Diskes Kalbar Minta Daerah Evaluasi PTM, Harison Sebut Kalbar Belum Zona Aman Membuka Sekolah
Maka dari itu ia meminta untuk semua daerah yang ingin melaksanakan pembelajaran tatap muka SD/SMP harus melakukan evaluasi dan juga melihat kondisi p
Penulis: Anggita Putri | Editor: Hamdan Darsani
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat, Harisson mengatakan bahwa Kalbar belum layak dinyatakan zona aman untuk membuka sekolah tatap muka.
Maka dari itu ia meminta untuk semua daerah yang ingin melaksanakan pembelajaran tatap muka SD/SMP harus melakukan evaluasi dan juga melihat kondisi penyebaran covid-19 di daerah masing-masing.
Sebelumnya telah dulu Kota Pontianak membuka PTM SD/SMP. Selanjutnya Pemkot Singkawang sebanyak 20 sekolah ditingkat SD dan SMP telah memulai pembelajaran tatap muka (PTM) sejak Senin 8 Maret 2021 kemarin.
Menanggapi rencana tersebut, Harisson harap Pemkot Singkawang berhati hati dalam memutuskan PTM di sekolah.
Baca juga: Harisson Ingatkan Kota Pontianak untuk Evaluasi Belajar Tatap Muka SD/SMP Dengan Swab PCR
“Singkawang sudah memiliki laboratorium PCR sendiri, kemarin mereka mengirimkan laporan bahwa diantara 38 sampel yang diperiksa ada 5 sampel yang positif atau sekitar 13,15 persen,” jelasnya.
Harisson mengatakan bahwa penambahan kasus konfirmasi COVID-19 diakhir-akhir ini telah ditemukan kasus konfirmasi dengan viral load tinggi.
Sebagai gambaran, ada satu keluarga di Kota Pontianak semua sedang tertular covid-19, dimana anaknya yang berumur 5 tahun dengan kandungan CT nya 14,99 dengan VL 12 juta. Lalu abangnya berumur 7 tahun CT nya 26,70 dengan viral load 45 ribu.
“Anaknya ini tanpa gejala, tetapi dia tentu akan menularkan ke orang lain disekitarnya bila tidak diisolasi,” ujarnya kepada Tribun Pontianak, Kamis 11 Maret 2021.
Dari kasus tersebut dikatakannya bisa saja nanti diantara anak murid atau guru ada yang sedang tertular covid 19 dengan viral load yang tinggi yang dapat dengan cepat menularkan virusnya.
“Anak ini sebelumnya tidak kita ketahui status covid-19 nya karena tidak kita lakukan pemeriksaan sebelumnya, dan dia tanpa gejala. Ini sangat berbahaya untuk murid dan guru disekolah yang melaksanakan PTM,” tegasnya.
Hal ini menjadi salah satu contoh dan bisa menjadi bahan pertimbangan daerah yang ingin membuka sekolah untuk pelaksanaan belajar tatap muka.
“Kasus konfirmasi aktif per hari ini masih 560 orang yang tersebar di Kalbar, sebenarnya Kalbar belum layak dinyatakan zona aman untuk anak sekolah,” ujarnya kepada Tribun Pontianak.
Ia menegaskan perlu kehati-hatan pemerintah kabupaten kota untuk mengambil keputusan memperbolehkan SD/SMP melaksanakan PTM, karena tetap yang harus diutamakan adalah keselamatan dan kesehatan peserta didik.
“Jadi saya harap bagi pemerintah kabupaten kota yang sudah melaksanakan PTM agar tidak semua sekolah dibuka sekaligus,” tegasnya.
Ia mengatakan seharusnya dilakukan uji coba dulu kepada beberapa sekolah dan dipantau dalam satu sampai dua minggu lakukan evaluasi dengan pemeriksaan Swab PCR untuk melihat apakah ada keterjangkitan di sekolah tersebut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/harison-lagi-cuku.jpg)