Breaking News:

Keluh Kesah Orangtua Belajar di Rumah Nyaris Setahun, Lindra Azmar: Dunia Pendidikan Berduka

Sudah banyak keluhan dari orangtua murid. Anak saya sendiri, Tanya terus kapan mulai sekolahnya, udah bosen. Semua sudah bosen gunakan zoom metting

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Istimewa
Seorang anak sedang mengerjakan tugas sekolah dari rumah. Ada banyak keluhan para siswa dan orangtua semenjak belajar dari rumah, mulai dari kuota internet, sampai dengan tidak efektifnya proses pembelajaran. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINTANG - Sudah hampir setahun, siswa belajar dari rumah semenjak pandemi Covid-19 masuk ke Indonesia. Pemerintah memutuskan meniadakan belajar mengajar di kelas untuk seluruh satuan pendidikan mengantisipasi laju penularan virus corona.

Sejak saat itu, siswa belajar dari rumah, polanya pun beragam, ada yang luring maupun online.

Bagi daerah yang mudah mengakses internet, proses belajar mengajar dilakukan secara virtual dengan pelbagai metode.

Sementara bagi daerah yang tak ada jaringan internet, terpaksa disiasati dengan luring dan jemput bola.

Baca juga: Tinjau Pelaksanaan Belajar Tatap Muka, Sutarmidji: Jika Zona Oranye Sekolah Kembali Daring

Berbulan-bulan sekolah tanpa ada interaksi langsung dengan guru, ada rasa jenuh hingga dibenak para siswa.

Pun sama dengan yang dirasakan para orangtua.

“Keluhkan borosnya kuota internet. Dapat bantuan kuota dari pemerintah 35 Gb , dengan rincian 5 gb kuota internet biasa , 30 gb cuma untuk chat whatsapp untuk google classroom, google biasa tidak bisa, sementara materi belajar daring banyak dikirim via google Clas room sehingga harus membeli kuota internet sendiri.Sementara kebutuhan chat via whatsapp hanya sedikit sekitar 10 gb sehingga 20 GB nganggur,” keluh Susi, orangtua siswa.

Selain itu, para siswa juga diribetkan dengan kewajiban mengantar tugas ke sekolah.

Padahal, belajar daring, bisa saja mengirim tugas via online.

“Guru menuntut siswa mengantar tugas harus tepat waktu, giliran siswa sudah sampai ke sekolah tak jarang guru datang tepat waktu.Bukan hanya itu anak saya juga mengeluhkan tidak diberikanya rumus matematika , tak pernah dijelasin tentang rumusnya. Kemudian buku mata pelajaran harus dibeli semua, lalu tugas yang diberikan ke siswa berlebihan, lebih banyak tugas daring dari pada tugas sekolah tatap muka. Dia mengaku stres belajar daring dan kepingin cepat sekolah tatap muka,” beber Susi.

Halaman
123
Penulis: Agus Pujianto
Editor: Try Juliansyah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved