Breaking News:

Hubungan China Vs Amerika Serikat Kritis, AS justru akan Kembali Mulai Operasi Konsulatnya di Wuhan

Melansir Reuters, Duta Besar AS untuk China, Terry Branstad mengatakan, pihaknya berniat untuk melanjutkan operasi di Wuhan, dalam waktu dekat

Editor: Haryanto
AFP
Ilustrasi - Banyak dari masyarakat yang tiba di Wuhan dengan menarik koper di belakang mereka ketika mereka kembali ke keluarga mereka pada hari Sabtu (28/3/2020). Wuhan Dibuka Sebagian Setelah Lockdown, Waspadai Gelombang Kedua Penyebaran Virus Corona 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, BEIJING - Di tengah hubungan China Vs Amerika Serikat (AS) yang tengah kritis, Kedutaan AS justru akan segera memulai kembali operasi konsulatnya di Kota Wuhan.

Pengoperasian Konsulat di Wuhan, China, tempat wabah virus corona baru ditemukan pertama kali pada akhir tahun lalu itu disampaikan pada hari Rabu (10/6/2020).

Melansir Reuters, Duta Besar AS untuk China, Terry Branstad mengatakan, pihaknya berniat untuk melanjutkan operasi di Wuhan, dalam waktu dekat.

Keterangan tersebut disampaikan oleh Frank Witaker, menteri penasihat untuk Urusan Publik di kedutaan, dalam email yang dikirimkan kepada Reuters.

Namun, belum jelas kapan waktu pasti hal itu disampaikan karena tanpa memberikan tanggal yang spesifik.

Amerika Serikat Vs China Terus Memanas, Pengusaha AS Eksodus dari Beijing, Indonesia Bukan Pilihan

TUDUH CHINA Sabotase Pengembangan Vaksin Virus Corona, Amerika Serikat Klaim Kantongi Bukti

CHINA Tantang Amerika Serikat Buktikan Tuduhan terkait Sabotase Pengembangan Vaksin Corona

Menyegarkan ingatan saja, Departemen Luar Negeri AS menarik staf konsulat dan keluarga mereka pada akhir Januari setelah pemerintah China mengunci kota itu untuk mencegah penyebaran virus.

Wuhan, sebuah kota di China tengah dengan populasi sekitar 11 juta orang, telah menjadi penyebab sebagian besar kasus dan kematian virus corona China.

Meskipun, epidemi telah mereda di sana dan di bagian lain negara itu.

Sejak mewabahnya pandemi, virus corona telah menyebar secara global, menginfeksi lebih dari 7 juta orang dan menewaskan lebih dari 410.000 orang.

Sementara itu, laporan CNN menunjukkan, Departemen Luar Negeri AS mengirim pemberitahuan kepada Kongres tentang hal tersebut.

Halaman
12
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved