Punya Asam Lambung Boleh Puasa ? Tips Meredakan Asam Lambung Ketika Puasa
Dia bisa mendapat keistimewaan Ramadan, dengan mengerjakan keaikan-kebaikan lain, seperti membaca Al-Quran, zikir dan selawat.
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Puasa merupkan satu di antara Rukun Islam, maka setiap Muslim wajib berpuasa Ramadhan.
Namun ada beberapa golongan yang boleh tidak berpuasa, dikerenakan beberapa sebab, satu di antaranya karena sakit, namun ia wajib mengganti puasanya diluar bulan Ramadhan.
Lantas bagaimana seseorang yang menderita asam lambung, apakah boleh berpuasa ?
Jika kondisi tubuh memungkinkan maka boleh saja berpuasa.
Nah, bagi kamu yang mempunyai riwayat asam lambung dan tetap berpuasa berikut beberapa tips meredakan atau mencegah asam lambuk naik saat puasa.
Baca juga: Buah yang Tidak Boleh Dimakan Penderita Asam Lambung, Berikut Daftar Cemilan yang Cocok
Penyebab asam lambung naik saat puasa bisa karena perubahan keseimbangan kadar asam di perut.
Ahli gastroenterologi berbasis di California AS, Peyton Berookim, MD menjelaskan, dalam kondisi perut kosong dan tidak ada asupan yang dicerna, asam lambung bisa naik.
"Makanan saat dicerna dalam perut dapat menyerap asam.
Saat tidak ada yang dicerna, asam lambung bisa menumpuk, memicu sakit perut, atau asam lambung naik kembali ke kerongkongan," jelas dia, seperti dilansir Live Strong.
Tak hanya saat puasa, orang juga bisa merasakan gejala asam lambung naik setelah bangun tidur dalam kondisi perut kosong.
Jika Anda kerap merasakan asam lambung naik saat puasa, coba untuk memodifikasi cara makan, minum, tidur, dan menjaga berat badan tetap ideal.
Baca juga: Tips Puasa Bagi Penderita Gerd, Asam Lambung Tak Kambuh Selalu Bugar Saat Puasa
Melansir berbagai sumber, berikut cara mengatasi asam lambung saat puasa:
1. Makan dalam porsi kecil, sering, dan kunyah perlahan
Saat berbuka puasa, penderita maag atau gangguan lambung usahakan tidak langsung tancap gas untuk makan besar.
Siapkan perut untuk pemanasan dengan makan takjil sehat, sup, atau kurma.
Setelah itu, baru siapkan perut untuk makan utama. Namun, hindari makan berlebihan.
Ambil setengah porsi makan utama agar perut tidak penuh. Kondisi perut yang terlalu penuh juga bisa mendorong asam lambung naik kembali dari perut ke kerongkongan.
Makan dalam porsi kecil tapi sering dan dikunyah perlahan-lahan lebih disarankan bagi pemilik gangguan lambung.
2. Hindari asupan pedas, asam, berlemak, dan kafein
Beberapa makanan dapat memicu asam lambung baik. Di antaranya mint, makanan berlemak tak sehat, makanan pedas, dan makanan terlalu asam. Coba hindari makanan tersebut.
Minimalkan juga minuman berkafein seperti kopi, teh, cokelat. Dengan pantang mengonsumsi beberapa makanan dan minuman tersebut, asam lambung dapat dikontrol.
3. Atur waktu makan
Kelar santap sahur langsung tidur atau tidur terlalu dekat dengan waktu makan juga bisa memicu asam lambung. Coba atur waktu makan agar tidak berdekatan dengan jadwal tidur.
Setelah sahur, Anda tidak disarankan langsung tidur karena dalam posisi tubuh duduk atau berdiri, gravitasi dapat membantu asam lambung tetap berada di perut.
Demikian juga saat makan makan setelah berbuka puasa. Atur waktu makan dua jam atau tiga jam sebelum tidur.
4. Tidur dengan posisi tubuh bagian atas lebih tinggi
Tubuh bagian atas termasuk kepala Anda perlu disangga agar posisinya lebih tinggi ketimbang kaki.
Gunakan bantal atau penyangga setinggi enam atau delapan inchi untuk menopang tubuh bagian atas. Ketinggian tersebut sudah ideal.
Usahakan bantal tidak hanya menyangga kepala. Tapi bisa menopang keseluruhan tubuh bagian atas.
Baca juga: Tips Puasa bagi Penderita Asam Lambung ! Persiapan Menyambut Ramadan 2021
5. Jaga berat badan tetap ideal
Menjaga berat badan tetap ideal penting untuk mencegah penyakit lambung kambuh.
Saat berat badan Anda naik, struktur otot yang menyokong esofagus bisa menyebar atau mengembang. Sehingga, kinerja otot klep esofagus yang mengatur asam lambung tetap terjaga di perut bisa terganggu.
Kondisi ini menyebabkan asam lambung bisa baik ke kerongkongan.
Bolehkah Sakit dan Tidak Puasa ?
Melansir Tribunnews.com, Ustaz M. Farid Firdaus S.Pd.I, Anggota Komisi Fatwa MUI Kabupaten Bogor juga Pengasuh Ponpes Darul Ma'arif Kemang Bogor menjelaskan untuk orang sakit, di dalam kitab Ar-Risalah Al Jami'ah menjelaskan di mana ada 8 golongan orang yang boleh buka puasa.
Di antaranya orang yang sakit dan di kemudian hari harus menqadha puasanya.
Dia bisa mendapat keistimewaan Ramadan, dengan mengerjakan keaikan-kebaikan lain, seperti membaca Al-Quran, zikir dan selawat.
Dia bisa mendapatkan fadilah bulan Ramadan. Jadi, fadilahnya tidak hilang karena dia ada uzur tadi.
Delapan golongan yang boleh tidak berpuasa selain sakit, ada orang gila, musafir, wanita sedang haid, nifas, ibu menyusui, hamil, dan orang sangat tua sekali.
Untuk musafir atau yang sedang bepergian, bisa tidak berpuasa jika jarak perjalanannya sekitar 98 kilometer. Itu ukurannya.
Di jarak tersebut seseorang diperbolehkan melakukan salat jamak atau qashar untuk mengganti salat wajib, dan diperbolehkan untuk berbuka puasa.
Lalu mana yang lebih utama, berpuasa atau tidak? Kalau dia kuat lebih baik bepuasa, tapi kalau tidak kuat karena ada keringanan yang Allah berikan, silakan tidak berpuasa.
Sebagian artikel ini telah tayang di Kontan.co.id dengan judul 5 Cara meredakan asam lambung naik saat puasa
(*)
.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/ilustrasi-asam-lambung.jpg)