Ramadan Bulan Umat Muhammad 

Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak, Dr Syarif, S.Ag, MA mengatakan bulannya umat Muhammad itu adalah ramadan, puasa di dalamnya pun d

Penulis: Muhammad Luthfi | Editor: Hamdan Darsani
TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Rektor IAIN Pontianak Dr Syarif, S.Ag., MA. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SAMBAS - Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak, Dr Syarif, S.Ag, MA mengatakan bulannya umat Muhammad itu adalah ramadan, puasa di dalamnya pun ditetapkan.

Bermula dari hadis “al-rajába syahrullâh wa sya’bana syahrî wa ramadhâna syahru ummatî — rajab itu bulan Allah, sya’ban bulanku, dan ramadhan bulan ummatku”. Pada tanggal 12 rajab jasad kenabian Muhammad mula dikandungkan, yakni pertemuan sprema Abdullah bin Abdul Muthallib dengan ovom Siti Aminah gerjadi pada tanggal 12 rajab itu. Apa hubungannya dengan bulan Allah?

Ialah pada hari pertama itu pula lah Nur Allah sebagai ruhaniah jasadnya kenabian Muhammad itu sebagai Nûr Kamâlnya Allah berpindah dari balik kiswah ke dalam rahim Aminah. Pada saat itulah seluruh kursi kerajaan di permukaan bumi (karâsiyu al-akâsirah) terbalik, api majusi yang telah nyala ribuan tahun padam, dan hewan-hewan bisa bicara fashih berbahasa Arab.

Hewan-hewan bisa bicara fashih berbahasa Arab. Hewan-hewan itu keliling jazirah saat itu dan mengumumkan “hai bani hasyim hai orang-orang Quraisy hari ini Aminah telah mengandukan SIRRULLÂH, sirru al-insân, dan sirru baitilláhi al-harâm”.

Baca juga: Puasa dan Ketenangan Jiwa

Pada ungkapan inilah diketahui tentang bahwa Muhammad Saw yang jasadnya dikandung ibundanya itu adalah rahasia Allah, rahasia manusia dan rahasia baitullah yang mulia.

Pada Nabi Muhammad SAW-lah rahasia Allah. Karena sejatinya yang masuk ke calon jasad saat itu adalah Nûr Kamâlnya Allah. Artinya yang masuk ke dalam jasad kenabian itu bukan ruh. Tetapi beliau sendiri mengatakan “Anâ abu al-arwâh wa âdama abu al-basyar - Aku bapaknya para ruh dan Adam bapak segala tubuh”. Dialah sang bapak para ruh itu adalah Nûr Allah. Nanti ada kaitannya dengan mengapa hanya dia satu-satunya yang bergelar “shallallâhu ‘alaihi wasallan (SAW)”.

Wa sya’bana syahrî - dan sya’ban itu bulanku. Disebut bulannya Muhammad Saw oleh karena pada bulan sya’ban inilah isra’-mi’raj diceritakan. Inti terpenting dalam kisah isra’-mi’raj ini adalah pada saat Nabi Muhammad Saw samapi di mustawa.

Dikisahkan dalam kitab hadis Bukhari-Muslim bab kaifiyatu furidhati al-shatâti, bahwa sesampainya Muhammad Saw di Mustawa, beliau belambai dua malaikat Jibril-Mikail untuk menghampirinya. Tetapi Jibril-Mikail berujar “Demi Allah wahai Muhammad tidak ada hak aku di tempat itu. Sehelai rambut saja aku melangkah maka aku akan hangus”. 

Intinya dari peristiwa ini dapat dinyatakan bahwa pertama, ternyata yang dilihat Jibril-Mikail di mustawa itu tidaklah Allah melainkan Nabi Muhammad Saw. Kedua, peristiwa ini menggambarkan tentang ketinggian derajat Nabi Muhammad Saw dan kedekatannya dia dengan Allah

Dan kaitannya dengan bahwa dialah Muhammad Saw sebagai wasilah kepada Allah. Dialah yang dimaksud oleh Qs al-Mâidah/5:35 “Hai orang-orang yang beriman (si iman dalam dada) bertakwalah kepada Allah, carilah wasilah kepada-Nya”. Dengan kedudukannya Nabi Muhammad Saw yang diceritakan pada bulan sya’ban inilah, maka bulan sya’ban disebut bulannya Muhammad Saw.

Wa ramadhána syahru ummatî — ramadan bulan ummatku. Di bulan umat Muhammad difardhukan untul ber-shiyâm (Puasa-red) sebulan penuh. Apa istimewanya? Kita simak syair ini. "Tidak sekedar makan-minum ditahan, Ialah itu hanyalah latihan, akan hawa-nafsu mukmin mempuasakan. Darinya jiwa hendak dibersihkan”.

Dari segi hikmah atau kemanfaatan bagi umat Muhammad yang menjalankan puasa dengan benar dapat dijelaskan bahwa, puasa itu tidak sekedar tidak makam dan tidak minum. Tidak makan dan tidak minum dari terbit fajar hingga terbenam matahari itu namanya adalah imsâk.

Adapun Shiyâm disebutkan ialah mukmin mempuasakan hawa-nafsu. Maksudnya mukmin menahan diri untuk tidak bertindak dan berkata dengan mereferensikan hawa-nafsu. Hawa-nafsu itu penulis menyebutnya hawa-nafsu-dunia-setan (HNDS).

HNDS inilah insân, dan insân inilah jiwa yang hendak dibersihkan dengan amalaiah shiyâm. Hawa adalah sifat pantang kelintasan, nafsu sifat pantang kerendahan, dunia sifat pantang kekurangan, setan sifat pantang kalah. Empat sifat inilah biang dari tigabelas maksiat batin. Empat sifat ini terhimpun pada dua sifat yaitu nafs ammârah dan nafs lawwâmah.

Nafs ammárah seperti diterangkan dalam Qs Yûsuf/12:53 adalah senyawa nafsu (sifat pantang kerendahan) dan setan (sifat pantang kalah). Wujud nafs ammârah ialah sifat emosional, mudah marah, dan mudah tersinggung.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved