Breaking News:

Gubernur Kalbar Sutarmidji Sebut Bahasa Ibu Penting Untuk Anak

Sutarmidji mengatakan, bahasa ibu sebenarnya sudah ada peraturan yang mengaturnya, yaitu Pergub Nomor 154 Tahun 2016 tentang Pembelajaran Muatan Lokal

TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Foto saat Gubernur Kalimantan Barat H. Sutarmidji menghadiri Webinar Dalam Rangka Festival Bahasa Ibu 2021, di dampingi Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalbar, Drs.Sugeng Hariadi, di Ruang Data Analisis Kantor Gubernur Kalbar, Jum’at 19 Februari 2021. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Gubernur Kalimantan Barat (Kalbar) H. Sutarmidji menyampaikan, bahwa bahasa ibu penting untuk anak.

Di Pemerintahan Provinsi Kalimantan sendiri, Sutarmidji mengatakan, bahasa ibu sebenarnya sudah ada peraturan yang mengaturnya, yaitu Pergub Nomor 154 Tahun 2016 tentang Pembelajaran Muatan Lokal Budaya Daerah di Provinsi Kalbar, yang harus diajarkan adalah bahasa daerah atau bahasa ibu.

"Bahasa ibu adalah bahasa yang pertama kali didengar oleh anak yang baru belajar bicara. Yang memprihatinkan anak yang baru pandai bicara, tetapi orang tua kadang mengajak dia berbicara bahasa asing, itu salah," kata H. Sutarmidji saat menghadiri Webinar Dalam Rangka Festival Bahasa Ibu 2021, di Ruang Data Analisis Kantor Gubernur Kalbar, Jum’at 19 Februari 2021.

Baca juga: Delapan Daerah Zona Kuning, Kadiskes Kalbar Tegaskan Akan Bubarkan Tempat Berkerumun Hingga Denda

Keragaman bahasa semakin terancam karena semakin banyak bahasa yang menghilang. Di Indonesia, kurang lebih 11 bahasa daerah yang hilang di Kalbar. Hal ini menjadi pekerjaan rumah bagi seluruh insan di Kalbar untuk terus melestarikan bahasa ibu yang ada.

Untuk itu, Sutarmidji menyarankan kepada semua pihak untuk mengkampanyekan komunikasi pertama kali kepada anak ketika mulai bisa berbicara menggunakan bahasa ibu.

"Jangan sampai dia tidak pernah atau bahasa daerah atau bahasa ibu dan jangan sampai juga tidak mengenalkan bahasa nasional atau bahasa Indonesia. Jangan kira menggunakan bahasa asing dapat meningkatkan intelektualnya, belum tentu juga," jelasnya.

Sebagaimana, berbagai literatur penulis juga mengatakan tumbuh kembang anak itu dimulai dari bahasa ibu bagaimana penyampaian bahasa pada anak.

"Semakin anak paham tentang bahasa ibu, semakin mudah untuk berkomunikasi dengan bahasa lain, karena kebiasaan komunikasi sehari-hari yang sering didengarnya dirumah," kata Gubernur Sutarmidji.

Menurutnya, bahasa ibu sebagai bahasa interaksi kepada masyarakat di berbagai tempat misalnya di warung kopi, serta melakukan transaksi di pasar tradisional yang akan membuat komunikasi jadi lancar.

"Kadang kalau kita menggunakan bahasa asing maka seakan-akan menempatkan pada kelas-kelas intelektual tertentu, sehingga komunikasinya tidak akan baik," ungkapnya.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan melalui gerakan literasi adalah dengan menerbitkan kamus-kamus bahasa daerah atau bahasa ibu. Tujuannya agar dapat melestarikan khazanah budaya daerah.

"Saya sependapat bahasa daerah atau bahasa ibu ini jangan sampai punah, mungkin setiap tahun ada bahasa ibu didunia ini yang telah punah. Sehingga membuat kamus bahasa daerah itu sangat penting serta harus mensosialisasikannya," ucapnya.

Selaku kepala daerah ri Kalimantan Barat, Gubernur Sutarmidji sangat mendukung dalam melestarikan bahasa ibu tanpa mengurangi pemahaman terhadap bahasa nasional maupun bahasa asing.

"Bahasa untuk memudahkan kita berinteraksi dengan segala bidang dalam segala aspek, jangan kita biarkan bahasa ibu atau bahasa daerah ditempat kita hilang begitu saja," harapnya.

Dalam webinar ini Gubernur Kalbar turut didampingi Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalbar, Drs.Sugeng Hariadi,MM. (*)

Penulis: Muhammad Rokib
Editor: Hamdan Darsani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved