Tips Kesehatan

Berapa Lama Antibodi Terbentuk Setelah Vaksin Covid-19? Ini Penjelasan Dokter

Saat patogen menginfeksi tubuh, pertahanan tubuh kita, yang disebut sistem imun akan menyerang dan melawannya agar tidak menimbulkan penyakit.

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ ISTIMEWA
Vaksin Covid-19 

Vaksin mengandung antigen yang sama dengan antigen yang menyebabkan penyakit.

Namun, antigen yang ada di dalam vaksin sudah dilemahkan sehingga tidak menyebabkan orang menderita penyakit seperti jika orang tersebut terpapar dengan antigen yang sama secara alamiah.

Saat vaksin sudah berhasil memproduksi antibodi khusus, saat seseorang terpapar patogen berbahaya di masa depan, sistem imun orang tersebut akan mampu segera merespons.

Khusus untuk vaksin Sinovac, CoronaVac, kekebalan atau antibodi muncul setelah 14 hari diberikan suntikan kedua.

Gejala Covid-19 Varian Delta Pada Anak Tunjukan Ruam di Kulit, Waspada Infeksi Lainnya Berikut Ciri

Perlukah tes antibodi usai vaksin?

Belakangan muncul tes antibodi setelah vaksin untuk mengetahui apakah tubuhnya sudah kebal dari serangan virus corona SARS-CoV-2.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam dr Hendra Gunawan SpPD mengatakan, pengukuran antibodi di laboratorium memang salah satu cara untuk mengetahui apakah kekebalan terhadap vaksin sudah terbentuk atau belum.

"Tetapi interpretasinya tidak bisa sembarangan," jelas dokter Hendra kepada Kompas.com, Selasa 29 Juni 2021.

Dokter yang praktik di Primaya Evasari Hospital Jakarta ini menjelaskan, tes antibodi menunjukkan hasil positif tidak hanya karena vaksin.

Namun orang yang pernah terinfeksi Covid-19 juga memiliki antibodi positif.

"Sehingga tingkat antibodi seseorang pasca vaksinasi tidak bisa diinterpretasikan secara harfiah," ungkapnya.

Dia juga mengatakan, Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) telah menegaskan bahwa teknik pengukuran antibodi terhadap virus corona SARS-CoV-2 hingga saat ini belum divalidasi penggunaannya untuk memperkirakan seberapa kebal seseorang terhadap infeksi SARS-CoV-2.

"Hal ini karena masih ada peluang negatif palsu, terutama jika menggunakan pemeriksaan antibodi tertentu yang tidak mendeteksi antibodi terhadap komponen spesifik protein target," katanya.

Negatif palsu adalah ketika hasil tes tidak mendeteksi adanya virus di saat orang tersebut sedang atau telah terpapar virus.

Dari hal tersebut, Hendra mengingatkan hingga saat ini belum ada metode yang diakui oleh para peneliti untuk mengetahui adanya kekebalan setelah divaksin atau vaksin sudah bekerja.

Vaksin Anak 12-17 Tahun Kapan Diberikan ? Ini Jawaban Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kemenkes RI

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved