Breaking News:

Pemilik Taman Satwa Ilegal Divonis 1 Tahun 3 Bulan Penjara

Dalam pembacaan putusannya, Majelis Hakim yang diketuai Eliyas Eko Setyo menyampaikan bahwa perbuatan terdakwa telah melanggar Pasal 40 ayat (2) Jo. P

TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Satu diantara satwa yang ada di Taman Satwa Ilegal 'Kampoeng Tuhu' di Dusun Balai Karangan, Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. 

Rilis Komunitas Pembela Satwa Liar

Dian

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SANGGAU-Pemilik Taman Satwa ilegal 'Kampoeng Tuhu' inisial ODA (25) dijatuhi vonis pidana penjara selama 1 tahun 3 bulan di Pengadilan Negeri Sanggau, Kalimantan Barat, Senin (14/9/2020).

Majelis Hakim juga menjatuhkan denda sebesar Rp 5 juta subsidair 3 bulan penjara. Putusan ini jauh lebih rendah dibandingkan tuntutan yang diajukan Jaksa Penuntut Umum yaitu pidana penjara selama 2 tahun 6 bulan dan denda Rp 5 juta subsidair 3 bulan.

Dalam pembacaan putusannya, Majelis Hakim yang diketuai Eliyas Eko Setyo menyampaikan bahwa perbuatan terdakwa telah melanggar Pasal 40 ayat (2) Jo. Pasal 21 ayat (2) huruf a Undang-Undang RI Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

“Terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana setiap orang dilarang untuk menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup,"katanya saat pembacaan vonis.

Hakim juga memutuskan barang bukti berupa, 1 ekor Beruang madu (Helarctos malayanus), 2 ekor Kukang kalimantan (Nycticebus managensis), 1 ekor binturong (Arctictis binturong), 4 ekor Buaya muara (Crocodylus porosus), 1 ekor landak (Hystrix javanica), 1 ekor Tiong emas (Gracula religiosa) dan 1 ekor Elang bondol (Haliastur indus) untuk dikembalikan ke habitatnya.

“Barang bukti untuk dikembalikan ke habitatnya melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat,” katanya.

Perdagangan Satwa Liar Lewat Facebook di Kalimantan Barat Masih Marak

Sementara atas putusan yang dibacakan hakim, Terdakwa menerima putusan dan mengaku menyesal atas perbuatannya.

Kasus ini berawal ketika Petugas SPORC Brigade Bekantan Seksi Wilayah III Pontianak, Balai Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Gakkum KLHK) Wilayah Kalbar, dan Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Kalbar berhasil mengungkap praktik taman satwa ilegal ‘Kampoeng Tuhu’ di Dusun Balai Karangan, Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, Pada Rabu 18 Februari 2020.

Kejari Sintang Musnahkan Barang Bukti 55 Kg Sisik Trenggiling, Ratusan Tumbuhan dan Satwa Liar

Penangkapan berasal dari informasi masyarakat mengenai taman satwa yang diindikasikan memiliki satwa dilindungi tanpa izin dari pihak berwenang.
Terdakwa yang berprofesi sebagai mahasiswa memelihara 11 ekor satwa dilindungi untuk kemudian dipertontonkan ke masyarakat sebagai daya tarik taman satwa.

Berdasarkan keterangan terdakwa, satwa-satwa tersebut merupakan miliknya sendiri yang dibeli dari masyarakat tahun 2019 lalu, dengan maksud untuk dipelihara sebagai hobi pencinta binatang. Satwa-satwa tersebut dibeli dari masyarakat dengan harga bervariasi, untuk dimiliki, dipelihara di lahan taman satwa yang merupakan milik terdakwa.

Taman wisata tersebut mematok harga tiket seharga Rp 10 ribu untuk setiap kali masuk. Uang yang didapatkan dari penjualan tiket tersebut digunakan untuk pakan satwa dan pemeliharaan kandang. (*)

Penulis: Hendri Chornelius
Editor: Rivaldi Ade Musliadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved