Mgr Agustinus Larang Orang Muda Katolik Ikuti Praktik Ilmu Kebal
Mgr Agustinus Agus melarang orang muda Katolik mengikuti praktik ilmu kebal. Ia meminta agar kaum muda tak melupakan pendidikan, serta menata ekonomi.
Penulis: Stefanus Akim | Editor: Stefanus Akim
“Beberapa waktu lalu, ketika Tribun memuat kritik saya terkait aktivitas dan praktik ilmu kebal, ada sejumlah orang yang mau ketemu saya. Silahkan. Kalau dia orang Katolik. Ini adalah tugas uskup untuk menjaga iman Katolik, tapi di luar Katolik bukan urusan saya,” katanya.
“Ini sungguh pembodohan, contohnya ketika gawai ada 400 orang pamer kebal di lapangan terbuka dan jalan-jalan, padahal perutnya kosong. Enggak dikasih makan bersungut-sungut pula, jangan-jangan nanti nodong Bupati minta makan,” katanya.
Misionaris Buka Sekolah
Dalam kesempatan itu Mgr Agustinus mengatakan, jika 100 tahun yang lalu saat Gereja Katolik masuk ke Kalimantan Barat yang dibawa bukan mengajar orang ilmu kebal. “Hal yang pertama dilakukan oleh para missionaris adalah membuka sekolah supaya orang pintar. Buka rumah sakit supaya orang sehat. di Sejiram, Kapuas Hulu bawa bibit karet supaya ekonomi masyarakat baik. Itulah semangat Katolik yang diwariskan sedari zaman missionaris,” kata dia.
Terkait aktivitas dan praktik ilmu kebal di kalangan muda, Mgr Agustinus sekali lagi menegaskan bahwa Keuskupan Agung Pontianak bersama para imam sudah mengambil sikap. “Karena kalau ini dibiarkan maka kasian anak-anak generasi muda,” katanya.
Uskup Agus juga mengatakan manusia tidak bisa hidup karena dirinya sendiri, tapi manusia hidup membutuhkan orang lain. “Untuk itu saya pribadi sebagai tokoh, berusaha membangun relasi dengan para pejabat baik itu Katolik dan non-Katolik dan yang paling penting bukanlah soal perbedaan, tapi kita adalah sama-sama warga Indonesia. Sebagaimana yang saya coba hayati yaitu menjadi 100% Katolik, 100% Indonesia dan 100% Dayak, ini bisa dilakukan,” pungkasnya.
Sementara itu Bupati Sanggau, Paolus Hadi, mengatakan penting sekali bagi ISKA berbenah dari dalam untuk melihat kondisi-kondisi perkembangan zaman demi generasi yang berkualitas di masa depan.
“ISKA sebagai kaum cendikiawan haruslah mewariskan semangat intelektual yang berkualitas dan mampu bersaing,” kata Paolus Hadi. *