Mengapa dalam Sepekan ada 7 Hari? Ternyata Begini Sejarahnya
Peradaban lain memilih angka lain–bagi orang Mesir satu minggu itu 10 hari lamanya; atau bagi orang Romawi, delapan hari.
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Mengapa dalam satu minggu ada 7 hari?
Ini telah menjadi aturan yang berlaku cukup lama sehingga orang jarang bertanya-tanya mengapa demikian.
Sebagian besar perhitungan waktu kita berdasarkan pergerakan planet, Bulan dan bintang.
Satu hari kita sama dengan satu putaran penuh Bumi pada porosnya.
Satu tahun kita adalah jumlah waktu yang dibutuhkan Bumi untuk mengelilingi Matahari, yaitu 365 ¼ hari.
Itulah sebabnya kita menambahkan satu hari ekstra pada Februari setiap empat tahun untuk tahun kabisat.
Tapi mengatur jumlah waktu minggu dan bulan sedikit lebih rumit.
Fase Bulan tidak persis cocok dengan kalender Matahari.
• Kalender 2020 Berubah Lagi? Opsi Daftar Hari Libur dan Cuti Bersama Tahun Ini
Siklus Bulan berlangsung selama 27 hari dan tujuh jam, dan ada 13 fase Bulan di setiap tahun Matahari.
Beberapa peradaban paling awal mengamati kosmos dan mencatat pergerakan planet-planet, Matahari, dan Bulan.
Bangsa Babilonia, yang tinggal di wilayah yang kini kita kenal sebagai Irak, merupakan pengamat dan penafsir langit yang lihai.
Berkat mereka, kini satu minggu terdiri dari tujuh hari.
Alasan mereka mengadopsi angka tujuh adalah karena mereka mengamati tujuh benda langit: Matahari, Bulan, Merkurius, Venus, Mars, Jupiter dan Saturnus.
Jadi, angka itu memiliki arti khusus bagi mereka.
Peradaban lain memilih angka lain–bagi orang Mesir satu minggu itu 10 hari lamanya; atau bagi orang Romawi, delapan hari.