Yustinus Nilai UMKM di Sintang Lemah Pada Permodalan dan Kemitraan

UMKM Kabupaten Sintang juga dinilai masih lemah dalam hal kemitraan dengan usaha menengah dan besar, untuk memahami fungsi dan peran kemitraan.

Penulis: Agus Pujianto | Editor: Try Juliansyah
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Istimewa
Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Sintang, Yustinus menghadiri kegiatan tukar paham pengembangan produk UMKM. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINTANG - Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Sintang, Yustinus melihat lemahnya UMKM di Kabupaten Sintang disebabkan oleh minimnya terhadap akses kelembagaan, meningkatkan kesadaran UMKM dalam legalitas untuk menentukan tujuan, arah dan strategis yang dilakukan secara sadar dan terencana.

Selain itu, UMKM juga lemah dalam aspek terhadap sumber permodalan.

"Ini disebabkan perkembangan modal yang sangat lamban, keterampilan manajerial kalah bersaing, jaringan pasar yang masih relative sangat terbatas, kualitas SDM sangat minim, perkembangan omzet dalam pelayanan dan aset masih rendah. Saya juga melihat, masih lemahnya UMKM terhadap akses informasi dan teknologi, kepemilikan pemanfaatan perangkat teknologi dan informasi yang belum memadai,” beber Yustinus.

Selain itu, UMKM Kabupaten Sintang juga dinilai masih lemah dalam hal kemitraan dengan usaha menengah dan besar, untuk memahami fungsi dan peran kemitraan dalam pengembangan usaha.

Baca juga: Bupati Jarot Pastikan Penundaan Pilkades Serentak di Sintang Bersifat Sementara

Yustinus menilai, upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia UMKM, tugas dan peran tersebut tidaklah semata-mata menjadi tanggung-jawab pemerintah semata.

"akan tetapi sesuai dengan nilai-nilai dari prinsip UMKM, maka kewajiban setiap UMKM untuk melaksanakan dan menyelenggarakan kewirausahaan," jelasnya.

Lebih dari itu, Yustinus melihat kondisi UMKM sering kali dalam pengelolaan usaha dilakukan secara sambilan saja, sehingga jati diri UMKM sebagai badan usaha tidak dikelola secara baik dan profesional.

Selain itu dukungan internal dan eksternal UMKM sebagai pemilik usaha memang dirasakan sangat kecil sekali.

"ini terbukti kadang-kadang buka dan kadang-dang tutup pada hal usaha yang dilakukan merupakan sumber pembiayaan hidup," katanya.

Pelaku UMKM diharapkan dapat menyusun perencanaan yang baik, mengorganisir sumber daya yang ada.

Keberadaan UMKM khususnya di Kabupaten Sintang memang mengalami perubahan semenjak adanya otonomi daerah.

"Adalah menjadi tugas dan tanggung jawab kita bersama untuk membina, mengembangkan serta mencerdaskan masyarakat. Upaya yang dilakukan sekarang adalah dalam rangka mendorong pengalihan manajerial secara intensif kepada pelaku usaha. Melalui pembinaan dan pelatihan diharapkan UMKM akan semakin cerdas dan pada gilirannya kepada peningkatan kualitas sehingga UMKM naik kelas," jelas Yustinus. (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved