Kancil BBK Optimis Persembahkan Medali Emas untuk Kalbar Pada PON 2021

Club yang berawal dari sekadar keinginan untuk mengikuti kompetisi di Kabupaten Melawi ini, kini telah melambungkan nama Kalbar hingga ke tingkat nasi

TRIBUNPONTIANAK/RIZKI FADRIANI
Hadir dalam Triponcast (Tribun Pontianak Official Podcast) dalam edisi Bebincang Olahraga, CEO Kancil BBK, Haryadi Zuriansyah S.T, Selasa 13 Oktober 2020. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Kancil BBK sudah tidak asing lagi di telinga, bagi masyarakat Kalimantan Barat khususnya di Pontianak. Berdiri sejak 2016, dan masih konsisten hingga saat ini meskipun tengah dilanda Pandemi, Kancil BBK masih dapat bertahan bahkan CEO Kancil BBK optimis dan janjikan Medali Emas untuk Kalbar dalam PON mendatang.

Hadir dalam Triponcast (Tribun Pontianak Official Podcast) dalam edisi Bebincang Olahraga, CEO Kancil BBK, Haryadi Zuriansyah S.T,. Bang Yadi begitu ia dikenal, menceritakan bagaimana ia dan Kancil BBK dapat bertahan dan terus mengukir prestasi hingga tahun ke empatnya ini.

Club yang berawal dari sekadar keinginan untuk mengikuti kompetisi di Kabupaten Melawi ini, kini telah melambungkan nama Kalbar hingga ke tingkat nasional, meskipun pernah dianggap sebelah mata oleh club lain.

Dalam podcast tersebut, Bang Yadi membagikan kisah yang memotivasinya menjadikan sepak bola dan khususnya futsal Kalbar memiliki taring.

Baca juga: BREAKING NEWS - Setubuhi Pelajar Hingga Hamil, Pria Paruh Baya di Melawi Dibekuk Polisi

"Pada awal kompetisi, saat itu lolos tingkat regional dan ada satu motivasi saya pada saat teknikal meeting. Ada yang mengatakan, nanti kalau ketemu dengan tuan rumah Kancil BBK, kita cari gol sebanyak-banyaknya biar nanti kalau head to head kita menang skor, kalimat ini diucapkan tanpa menyadari bahwa itu adalah Kancil BBK. Itulah sebenarnya motivasi pertama saya ingin membuktikan Kalbar untuk sepak bola atau futsal khususnya, juga punya nama," kenangnya.

Club yang memiliki arti Kumpulan Anak-anak Kecil BBK (Budak-budak Kalbar) ini adalah wadah bagi pemain terbaik Kalbar untuk terus mengasah skill. Sebagai CEO, Bang Yadi sangat menginginkan Kancil BBK ini menjadi tempat bermain murni bagi anak muda Kalbar yang memiliki skill ataupun visi bermain yang terbaik. Ia membalik konsep yang telah ada, dengan memainkan full pemain dari Kalbar tanpa mendatangkan pemain dari luar.

Untuk menjadikan Kancil BBK seperti saat ini bukanlah hal mudah, satu di antara usahanya ialah dengan mencoba untuk membawa pelatih dari luar dengan bantuan rekannya, ini dilakukan karena pelatih Kalbar belum memiliki sertifikat AFC level 2. Dengan usahanya mendatangkan pelatih dari luar, Kancil BBK berhasil lolos ke tingkat nasional bersama Kaltim, dengan mengalahkan DKI, Banten, dan seluruh Kalimantan, kecuali Kaltim dengan hasil imbang.

"Pemain lokal Kalbar, diberi visi bermain oleh pelatih luar sehingga visi bermainnya lebih bagus dan terbukti Kancil BBK dapat mengalahkan DKI, Banten, dan seluruh Kalimantan, kecuali Kaltim dengan hasil imbang sehingga berangkat ke jenjang nasional bersama Kaltim," ungkapnya pada Triponcast, Selasa 13 Oktober 2020.

Selain usahanya tersebut, banyak sekali tantangan ketika mengelola sebuah club. Ia menuturkan jika untuk mengelola club, ada tantangan yang kompleks dan rumit. Sebuah club yang normal memiliki management yang memiliki segala hal, dan club mananapun pasti terkendala masalah finansial, lalu sarana prasarana dan dukungan dari berbagai pihak agar club tersebut dapat tetap konsisten dan berprestasi. Dan kini ia optimis jika kepengurusan Kancil BBK telah memiliki semangat untuk belajar menjadikan club ini profesional, yang ke depannya bisa tumbuh dan berprestasi dengan sistem yang profesional.

Ia juga menyinggung faktor penunjang utama dalam sebuah club ialah finansial. Ia memaparkan jika sebuah club harus memberikan gaji kepada pemainnya dan untuk pembinaan, meliputi training center, akomodasi dan yang terbesar adalah akomodasi saat melakukan pertandingan.

Memang biasanya club akan mendapatkan pembiayaan dari sponsorship, sponsorship akan memberikan kerjasamanya dan ada sesuatu yang ingin mereka dapatkan dari kerjasama tersebut. Oleh karena itu, yang ingin ia bangun adalah Kalimantan memiliki modal yang besar dalam industri sepak bolanya, dan dibutuhkan kerjasama dari berbagai pihak.

"Kita punya pemain yang memiliki skill tidak kalah dengan pemain luar. Kalau Kalbar memiliki stadion yang istilahnya standar artinya dengan kapasitas 40-50 ribu penonton, saya pastikan pembinaan sepak bolanya tidak terlalu susah," jelasnya.

Tentunya tantangan tak berhenti di situ, club dengan logo kepala Kancil ini juga vakum selama pandemi. Bang Yadi menceritakan jika federasi sudah memutuskan untuk menunda semua kompetisi yang padahal hanya tinggal satu seri. Saat ini federasi mengumumkan bahwa akan melihat keputusan dari liga 1 nasional. Dan Kancil BBK dalam kondisi pandemi ini tidak melakukan kompetisi apapun, ia mengakui jika kondisi ini sangat meyulitkan semua club yang mengukuti kompetisi.

"Ketidak pastian kompetisi ini sebenarnya sangat menyulitkan, dengan adanya penundaan kompetisi di nasional ini, merusak ritme club. Harusnya dapat berkaca di luar sana, seperti kompetisi Eropa yang bisa berjalan tanpa penonton. Meskipun pendapatan terbesar selain dari sponsorship adalah tiket penonton. Kompetisi di luar dapat dilanjutkan tanpa penonton, namun masih memiliki tujuan kompetisi," terangnya.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved