Ahli Epidemiologi Sarankan Tiga Cara Bentuk Herd Immunity Covid-19

Menurut Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Prof Amin Subandrio, pada konferensi pers BNPB pada 12 Maret 2021 menyatakan, bahwa salah satu cara y

Penulis: Muhammad Rokib | Editor: Hamdan Darsani
TRIBUN PONTIANAK/Muhammad Rokib
Ketua Tim Pengkajian ilmiah Poltekkes Kemenkes Pontianak, Dr. Malik Saepudin, SKM, M. Kes saat di wawancara wartawan Tribun di Poltekkes Kemenkes Pontianak, Kalbar. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Wabah pandemi covid-19 hingga kini sudah melebihi usia satu tahun, namun belum ada tanda-tanda pandemi akan berakhir, bahkan pada tiga bulan terakhir terjadi peningkatan yang signifikan.  

Dengan demikian, harus ada upaya yang ditempuh untuk mengakhiri pandemi, satu diantaranya adalah dengan membentuk herd immunity atau kekebalan kelompok.

Sebagimana hal tersebut disampaikan oleh Ahli Epidemiologi sekaligus ketua tim kajian ilmiah Covid-19 Poltekkes Kemenkes Pontianak dan Ketua Muhmamadiyah Covid-19 Command Center (MCCC) Kalimantan Barat, Dr. Malik Saepudin SKM,M.Kes.

Tinjau Vaksinasi Massal Usia 18, Sutarmidji Sebut Satgas Covid Akan Jemput Bola Sampai ke Tingkat RT

Cara bentuk Herd Immunity Covid-19. Menurut Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Prof Amin Subandrio, pada konferensi pers BNPB pada 12 Maret 2021 menyatakan, bahwa salah satu cara yang ditempuh untuk mengakhiri pandemi adalah dengan membentuk herd immunity atau kekebalan kelompok harus mencapai 70-80 persen dari populasi harus dibuat kebal.  

Dalam sebuah permodelan data, butuh sekitar 180 juta orang di Indonesia mendapat kekebalan COVID-19 untuk bisa membentuk herd immunity. 

Minimal tiga cara dalam membentuk kekebalan terhadap virus Corona. Pertama yakni menkonsumsi makanan sehat dan vitamin, oleh raga teratur, dan menghindari stres, serta ibadah yang baik dalam menjaga dan meningkatan kekebalan tubuh. 

Kemudian yang kedua adalah dengan membiarkan suatu populasi terkena virusnya sendiri sehingga terjadi imunitas alami atau kekebalan alamiah, setelah sembuh dari infeksi Covid-19.

(Update Informasi Seputar Kota Pontianak)

Akan tetapi cara ini tidaklah etis diterapkan, semakin banyak yang sakit, maka semakin banyak yang meninggal dunia yaitu 3% atau terdapat 3 kematian setiap 100 penderita.

Selain itu, durasi waktu pandemi menjadi semakin lama yang menyebabkan jumlah kasus dan kematian akan meningkat, mengkuti pola kurva normal yang pada saat ini tidak ada yang mengetahui kapan terjadinya puncak gelombang ke dua ini dan kapan akan berkhir. 

Bisa jadi terdapat gelombang berikutnya yaitu gelombang ke-3, sejalan dengan respon penduduk dalam menghadapi pandemi Covid-19 ini, semakin longgar protokol kesehatan, maka semakin lama durasi pandemi dan berampak terhadap mutasigenik virus yang dinamis yang tidak mungkin bisa dikontrol.  

Seperti terajdinya 4 varian baru virus COVID-19 yaitu B.117 (alfa) asal Inggris, kemudian B.1351(beta) asal Afrika Selatan, P1 (gama) asal Brazil dan varian mutasi ganda dari India B. 1617 (delta) yang nyatanya semakin ganas dan cepat penularannya. 

Angka Hunian Pasien COVID-19 di Pontianak Masih Tinggi, Handanu Sebut Pemkot Gencar Vaksinasi

Sedangkan cara yang ketiga adalah cara yang paling baik yaitu vaksinasi untuk membentuk herd immunity.

Pembentukan herd immunity, merupakan kondisi yang ideal untuk menghentikan transmisi atau penularan dari SARS-Cov2 atau COVID-19 dengan minimal 70 persen penduduk itu harus punya immunity atau dengan kata lain program vaksinasi minimal harus mencapai 70 persen dari jumlah penduduk harus divaksin yaitu sekitar 181,5 juta warga.

Namun saat ini pelaksanaannya masih jauh, jadi tidak mungkin herd immunity terjadi sendirinya tanpa vaksinasi. Vaksinasi Covid-19 baru mencapai 27,56 persen, jauh dari persayaratan terbentuknya herd imunity yaitu jika sudah mencapai 70-80 persen. 

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved