Gelombang Tinggi, Sejumlah Nelayan Singkawang Tak Berani Melaut
Kalau Desember 2020 kemarin, saya masih ada turun sekali dua kali, tapi ndak berani lama, paling dua tiga jam sudah balik.
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINGKAWANG - Sejumlah nelayan di Kelurahan Kuala, Kecamatan Singkawang Barat kembali menganggur, lantaran tak berani melaut.
Karena gelombang laut dan angin kencang dalam beberapa waktu terakhir kembali tidak bersahabat. Bahkan ketinggian ombak bisa mencapai dua hingga empat meter.
”Gelombangnya tinggi. Anginnya juga kencang,” keluh Ibrahim Saleh, seorang nelayan setempat, Rabu 20 Januari 2021.
Ia mengatakan angin kencang serta gelombang tinggi sudah terjadi sejak awal November 2020 dan berlangsung hingga saat ini.
Ia bersama nelayan lainnya memilih menunggu cuaca benar-benar aman, sambil memperbaiki perahu biar mantap saat melaut.
Beberapa pekan lalu, nelayan 60 tahun ini mengaku hanya melaut dua kali. Itu pun hasilnya tak seberapa. Sehari melaut, kapalnya hanya membawa pulang hasil tangkapan beberapa kilogram.
"Kalau Desember 2020 kemarin, saya masih ada turun sekali dua kali, tapi ndak berani lama, paling dua tiga jam sudah balik. Gelombangnya sangat tinggi, angin juga kencang,” tutur Ibrahim yang ditemani sang istri tengah berada di kapalnya.
Baca juga: Dampak Cuaca Ekstrem, Wakil Ketua DPRD Singkawang Harap Pemerintah Berikan Perhatian pada Nelayan
Ia menilai, cuaca seperti ini sangat berbahaya bagi nelayan. Tinggi gelombang dapat menenggelamkan kapal-kapal nelayan.
"Pernah kejadian berberapa waktu lalu, ada nelayan wilayah Tambelan memaksakan berlayar kemudian tenggelam dan hingga kini belum ketemu mayatnya," ungkap Ibrahim.
Pria yang telah 30 tahun lebih menjadi nelayan ini mengatakan cuaca seperti ini memang biasa terjadi setiap tahun. Di mulai pada Oktober dan biasanya akan berakhir sekitar April.
Lantaran tidak dapat melaut, Ibrahim menghabiskan sebagian besar waktunya untuk merawat kapalnya.
Sedangkan kebutuhan sehari-hari, dia dan istrinya terpaksa harus dipenuhi oleh anak-anak dan menantunya.
Ibrahim menuturkan, bila cuaca bagus, perhari dari hasil melaut Ibrahim bisa mendapatkan puluhan kilogram ikan dan menghasilkan ratusan ribu rupiah.
"Paling sedikit Rp 200 ribu per hari, kalau lagi banyak rezeki bisa Rp 500 ribu tapi dipotong uang bahan bakar, jadi per harinya sekitar Rp 200-Rp 300 ribu tergantung jumlah pemakaian BBM," jelasnya.
Dari pantauan, mayoritas perahu nelayan ditambatkan di pinggir Dermaga Kuala. Sebagian nelayan ada yang beralih profesi sebagai petani atau berjualan. Ada pula yang tetap nekat melaut. Meski ancaman perahu terbalik mengintai.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/ibrahim-saleh-nelayan-asal-kelurahan-kuala-kecamatan-singkawang-barat.jpg)