Diskes Kota Pontianak Gelar Simulasi Pelaksanaan Vaksin, Berikut Alur Vaksinasinya

Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Sidig Handanu menjelaskan, ada 36 fasilitas kesehatan (faskes) yang bekerjasama untuk penyuntikan vaksin Covid-

Penulis: Muhammad Rokib | Editor: Hamdan Darsani
TRIBUNPONTIANAK/Rokib
Meja ketiga, Vaksinasi secara intra muskular sesuai prinsip penyuntikan dan sekaligus memasukkan na dan nomor batch vaksin yang diberikan kepada sasaran pasa aplikasi Pcare. 

Selain itu, Handanu juga menjelaskan, bahwa para peserta penerima vaksin juga akan diberikan Personal Identification Number (PIN). 

Fungsi dari PIN tersebut, sebagai kontak person apabila ketika peserta menderita gejala apapun, baik yang disebabkan karena suntikan maupun tidak, untuk disampaikan kepada petugas. 

Baca juga: Cegah Kerumunan saat Pandemi, Warga Dukung Kebijakan Pemkot Pontianak Tutup Taman dan Tempat Hiburan

"Hal itu untuk mencatat kejadian ikutan pasca imunisasi. Selain itu pula akan menjadi pembelajaran yang sangat bagus dalam rangka untuk imunisasi selanjutnya," paparnya.

Menurutnya, ada beberapa pengecualian sehingga orang tersebut tidak bisa diberikan vaksin Covid-19. 

Kriteria eksklusif atau kontra indikasi berkaitan dengan vaksin diantaranya, pertama ibu hamil atau menyusui, penderita Covid-19 yang telah terkonfirmasi, mempunyai penyakit komorbid atau penyerta seperti hipertensi, imunologi, jantung, ginjal dan lainnya. 

"Oleh sebab itu riwayat penyakit-penyakit tersebut akan dilakukan penapisan pada saat peserta di meja dua atau proses screening," kata Handanu menceritakan alurnya.

Dalam penyuntikan vaksin Covid-19 di Kota Pontianak, dikatakan Handanu, akan ada 36 fasilitas kesehatan yang disediakan oleh Pemkot Pontianak. Jumlah nakes rata-rata pada satu pos penyuntikan akan ada satu tim yang berisi lima hingga tujuh orang. 

"Terdiri dari bagian pendaftaran, screening, pencatatan pelaporan termasuk vaksinator. Untuk vaksinator pada satu tim bisa satu atau dua orang. Kalau vaksinator yang bisa melakukan adalah dokter, perawat atau bidan," bebernya.

Sidiq menyebut, pelaksanaan vaksinasi hingga saat ini masih bersifat dinamis. 

"Artinya setelah divaksin maka akan dilihat kandungan antibodinya. Oleh sebab itu bagi masyarakat yang telah divaksin tetap harus menerapkan protokol kesehatan meskipun secara ilmiah mereka telah memiliki kekebalan secara individual".

"Tetapi untuk protokol kesehatan tetap harus dilakukan sebelum dinyatakan masyarakat tersebut kebal secara keseluruhan," pungkasnya. (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved