BI Optimistis 2021 Perekonomian Pulih, Ekonomi Kalbar Tahun Depan Diprediksi Capai 2,5%

memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Kalbar tahun 2021 tumbuh membaik meskipun tidak setinggi sebelum pandemi covid 19, mencapai kisaran 2,1-2,5%

Penulis: Nina Soraya | Editor: Nina Soraya
TRIBUN PONTIANAK/DESTRIADI YUNAS JUMASANI
Kepala BI Kalbar Agus Chusaini menyerahkan cenderamata Kain Lunggi Sambas kepada Gubernur Kalbar Sutarmidji pada Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2020 di Aula Bank Indonesia Kalbar, Kamis 3 Desember 2020.PTBI 2020 mengangkat tema “Bersinergi Membangun Optimisme Pemulihan Ekonomi.” 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Tahun 2020 merupakan tahun yang penuh tantangan sebagaimana dampak dari pandemi Covid-19.

Dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2020, Rabu 3 Desember 2020, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indoenesia (KPwBI) Kalbar Agus Chusaini mengatakan melihat pertumbuhan ekonomi secara whole year khususnya tahun 2020, ekonomi Kalimantan Barat diperkirakan mengalami pertumbuhan yang kontraksi.

Baca juga: Bank Indonesia Optimis Pemulihan Ekonomi Nasional Terwujud, Beberkan 1 Prasyarat dan 5 Strategi

Hal tersebut tidak terlepas dari dampak terjadinya pandemi Covid-19 yang menyebabkan kontraksinya pertumbuhan secara kuartal ke kuartal (qtq) pada Triwulan (Tw) I 2020 dan kontraksi lebih dalam pada qtq Tw II 2020.

"Namun demikian pada Triwulan III 2020, kinerja perekonomian Kalbar bergerak membaik,” ungkapnya dalam PTBI 2020 yang mengangkat tema ‘Sinergi Membangun Optimisme Pemulihan Ekonomi’.

Pertumbuhan ekonomi Kalbar triwulan III 2020 membaik terlihat pada besaran nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan (ADHK) 2010 mencapai Rp 33,38 triliun, atau tumbuh sebesar 4,89% (qtq) dibandingkan dengan Tw II 2020.

Baca juga: Pelaku UMKM Kalbar Akui Sangat Terbantu dengan Adanya Program KKI Bank Indonesia 

Meskipun pertumbuhan tersebut masih lebih rendah dibandingkan perekonomian nasional sebesar 5,05% (qtq), namun pertumbuhan ekonomi Kalbar tersebut merupakan yang tertinggi se-Kalimantan.

“Penerapan new normal mendorong membaiknya mobilitas masyarakat serta konsumsi masyarakat. Hal tersebut dapat terlihat pada sisi pengeluaran, dimana Konsumsi Rumah Tangga (RT), yang secara struktur PDRB merupakan bobot tertinggi, mengalami peningkatan,” sampainya.

Baca juga: BI Kalbar Gelar Pameran UMKM Terbatas Karya Kreatif Indonesia, Dorong Milenial Cinta Produk Lokal

Lalu untuk inflasi Kalbar juga tetap terkendali sepanjang tahun 2020 sejalan dengan perbaikan pertumbuhan ekonom di triwulan III dan triwulan IV.

“Inflasi Kalbar sepanjang Januari-November 2020 tercatat sebesar 2,04% (ytd). Pada akhir 2020, inflasi Kalimantan Barat diperkirakan dapat berada di bawah titik tengah kisaran sasaran inflasi nasional 3+1% (yoy),” ungkapnya.

BI menyampaikan outlook perekonomian 2021 atau memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Kalimantan Barat tahun 2021 tumbuh membaik meskipun tidak setinggi sebelum pandemi covid 19, mencapai kisaran 2,1-2,5% (yoy).

Baca juga: PESERTA Kartu Prakerja Gelombang 11 Wajib Tahu - Cek Jadwal Kartu Prakerja Gelombang 12 Kapan Dibuka

Meningkatnya kinerja konsumsi rumah tangga dan investasi diprakirakan menjadi faktor pendorong pertumbuhan ekonomi.

Dari sisi penawaran, selain lapangan usaha (LU) pertanian, peningkatan kinerja LU industri pengolahan serta perdagangan diprakirakan mendukung kinerja ekonomi Kalimantan Barat tahun 2021.

Ke depan, khususnya tahun 2021, permintaan serta produksi lapangan usaha diperkirakan meningkat seiring dengan persepsi pelaku ekonomi akan semakin membaiknya kondisi perekonomian.

Baca juga: PT Angkasa Pura II (Persero) Supadio Pontianak Serahkan Bantuan Sembako Tahap II ke Masyarakat

“Beberapa hal yang dapat mendukung tumbuhnya perekonomian Kalimantan Barat tahun 2021 antara lain Beroperasinya Pelabuhan Internasional Tanjungpura (Kijing) di Mempawah," kata Agus.

"Kunci pertumbuhan ekonomi juga program vaksinasi covid-19. Pemesanan dan distribusi vaksin Covid-19 yang dapat menumbuhkan keyakinan investor,” paparnya.

Pertumbuhan terpicu pula berlanjutnya program pemulihan ekonomi, kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga likuiditas yang cukup, serta terdapat stimulus fiskal dari pemerintah, dan perpanjangan relaksasi kredit OJK. Serta ekonomi digital yang semakin berkembang. 

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved