Kisah Dua Dokter Pontianak Sembuh dari Corona, Minta Masyarakat Patuhi Protokol Kesehatan

Saat sampai di rumah langsung ke kamar mandi paling dekat dengan pintu masuk untuk membersihkan diri. Semua protokol kesehatan telah dijalankan

Editor: Jamadin
TRIBUN PONTIANAK/ANESH VIDUKA
Pemimpin redaksi Tribun Pontianak, Safruddin menggelar virtual talk bersama para dokter yang sembuh dari covid-19, yang disiarkan live melalui chanel Youtube Tribun Pontianak, Senin (15/6/2020). Pada kesempatan ini para dokter tersebut berbagi cerita tentang diri mereka sembuh dari covid-19. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK  - Tribun Pontianak menggelar Live Talk Tribun Pontianak menghadirkan dua orang dokter yang baru saja sembuh dari Covid-19, Senin (15/6/2020).

Kedua dokter tersebut yakni Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura dr Muhammad Asroruddin SpM dan dr Willy Brodus Uwan MARS SpPD KGEH FINASIM yang bertugas di RS St Antonius.

Selama sekitar 1,5 jam, Pemimpin Redaksi Tribun Pontianak Safruddin yang memandu live talk mengupas tuntas pengalaman kedua dokter spesialis ini berjuang melawan Covid-19. dr Asroruddin mengisahkan bagaimana ia dan keluarga melawan Covid-19.

Selain dr Asroruddin, dua anak, istri, dan seorang pengasuh ikut terpapar virus mematikan ini.

Keputusan Bersama Kemendikbud Umumkan Syarat Mekanisme Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19

Secara runut, dr Asrorudin mengisahkan bagaimana ia dan keluarga berhasil sembuh dari Covid-19. Asro panggilan akrabnya menceritakan, dirinya terkonfirmasi pertama kali sebagai pasien Covid-19 di Pontianak melalui program screening.

Program screening ini diikuti dirinya bersama dengan tenaga kesehatan lainnya yang bertugas di RS Untan.

Screening dilakukan lantaran tenaga kesehatan dekat pasien dan berisiko tertular. Ketika proses rapid test, dirinya bersama dengan beberapa rekananya dinyatakan IgG reaktif. Menurutnya, IgG itu infeksi sudah cukup lama yakni lebih dari dua minggu.

“Kemungkinan tertular lebih dari dua minggu. Mengenai penularan juga tidak jelas, ketika Covid itu ada kita selalu menggunakan APD dengan lengkap dalam menangani pasien dengan perlindungan level tiga seperti menggunakan azmat, faceshield,” ujarnya.

Pada awalnya, karena telah merasa menggunakan seluruh APD dalam menangani pasien, ia tenang-tenang saja dalam melayani pasien. Meski demikian potensi penularan juga tetap dikhawatirkannya.

Diakuinya, potensi penularan bisa datang dari mana saja yang tidak bisa terdeteksi. Setelah dinyatakan reaktif rapid test, dr Asro langsung mengikuti proses swab dan melakukan isolasi. Selang dua hari menjalani swab, hasilnya menunjukkan konfirmasi positif.

“Saya kategori pasien tanpa gejala juga tidak, akan tetapi saya pasien dengan gejala ringan. Karena sebelumnya saya merasakan ada sakit tenggorokan, batuk ringan, dan tidak ada demam,” ujarnya.

Ia mengaku tak mengalami gejalan spesifik. “Sakit tenggorokan, batuk ringan dan kadang-kadang dan tidak ada demam. Karena tidak ada demam kita anggap penyakit biasa. Saya periksakan ke dokter THT kemungkinan ada virus,” katanya.

Perekaman KTP Elektronik Dilakukan di Dua Kantor Capil

Begitu tahu dirinya terpapar Covid-19, dr Asro langsung meminta agar anggota keluarganya ikut diperiksa.

Ia lantas melewati proses isolasi di Upelkes milik Pemerintah Provinsi Kalbar. Hal yang menjadi beban pikirannya bukanlah soal dirinya yang harus menjalani isolasi. Karena dirinya melakukan kontak erat dengan keluarga di rumah.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved