Kisah Dua Dokter Pontianak Sembuh dari Corona, Minta Masyarakat Patuhi Protokol Kesehatan
Saat sampai di rumah langsung ke kamar mandi paling dekat dengan pintu masuk untuk membersihkan diri. Semua protokol kesehatan telah dijalankan
“Kami sekeluarga berlima positif sehingga saya memutuskan untuk bergabung melakukan isolasi di rumah bersama keluarga. Semuanya tidak ada keluhan. Batuk juga tidak ada apalagi demam,” ujarnya.
Dokter ramah ini lantas menyatakan Covid-19 bisa menginveksi siapa saja. “Ini yang menjadi gambaran kita. Covid ini ada, riil bukan konspirasi. Ini bisa kita deteksi dari alat PCR,” katanya.
Lantaran sekeluarga positif, Asroruddin memilih menjalani isolasi mandiri di rumah mereka.
“Isolasi di rumah satu bulan. Akhir Mei kemarin negatif semua sekeluarga. Pengasuh yang pertama, saya dan anak-anak seminggu setelahnya. Kita tes swab enam kali. Yang ke enam negatif,” paparnya.
Sakit Tungkai Kaki
Pengalaman berjuang melawan Covid-19 juga diceritakan secara detil oleh dr Willy Brodus.
Awalnya ia cuma menderita sakit di tungkai sebelah kiri akibat dari penyumbatan pembuluh darah. Sepekan sebelum dirawat dan diisolasi, ia juga melakukan rapid test dan hasilnya negatif. Selain itu juga tidak ada demam, batuk, sesak nafas, dan penyakit penyerta lain.
Kendati demikian setelah sepuluh hari pasca rapid test yang pertama, Willy kemudian melakukan rapid test yang kedua dan hasilnya menunjukkan reakitf idm positif.
“Karena hasil rapid reaktif sehingga perlu dilakukan swab tenggorokan dan hidung dan hasil diagnosisnya pun positif. Saya yang tadinya dirawat di RS Santo Antonius kemudian dipindahkan ke RS dr Soedarso yang merupakan Rumah Sakit rujukan covid 19,” ujarnya.
Saat mendapatkan kabar dinyatakan terkonfirmasi positif covid 19, Willy bercerita mendapatkan support yang besar dari keluarganya.
Meskipun ketika itu, Istrinya juga tampak tidak begitu kaget termasuk juga anak-anaknya. Bahkan keluarganya terus memberikan dukungan serta doa agar dapat segera sembuh.
“Kalau respon keluarga tidak begitu kaget, saya lihat istri memang menaruh rasa khawatir tapi tetap beri semangat. Yaa sudah hadapi saja. Kalau anak-anak jauh lebih siap dan mereka tidak banyak omong tapi memberi semangat,” ujarnya.
Ia juga bercerita bahwa sebelum dinyatakan positif, dalam bertugas selalu meminimalisir potensi penularan, seperti selalu menggunakan APD lengkap saat melayani pasien, menggunakan masker.
Saat sampai di rumah langsung ke kamar mandi paling dekat dengan pintu masuk untuk membersihkan diri. Semua protokol kesehatan telah dijalankan. “Bahkan ketika berada dalam rumah selalu menggunakan masker,” ujarnya.
Selama 31 hari proses isolasi di RS dr Soedarso dijalaninya dengan bahagia. Proses isolasi juga tak membuatnya pesimistis dan menjadi frustasi. Banyak dukungan mengalir untuknya agar selalu berkobar semangat untuk sembuh.
Banyak hal produktif yang dilakukanya selama menjalani proses isolasi. Mulai dari menulis di akun instagramnya, membaca buku yang dikirimkan teman-teman sejawat, menonton tayangan di Youtube dan olahraga sepeda statis yang dipinjamkan oleh rekananya. Termasuk juga di antaranya mengikut kebaktian melalui livestreaming dari ponselnya.