Breaking News:

Masuk Sekolah lalu Tutup, Pengamat Pendidikan Ini Tak Ingin seperti Finlandia, Prancis atau Korsel

Oleh karenanya pendidikan yang memperhatikan minat bakat setiap anak yang berbeda-beda jelas tidak dapat diselenggarakan di sekolah

Editor: Haryanto
TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA/Diana
Ilustrasi - MENGAJAR: Diana Normiati, guru honorer sekolah di SDN 18 Lubuk Kedang, Kecamatan Ketungau Tengah, Kabupaten Sintang, sedang mengajar siswa siwi di sekolah. Diana merupakan guru honorer yang bertahan dengan gaji Rp 160 ribu perbulan. Sejak tahun 2007, Diana sudah mengabdi sebagai guru honorer. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, JAKARTA - Pengamat pendidikan, Budi Trikorayanto mengatakan dalam era new normal, pendidikan nasional haruslah belajar di luar sekolah, utamanya di dalam keluarga, di dunia nyata dan di dunia maya.

Ia menilai, saat ini masalah keamanan dan kesehatan siswa bukan masalah yang sepele, oleh karenanya belajar bisa dilakukan di mana saja.

Namun, kata Budi, bukan hanya di sekolah yang menjadi tempat berisiko paparan Covid-19 di tengah pandemi ini.

"Kita harus belajar dari Finlandia, Prancis dan Korea Selatan yang membuka lalu segera menutup kembali sekolah-sekolahnya karena terjadi penularan Covid-19 ke siswa dan guru," kata Budi saat dihubungi Kontan.co.id pada Kamis (4/6/2020).

Daerah Zona Hijau Sudah Boleh Masuk Sekolah, Ini Penjelasan Kemendikbud

MASUK Sekolah Sudah Boleh, Ikatan Guru Indonesia justru Minta Tahun Ajaran Baru Digeser ke Januari

Budi menambahkan, belajar di luar sekolah bukan hanya diartikan sebagai berlajar secara virtual.

"Belajar di luar sekolah itu tidak selalu virtual, mereka belajar di dunia nyata, dan tidak kumpul-kumpul dengan teman-temannya yang berisiko Covid".

"Lagi pula dengan belajar di rumah telah menurunkan polusi udara, hemat uang transpor serta uang jajan," imbuhnya.

Pemerintah pun harus lebih menyiapkan keluarga menjadi guru bagi anak-anaknya, dimana materi ajar yang kontekstual dan terjangkau harus diperbanyak.

"Bukan saja melalui internet, tetapi juga melalui radio dan televisi," ujar Budi.

Surat Edaran Mendikbud Nomor 04/2020, menurut Budi, menyatakan dalam pembelajaran di rumah, jangan terikat pada kurikulum target kenaikan kelas atau kelulusan, tetapi disesuaikan dengan minat dan kondisi setiap anak.

Halaman
12
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved