60-80% menjadi 90%,” anjurnya.
• Vaksin Anak 12-17 Tahun Kapan Diberikan ? Ini Jawaban Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kemenkes RI
dr. Andi mengimbau agar pengetahuan baru ini jangan berhenti sebatas pengetahuan, tapi dijadikan kebiasaan.
Saat masyarakat mulai disiplin, dia meyakini pandemi bisa terkendali.
Terkait dengan isolasi mandiri, dr. Andi menyatakan masyarakat perlu mengetahui kiat-kiat isolasi mandiri yang benar agar kesehatannya cepat pulih.
Dia menjelaskan bahwa saat melakukan isolasi mandiri di rumah, pertama-tama pasien harus memakai masker.
Kedua, kamar harus terpisah dan pastikan jendela kamar isolasi mandiri pasien terbuka.
Dokter Andi juga menekankan bagi pasien yang menjalani isolasi mandiri harus menjaga makanan dengan gizi seimbang.
“Kalau di rumah sakit, ada dokter dan perawat yang mendukung. Saat di rumah, keluarga harus menjadi pendukung agar selera makan pasien tetap terjaga,” sarannya.
• Cegah Efek Samping Setelah Vaksin Covid-19 dengan Cara Berikut Ini, Lakukan Kompres Serta
Sebisa mungkin, lanjut dr. Andi, bagi pasien yang isolasi mandiri agar tidak mendiagnosis diri sendiri, kalau memungkinkan harus terus berkonsultasi dengan dokter.
Apabila ada gejala yang sangat semakin dirasa berat, perlu untuk menghubungi dokter.
Aktor, Ben Kasyafani yang sempat terkena COVID-19, menceritakan pengalamannya saat melakukan isolasi mandiri.
“Tahun lalu saya terkonfirmasi positif COVID-19 dan melakukan isolasi mandiri di rumah. Secara total saya melakukan isolasi mandiri di kamar sendiri selama 20 hari. Anak dan istri saya dites dan menunjukkan hasil negatif, sehingga kami memisahkan diri,” tuturnya.
“Bagi yang menjalani isolasi mandiri, kita harus terus berpikir positif. Energi kita harus fokus untuk mencari solusi dari pandemi ini. Mulailah mencari informasi mengenai COVID-19 yang benar agar kita bisa cepat mencari solusinya,” tabah Ben.
Menanggapi pernyataan Ben, dr. Andi setuju bahwa masyarakat jangan mencari kambing hitam tapi harus sama-sama mencari solusi dari kondisi seperti ini.
• Sebelum Vaksin Covid-19, Ini Makanan yang Harus Kamu Konsumsi Agar Antibodi Tetap Terjaga
Obat Covid
Covid-19 adalah penyakit baru yang dihadapi masyarakat dunia. Penularan virus corona SARS-CoV-2 penyebab penyakit ini juga kian masif, sementara vaksin yang ada juga masih terus diberikan. Angka kesakitan di dunia juga terus meningkat, tak terkecuali di Indonesia.
Berbagai daerah mulai menghadapi lonjakan kasus Covid-19 yang nyaris melumpuhkan sistem kesehatan setempat.
Di tengah peningkatan kasus positif Covid-19, pengobatan atau obat yang diberikan juga belum secara spesifik menargetkan penyakit ini.
Belum ada obat khusus untuk Covid-19, namun ada beberapa jenis obat yang diberikan sebagai terapi pengobatan untuk pasien Covid-19 yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Sebelumnya, WHO memberikan beberapa rekomendasi tentang penggunaan terapi pengobatan bagi pasien Covid-19. Sebab, Covid-19 sebagai penyakit baru, belum ada obat spesifik yang tersedia.
Lantas, apa saja obat untuk pasien Covid-19 yang direkomendasikan WHO?
Ada beberapa jenis obat terapi Covid-19 yang disarankan WHO, terdiri dari obat rekomendasi kuat hingga rekomendasi bersyarat.
1. Obat kortikosteroid
Obat untuk pasien Covid-19 ini adalah salah satu rekomendasi kuat dari WHO. Salah satu obat kortikosteroid ini adalah dexamethasone atau deksametason.
Dexamethasone adalah obat antiinflamasi yang kuat, yang dapat mengurangi durasi penggunaan ventilator dan mengurangi keparahan Covid-19.
Jenis obat kortikosteroid lainnya seperti prednison dan metilprednisolon.
WHO memberikan rekomendasi kuat penggunaan obat kortikosteroid sistemik untuk pasien Covid-19 dengan sakit parah atau kritis, dengan rekomendasi bersyarat untuk tidak menggunakannya pada pasien dengan sakit Covid-19 ringan hingga sedang.
2. Obat antikoagulan
Rekomendasi bersyarat juga diberikan WHO untuk obat antikoagulan dengan dosis rendah pada pasien Covid-19 rawat inap.
Banyak orang yang terinfeksi virus corona yang dilaporkan mengalami pembekuan darah. Obat antikoagulan digunakan di hampir semua rumah sakit, gunanya untuk membantu mencegah pembekuan darah.
Rekomendasi obat antikoagulan oleh WHO ini merupakan bagian dari pedoman manajemen klinis.
"Kami menyarankan penggunaan obat antikoagulan dosis rendah daripada dosis tinggi, kecuali dinyatakan lain," tulis WHO dalam artikel tersebut. (*)