Mgr Agustinus Larang Orang Muda Katolik Ikuti Praktik Ilmu Kebal
Mgr Agustinus Agus melarang orang muda Katolik mengikuti praktik ilmu kebal. Ia meminta agar kaum muda tak melupakan pendidikan, serta menata ekonomi.
Penulis: Stefanus Akim | Editor: Stefanus Akim
Ia menambahkan, “Mohon dukungan untuk ke depannya agar langkah Keuskupan Agung Pontianak dapat segera membuka Universitas Katolik di Kalimantan Barat.”
Sebagai tokoh gereja Katolik, Uskup Agustinus menekankan agar ISKA memiliki semangat inovatif dan semangat untuk melakukan perubahan-perubahan sesuai dengan kebutuhan zaman ini. Jangan justru di perkembangan zaman modern saat ini, kembali ke masa lalu.

Prihatin Ilmu Kebal
“Terus terang, beberapa minggu lalu Pastor Yuli datang ke Keuskupan Agung Pontianak bertanya tentang bagaimana mengatasi maraknya orang muda, khususnya orang muda Katolik yang belajar ilmu kebal sehingga menimbulkan keresahan,” ujar Uskup Agustinus.
Uskup Agus menegaskan, terkait aktivitas sejumlah orang muda Katolik yang belajar serta mempraktikkan ilmu kebal sudah sangat meresahkan banyak orang.
Uskup bercerita, tahun lalu tepatnya pada 16 Agustus 2020, saat misa di Paroki St Fidelis Sungai Ambawang dirinya juga mengingatkan agar orang muda Katolik tak terjebak dalam ritual dan rutinitas praktik ilmu kebal. Saat itu hadir kurang lebih 150 orang muda Katolik.
Mgr Agustinus Agus juga mengisahkan, Pastor Lukas Ahon CP yang saat ini menjabat sebagai Pastor Paroki St Fidelis Sungai Ambawang hampir dikenakan sanksi hukum adat karena bicara tentang hal tersebut.
Terkait hal itu, Mgr Agustinus prihatin karena masih banyak orang yang salah mengerti tentang menjaga spirit budaya Dayak. Ia berpendapat, pamer kekebalan di muka umum bukan spritualitas dan ciri orang Dayak.
Uskup Agustinus menegaskan ia sangat menghargai dan melestarikan budaya Dayak. Sebagai buktinya, ia membangun Rumah Betang, Rumah Tionghoa, serta Lumbung Padi di Rumah Retret St John Paul II, Anjongan. “Tujuannya untuk menghargai orang tua,” katanya.
Ia menambahkan, saat ini banyak orang salah mengartikan pelestarian budaya. “Sebagai orang Dayak kita harus kembali ke masa lalu. Tapi bukan kembali secara material, namun semangatnya yang harus dipertahankan,” tuturnya.
Ia mengungkapkan, sekarang orang Dayak sudah berubah. Misalnya ketika tidak ada minyak tanah, maka dahulu menggunakan damar, kemudian sejalan dengan perkembangan berubah menjadi minyak tanah, lanjut lagi berkembang menjadi lampu minyak tanah strong king. Dan sekarang, menggunakan listrik untuk menyalakan lampu bohlam.
“Jadi secara praktis orang Dayak juga berubah tapi semangatnya yang tidak berubah dan mau menyesuaikan diri,” katanya di hadapan anggota dan pengurus ISKA.
Uskup mengatakan, orang Dayak sangat peduli dengan orang lain. Contohnya jika satu orang dapat pelanduk (kancil, red), maka pelanduk itupun dibagi-bagi kepada saudaranya yang lain.
“Sekarang kejadiannya oknum pemimpin di komunitas makan duit banyak, anak buah dikorbankan. Menghukum adat orang, ada aturannya. Tak semua orang berhak. Menghukum adat, itu kewenangan pengurus adat bukan sembarangan orang. Jadi ini saya sedih melihat perkembangan akhir-akhir ini,” ungkapnya.
Mgr Agustinus Agus juga mengimbau kepada pengurus dan anggota ISKA agar memperhatikan orang-orang muda Katolik yang mengikuti kegiatan dan praktik ilmu kebal.
“Kami dari Keuskupan Agung Pontianak sudah memberikan pengertian dan mengimbau para pemuda-pemudi Dayak yang beragama Katolik agar jangan lagi ikut campur praktik ilmu kebal,” lanjut Uskup.