Tes Genome Sequencing Varian Delta, Apa yang Harus Kita Lakukan Saat Curiga Terpapar Covid Baru?

aat curiga telah terpapar Covid-19, seringkali orang bingung harus memilih tes swab antigen atau PCR test. Apalagi di tengah kondisi kasus Covid-19 ya

TRIBUNPONTIANAK/Destriadi Yunas Jumasani
Satgas Covid-19 Kalbar melakukan pemeriksaan terhadap para penumpang KM Lawit yang tiba dari Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta, di Pelabuhan Dwikora, Jalan Pak Kasih, Pontianak, Kalimantan Barat, Senin 1 Februari 2021. Dalam pemeriksaan tersebut tim melakukan swab PCR acak secara acak terhadap 50 orang penumpang 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID- Banyak varian virus baru yang sudah menular di lingkungan kita.

Menjaga prokes adalah hal penting kita lakukan agar tidak terpapar virus Covid-19.

Jika kita mengetahui sudah terpapar Covid atau tubuh memberikan sinyal covid, apa saja hal yang harus kita lakukan?

Dikutip dari Kompas.com, saat curiga telah terpapar Covid-19, seringkali orang bingung harus memilih tes swab antigen atau PCR test. Apalagi di tengah kondisi kasus Covid-19 yang terus meningkat saat ini.

Varian Delta yang lebih menular, diyakini bertanggung jawab atas peningkatan kasus Covid-19 yang terjadi di Indonesia.

[Update Berita Lainnya Disini]

Varian Baru Delta Covid-19 Lebih Cepat Menular dan Cenderung Menyerang Pasien di Bawah Usia 18 Tahun

Bahkan, varian yang awalnya ditemukan di India ini kian meningkatkan risiko penularan Covid-19 hingga peningkatan perburukan penyakit.

Kondisi ini membuat orang khawatir, apakah dirinya terpapar virus corona atau tidak.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Primaya Hospital Pasar Kemis, dr. Kiki Maharani, Sp.PD menjelaskan bahwa penularan virus corona dari varian Delta, sebenarnya sama seperti Covid-19 biasa.

"Hanya dia (varian Delta) lebih massif dan responsif, terutama secara klinis, dan lebih cepat terjadi perburukan. Baik pada orang yang punya komorbid atau tidak ada komorbid, tetapi tentu yang punya komorbid lebih agresif," ungkap dr Kiki, Sabtu 26 Juni 2021.

Untuk bisa mengetahui seseorang terinfeksi varian Delta atau tidak, maka diperlukan pemeriksaan khusus dengan genome sequencing.

Vaksin Tanpa Syarat Domisili Nih ! Kemenkes Terbitkan Surat Edaran Hapus Syarat KTP Domisili Vaksin

"Kalau secara umum, pemeriksaan (tes Covid-19) sama, seperti virus Covid-19 pada umumnya," kata dr Kiki.

Dr Kiki menegaskan bahwa gold standar tes Covid-19 tetaplah melalui Reverse-transcriptase Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) menggunakan teknis tes usap atau swab.

"Sedangkan tes antigen untuk mengetahui apakah kita positif atau negatif Covid-19 secara cepat, karena hanya dengan waktu 15 sampai 30 menit bisa langsung mengetahui hasilnya," jelas dr Kiki.

Sedangkan tes PCR, hasil tes Covid-19 membutuhkan waktu yang lebih lama, bisa 24 jam atau lebih.

Namun, saat curiga terpapar Covid-19 dari seseorang yang positif terinfeksi virus corona, maka minimal tes swab antigen bisa dilakukan.

Kendati demikian, dr Kiki mengatakan bahwa tes antigen atau swab antigen juga memiliki kekurangan.

"Misalnya virus sedang sangat aktif, maka (dengan tes antigen) itu bisa terdeteksi. Tapi hasilnya juga bisa false positif atau false negatif," papar dr Kiki.

Apa Gejala Mata Kering Berkaitan dengan Covid-19 ?

Namun, saat hasilnya negatif, tetapi orang tersebut memiliki gejala Covid-19 yang dicurigai, seperti demam, anosmia dan gejala lainnya, maka gejala-gejala ini perlu dikonfirmasi dengan tes PCR.

"Memang tidak semua pasien dilakukan tes PCR, karena dari segi biaya mahal dan waktunya lama," imbuhnya.

Jadi, tes swab antigen atau PCR test yang harus dilakukan?

Dr Kiki mengatakan apabila merasakan pernah kontak erat dengan orang yang positif Covid-19, maka ia menyarankan agar melakukan isolasi mandiri.

Sebelum Vaksin Covid-19, Ini Makanan yang Harus Kamu Konsumsi Agar Antibodi Tetap Terjaga

"Tapi kalau baru saja bertemu orang yang positif Covid-19, lalu langsung melakukan tes swab antigen, bisa saja hasilnya negatif," ungkap dr Kiki.

Hal ini bisa terjadi karena pada saat itu, paparan virus corona terhadap tubuh belum terbentuk.

Lebih lanjut dr Kiki menyarankan bahwa sebaiknya tes antigen dapat dilakukan setelah 5-7 hari berikutnya.

Sebab, masa inkubasi virus corona dalam tubuh berkisar antara 5-7 hari. Dr Kiki menjelaskan setelah masa inkubasi tersebut, maka barulah bisa dilakukan tes antigen.

"Kalau hasilnya negatif, tetapi ternyata muncul gejala-gejala, seperti demam, batuk-batuk kering, eugesia atau lidah tidak bisa merasakan makanan, atau anosmia, maka itu harus waspada dan perlu dikonfirmasi dengan PCR test," jelas dr Kiki. (*)

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved