Dampak Pandemi Covid-19, Para Pemilik Kantin Sekolah di Sekadau Tak Lagi Punya Penghasilan

Khusus di kabupaten Sekadau, proses pembelajaran tatap muka mulai dialihkan menjadi daring sejak bulan Maret 2020 hingga saat ini Januari 2021.

TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Satu diantara pemilik usaha kantin di sekolah di Kabupaten Sekadau yang terdampak pandemi Covid-19. (Dokumen sebelum pandemi Covid-19) 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SEKADAU - Dampak pandemi Covid-19 yang berkepanjangan semakin dirasakan oleh berbagai elemen masyarakat, begitupula dengan di Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat.

Satu diantara dampak yang cukup dirasakan adalah sulitnya perputaran ekonomi bagi pelaku usaha mikro diberbagai tempat. Seperti yang dialami para pemilik kantin yang berjualan di sekolah.

Khusus di kabupaten Sekadau, proses pembelajaran tatap muka mulai dialihkan menjadi daring sejak bulan Maret 2020 hingga saat ini Januari 2021.

Dengan ditiadakannya aktivitas belajar di sekolah, para pemilik kantin pun terpaksa tidak dapat berjualan. Yang secara otomatis penghasilan perbulan yang biasa didapat mencapai Rp. 2000.000 hingga Rp 3000.000 perbulan seketika hilang.

Itulah yang dirasakan T. Eny Hendrayanti, (48) satu diantara pemilik kantin di SMA Karya Sekadau. Dirinya mengaku sejak pandemi Covid-19 dirinya tidak lagi dapat berjualan seperti biasa.

Baca juga: Sidang Sengketa Pilkada Rupinus-Aloysius di MK Akan Digelar 27 Januari Mendatang

Tak hanya itu, penghasilan perbulan pun kini tak didapat lagi, dan hanya bergantung dengan kepala keluarga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Sudah hampir satu tahun tidak berjualan di kantin. Dagangan di kantin pun ada yang sudah rusak dan yang masih bisa dikonsumsi kita bawa pulang," ungkapnya.

Wanita yang sudah berjualan di kantin sekolah sejak tahun 2006 itupun mengaku tidak menyangka hal tersebut dapat terjadi.

"Kemarin saat Kepala Sekolah bilang belajar tatap muka akan dibuka ya tentu senang, akhirnya bisa berjualan lagi. Tapi seketika ditunda lagi, ya kita hanya bisa pasrah," ujarnya.

Kini untuk mengisi waktu luangnya Hendrayanti mencoba berjualan di rumah dengan memanfaatkan sosial media, selain itu beberapa kali ia membuka lapak dagangan jika ada kegiatan ataupun keramaian. Namun hasil yang didapatkan tidak seperti saat berjualan di Sekolah.

"Kadang juga terima pesanan kue, cuma memang tidak setiap hari ada pesanan," lanjutnya.

Selain itu, ia juga mengisi waktu luang dengan berkebun di pekarangan rumah. Baik menanam sayur-sayuran atau tanaman hias.

"Kita berharap nantinya jika sekolah kembali dibuka, kantin juga dapat dibuka. Biar ada penghasilan lagi, kalaupun masuk (siswa) nantinya kan ada siffnya jadi tidak terlalu berdampak untuk anak-anak, ya harapannya bisa buka kantin lagi lah," tandasnya. (*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved