Ibu dan Anak Korban Pembunuhan

'Saya Ndak Rela! Saya Besarkan Dia dari Bayi, Kok Dibunuh?'

Lalu, saat di dalam rumah, ia sempat cekcok dengan korban Sumiati, dimana posisi Sumiati duduk bersila di kursi ruang tamu rumahnya.

Penulis: Ferryanto | Editor: Nasaruddin

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Tangis Ngadinah (60) pecah saat melihat langsung pra rekonstruksi pembunuhan anak dan cucunya, Sumiati (39) dan putrinya Gerby(19).

Pra rekonstruksi dilakukan aparat kepolisian di lokasi kejadian Jalan Tanjung Harapan, Kecamatan Pontianak Timur, Kota Pontianak, Sabtu 3 Oktober 2020.

Sebanyak 22 adegan diperagakan terduga pelaku, AL (49) pada pra rekonstruksi ini.

Sepanjang pelaksanaan pra rekonstruksi, AL terlihat menangis tersedu-sedu sembari sesekali menyatakan penyesalannya.

Rekonstruksi diawali saat AL datang ke rumah Sumiati dengan menggunakan sepeda motor.

Lalu, saat di dalam rumah, ia sempat cekcok dengan korban Sumiati, dimana posisi Sumiati duduk bersila di kursi ruang tamu rumahnya.

Jadwal Khabib Nurmagomedov vs Justin Gaethje UFC 254, Khabib Ungkap Strategi Kalahkan Gaethje

Kemudian pada adegan ke 7 dan 8 AL keluar rumah dan mengambil sebatang besi mesin speed yang disimpannya di luar rumah dan langsung menyerang Sumiati dengan menghantamkan besi itu ke bagian anggota tubuh.

Saat itu, sang putri Gerby yang melihat AL memukul ibunya langsung mengambil ulekan batu dan memukulkan ke arah kepala AL.

Mendapat pukulan di kepala, AL langsung menyerang Gerby dengan besi yang dipegangnya yang membuat Gerby tersungkur di ruang tengah rumahnya

Melihat Gerby masih bergerak, AL kembali menghantamkan besi kebagian anggota tubuh Gerby untuk memastikan Gerby tak bergerak.

Kemudian, ia kembali mendatangi Sumiati dan memukul istrinya sebanyak 3 kali dan menyerang bagian tubuh Sumiati hingga Sumiati tak bergerak.

Manfaat Kartu Keluarga Sejahtera Penerima Bantuan Rp500 Ribu SIKS-DATAKU, Daftar KKS Bisa Terima BST

Selanjutnya, ia langsung pergi dengan mengunci pintu rumah dari luar, dan kabur melarikan diri ke arah Kecamatan Rasau, Kabupaten Kubu Raya.

"Saya minta dihukum yang setimpal, kalau bisa dihukum mati. Saya ndak rela anak dan cucu saya ndak tau apa - apa dibunuh," ujar Ngadinah sembari menangis histeris.

"Saya ndak rela, anak cucu saya dibunuh, saya besarkan dia dari bayi, kok dibunuh. Cucu saya tidak tau apa-apa kok dibunuh juga," katanya. 

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved