Kepala Diskumdag Kota Pontianak Haryadi: Penyebab Kenaikan Harga Kedelai Karena Ekonomi Global

Haryadi mengatakan kenaikan harga Ini diakibatkan oleh ekonomi global, artinya bukan kelangkaan kedelai

Penulis: Zulfikri | Editor: Try Juliansyah
TRIBUNPONTIANAK/JOVI LASTA
Kepala Dinas Koperasi Usaha Mikro dan Perdagangan (Diskumdag) Kota Pontianak Haryadi S Triwibowo. TRIBUN PONTIANAK/JOVI LASTA 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Kepala Dinas Koperasi Usaha Mikro dan Perdagangan (Diskumdag) Kota Pontianak Haryadi S Triwibowo sampaikan penyebab kenaikan harga kedelai saat ini, Rabu 6 Januari 2021.

Haryadi menjelaskan Indonesia 90 persen dari kebutuhan total 30 juta ton pertahun itu kita baru mampu menyiapkan 300 ton pertahun.

Artinya, 90 persen kedelai yang berada di indonesia ini berasal dari luar negeri (masih di impor) terkhusus dari negara Amerika kedelai yang ada di Kota Pontianak.

"Otomatis dengan harga nasional yang tadinya kisaran perkilo 6 ribu sampai dengan 7 ribu 2 ratus rupiah sekarang sudah merangkak menjadi 9 ribu 2 ratus rupiah sampai 10 ribu itu akan berdampak pada industri-industri yang menggunakan kedelai," ujarnya.

Baca juga: Harga Kedelai Naik, Haryadi: Kita Masih Mengandalkan Kedelai Luar

Kemudian, Haryadi mengatakan kenaikan harga Ini diakibatkan oleh ekonomi global, artinya bukan kelangkaan kedelai tetapi memang harga kedelai dunia mengalami kenaikkan karena ada peningkatan kebutuhan kedelai di negara RRC yang tadinya 15 ton pertahun.

Sekarang negara RRC sudah memasok 30 juta ton dari negara Amerika.

"Sehingga, yang tadinya kedelai-kedelai untuk Indonesia dan sebagian untuk Kalbar khususnya Pontianak banyak masuk ke negara RRC, otomatis armada kontainer dan sebagainya berkurang ke arah indonesia. Akhirnya, jatah Kedelai di indonesia harganya semakin meningkat, yangjelas kita masih mengandalkan kedelai impor, tadi kita sudah sebutkan 90% dari negara Amerika dan negara lain. Kita belum bisa memanfaatkan kedelai lokal," lanjutnya.

Ia berharap mudah-mudahan mungkin dengan adanya kedelai lokal seperti daerah sambas dan sekitarnya bisa di campur dengan kedelai impor.

Lebih lanjut, Haryadi menambahkan yang menjadi masalah, jatuhnya rendaman kedelai lokal dibandingkan dengan kedelai impor itu jauh kualitasnya. Maka, industri tahu dan tempe itu mereka lebih berminat kepada kedelai impor itu juga menjadi masalah.

"Tentu yang bisa kita lakukan, kita lihat bersama-sama hari ini para pelaku industri tahu dan tempe tetap melakukan produksi, konsumen tetap membutuhkan tahu dan tempe. Bisa jadi untuk mengikuti perkembangan harga kedelai yang naik tentu di level produksi tahu tempe ini, mereka tidak bisa menjual dengan harga yang lebih tinggi mengikuti harga kedelai," jelasnya.

"Tahu dan tempe harganya lebih tinggi biasanya konsumen khususnya ibu-ibu rumah tangga mulai berpikir untuk belanja tahu dan tempe namun harganya tetap. Biasanya, yang dilakukan pemilik industri tahu dan tempe mengurangi ukuran volume agar pelanggan tidak pergi," pungkasnya. (*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved