Mutiara Ramadhan - Puasa dan Latihan Memimpin Diri
Dari perspektif syariah, puasa (termasuk juga puasa ramadan) adalah ibadah yang paling kecil modalnya tetapi berat melakukannya.
Penulis: Muhammad Luthfi | Editor: Try Juliansyah
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SAMBAS - Ibadah puasa ramadan dibanding dengan ibadah lain dalam rukun Islam memang sangat spesifik. Dari segi teks ayat yang menjadi dasar kewajibannya QS.Al-Baqarah: 183, hanya memuat tentang siapa yang diperintah melaksanakannya, apa yang diperintahkan dan apa yang menjadi tujuannya.
Begitu pula dalam ayat-ayat selanjutnya QS. Al-Baqarah: 184; 185; dan 187 berisikan tentang tata cara kemudahan melaksanakannya, dan sememangnya Allah SWT hanya menghendaki kemudahan bukan kesukaran.
Demikian pula tak satupun dari ayat-ayat tersebut bicara soal hukuman bagi yang tidak melaksanakan kewajiban itu, Dia hanya menyatakan bahwa berpuasa lebih baik bagimu, seandainya kamu mengetahui.
Dari perspektif syariah, puasa (termasuk juga puasa ramadan) adalah ibadah yang paling kecil modalnya tetapi berat melakukannya. Cukup dengan niat berpuasa, lalu menjaga diri dari hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar sampai terbenam matahari. Melaksanakannya tentu sebagai bukti ketundukan syari kepada Allah SWT.
Baca juga: Doa Buka Puasa Ramadhan Sesuai Sunnah dan Artinya, Baca Sebelum Santap Menu Buka
Berbeda jika melihatnya dari perspektif pendidikan (tarbiyyah), puasa di bulan ramadan penuh dengan nuansa pendidikan, sebab itu dia disebut sebagai syahru al tarbiyyah (bulan pendidikan).
Ada pula yang menyebutnya sebagai bulan latihan, bulan dimana kita dapat melatih dan mempersiapkan diri untuk bisa survive dan sukses menghadapi hidup 11 (sebelas) bulan ke depan, bahkan untuk sepanjang hidup kita.
Dalam konteks ini, yang berkepentingan adalah pelaku (yang berpuasa). Maka si pelakulah yang berusaha untuk memanfaatkan kewajiban suci ini untuk kepentingan dirinya.
Perspektif pendidikan tidak hanya melihatnya dari segi pelaksanaan kewajiban apalagi sekedar menggugurkan hukum dan tidak pula hanya untuk mencari pahala (upah), tetapi lebih kepada mencari hikmah.
Hikmah terbesar dari puasa ramadhan adalah belajar memimpin diri. Rasulullah Saw., telah menyatakan bahwa tiap kamu adalah pemimpin, dan tiap pemimpin akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Dimana pun, jika kita bicara masalah pertanggungan jawaban, ia harus benar dan baik.
Benar, yaitu harus sesuai mekanisme administrasinya dan baik karena harus sesuai dengan substansi atau materialnya. Dalam istilah agama, dapat dikatakan benar jika sesuai syariatnya, dan baik karena sampai pada hakikatnya.
Untuk itu setiap pemimpin harus memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk dapat mempertanggungjawabkan kepemimpinannya secara benar dan baik.
Puasa ramadan adalah ibadah yang tepat untuk kita belajar memimpin diri dan sekaligus belajar mempertanggungjawabkan kepemimpinan secara benar dan baik. Ibadah ini sangat private bahkan secret. Ibadah ini ada tapi tak nyata.
Tak seorangpun yang dapat mengklaim orang lain berpuasa, karena sesungguhnya yang benar-benar tahu bahwa seseorang sedang berpuasa adalah dirinya dan Allah. Yang tahu bahwa kita berpuasa adalah diri kita sendiri dan Allah sebagai zat yang Maha Mengetahui.
Syariatnya sangat mudah, karena hanya niat dan menjaga diri agar tidak batal sejak terbit fajar hingga tergelincir matahari. Tetapi hakikatnya yang berat, yaitu menjaga substansinya. Hakikatnya yang akan membuat kita terus terjaga agar tidak terlena pada sifat negatif seperti sifat curang, berdusta, tidak sabar, gambang putus asa, selalu berprasangka buruk, lemah, lengah, kurang empati pada orang lain dan sebagainya.
Baca juga: Budayakan Tradisi Ramadhan, Forum Sampan Beting Permai Lakukan Pemasangan Pelite Keriang Bandong
Sehingga yang muncul adalah sikap dan sifat positifnya. Sifat-sifat positif itulah yang diperlukan oleh seorang pemimpin. Seorang pemimpin memerlukan setidaknya 3 (tiga) kekuatan, yaitu fisikal, mental-spritual dan rasional.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/muhammad-rahimi-staf-pengelola-keuangan-iain-pontianak.jpg)