Mgr Agustinus Larang Orang Muda Katolik Ikuti Praktik Ilmu Kebal

Mgr Agustinus Agus melarang orang muda Katolik mengikuti praktik ilmu kebal. Ia meminta agar kaum muda tak melupakan pendidikan, serta menata ekonomi.

Penulis: Stefanus Akim | Editor: Stefanus Akim
IST/Komsos KAP
RAMAH TAMAH - Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus saat mengisi malam ramah tamah pelantikan pengurus ISKA Kalbar, Jumat (26/2/2021) malam. 

LAPORAN: Samuel | Komisi Komsos Keuskupan Agung Pontianak

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SANGGAU - Mgr Agustinus Agus melarang orang muda Katolik mengikuti praktik ilmu kebal. Ia meminta agar kaum muda Katolik tak melupakan pendidikan, serta menata ekonomi. Hal itu ditegaskan Mgr Agustinus saat sesi ramah tamah bersama Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA), Jumat (26/02/2021) malam.

Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus, mengisi sesi malam ramah tamah dalam rangka pengukuhan DPD ISKA Provinsi Kalimantan Barat, DPC ISKA Kabupaten Sanggau, Kabupaten Sekadau, dan Kabupaten Ketapang di Aula Santa Maria Laverna Sanggau.

Acara tersebut dihadiri sekitar 40 hingga 60 pengurus dan anggota ISKA. Termasuk hadir pula Bupati Sanggau Paolus Hadi, Sekda Kalimantan Barat AL Leysandri dan berbagai tokoh politik, birokrat, dan lainnya.

Selain menenguhkan dan menguatkan anggota ISKA, Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus juga mendukung gerakan ISKA dalam memperbaiki daerah dengan cara dan khasnya sebagai kaum cendikiawan atau intelektual.

Sebagai tokoh Katolik Mgr Agustinus juga mengharapkan agar semua anggota melihat perubahan-perubahan tanda-tanda zaman.

Dalam pertemuan malam ramah tamah itu, Mgr Agus mengingatkan kepada semua tokoh yang hadir, bahwa kaum berjubah memiliki tugas sebagai pengganti Kristus. Sedangkan sebagai perpanjangan tangan Kristus maka ada tiga hal pokok yaitu panggilan sebagai imam, raja, dan nabi.

Mgr Agustinus Agus menjelaskan bahwa panggilan pertama sebagai imam yaitu untuk menguduskan. Sedangkan tugas pokok yang kedua adalah sebagai raja yang artinya dipanggil menjadi gembala dan pemimpin. ”Sedangkan yang ketiga adalah panggilan menjadi seorang nabi, artinya setiap imam dipanggil untuk mampu mengatakan hal yang benar dan mampu membaca tanda-tanda zaman,” katanya.

Larang Politik Praktis
Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus dalam forum singkat malam itu juga menyoroti kondisi pandemi covid-19. Ia mengatakan manusia tidak bisa hidup sendiri. “Artinya, siapapun dan dari manapun orang itu berasal, mereka tidak bisa hidup sendiri,” ujar Uskup Agung.

Dikatakan, sebagai tokoh agama Katolik, ia mengimbau para biarawan-biarawati, para imam agar tidak mengikuti politik praktis. Dalam konteks ini, Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus menegaskan bahwa para imam harus bersikap netral dan independen atau tidak terikat agar tujuannya dalam menggembalakan umat tersampaikan.

“Jangankan milih calon, untuk minta orang milih Tuhan saja kita tidak berhak, meskipun kita tahu bahwa Tuhan itu Maha Baik. Tapi kan tergantung orang, untuk itu para imam dan biarawan-barawati dilarang mengikuti politik praktis,” kata Mgr Agus.

Dalam kesempatan itu Mgr Agus juga menyampaikan bahwa untuk memajukan sebuah peradaban bagaimanapun harus melalui pendidikan. Ia mengatakan tanpa pendidikan mustahil orang-orang daerah bisa bersaing dengan orang lain.

Uskup Agus juga mengajak para cendikiawan Katolik untuk mulai melihat dan mempersiapkan generasi-generasi muda sebagai bibit sumber daya yang unggul di daerah.

Menindaklanjuti hal tersebut, langkah konkrit yang dilakukan Keuskupan Agung Pontianak adalah mengambil alih kelola STKIP Pamane Talino Landak. Saat ini bahkan juga mengelola Yayasan Akbid dan Akper Dharma Insan.

Akbid dan Akper Dharma Insan saat ini dikelola langsung oleh Keuskupan Agung Pontianak lewat Yayasan Landak Bersatu. “Harapannya untuk mempersiapkan kader-kader intelektual muda yang berkualitas,” kata Mgr Agustinus.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved