Sebut Bank Sampah Susah Bersaing Harga dengan Para Pengepul Barang Bekas, Ini Penjelasan Abdullah
Jadi Bank Sampah sudah sama seperti para pengepul barang bekas, bedanya Bank Sampah punya nasabah dan keorganisasian
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Abdullah (43) salah seorang pengurus sekaligus pekerja Bank Sampah mengungkapkan kelemahan bank sampah tidak bisa bersaing dengan pengepul kalau sudah menyangkut harga.
Pernyataan tersebut disampaikan saat ditemui di tempat Bank Sampah, Sungai Bangkong, Kecamatan Pontianak Kota, Kota Pontianak, Kalimantan Barat, Senin 23 November 2020 sore.
"Harga yang ditetapkan pemerintah berkisar Rp 600-700, kalah jauh dengan pengepul," ungkapnya
Abdullah mengatakan orang-orang maunya harga tinggi, dengan itu Bank Sampah juga mengambil kebijakan untuk ambil harga tinggi juga, yang penting bank sampah tetap bisa berjalan.
"Mengambil barang bekas dari warga hitung kilo, kardus Rp 1500/kg, plastik Rp 1000/kg, besi Rp 2500/kg, dan Alhamdulillah masih ada untungny kalau di jual lagi," ungkapnya.
Abdullah mengatakan dengan memiliki nasabah tetap sekitar 40 orang lebih Bank Sampah masih bisa mendapatkan keuntungan perbulannya.
Baca juga: Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional, Edi Minta Sekolah dan Perkantoran Siapkan Bank Sampah Mini
"Penghasilan dalam sebulan dapat dikatakan sekitar Rp2-3 juta," terangnya.
Abdullah juga ikut menjelaskan biasa nasabah yang mengantar barang bekasnya, ataupun pihak bank sampah yang akan menjemput barang bekas milik warga.
"Barang yang dikumpulkan biasa ada yang di olah, dan ada yang dijual kembali," tegas Abdullah.
Abdullah juga menambahkan sampah yang bisa di olah akan tetap di olah, dan barang bekas yang tak bisa di olah sendiri akan dijual kembali.
"Jadi Bank Sampah sudah sama seperti para pengepul barang bekas, bedanya Bank Sampah punya nasabah dan keorganisasian," tutup Abdullah. (Ramadhan)