In Memoriam: Bruder Claudius Kuijpers MTB, dari Belanda Memilh Jadi Misionaris di Pedalaman Borneo

Meski sudah sepuh, namun jalannya masih terbilang tegak. Laki-laki bule tua itu adalah Br Claudius Kuijpers MTB.

Penulis: Stefanus Akim | Editor: Stefanus Akim
IST
KENANGAN - Br Claudius Kuijpers MTB (tengah), bersama Marsellus Basso (kanan) saat peringatan 100 tahun Persekolahan Katolik Nyarumkop (PKN) dan Reuni Agung PKN, Juli 2016 silam. 

PONTIANAK - Saban pagi, laki-laki bule atau lebih pantas disebut kakek-kakek bule itu berolahraga dengan cara berjalan mengelilingi kompleks Persekolahan Bruder Melati Pontianak di Jl AR Hakim. Laki-laki bule itu tersenyum saat para siswa menyapa-nya, dan ia pun balas menyapa. Satu tongkat berwarna cokelat tua membantu laki-laki sepuh itu berjalan.

Meski sudah sepuh, namun jalannya masih terbilang tegak. Laki-laki bule tua itu adalah Br Claudius Kuijpers MTB. Ia memamg tinggal tak jauh dari Persekolahan Bruder Melati Pontianak - sekolah yang terdiri dari TK, SD, SMP Bruder dan SMA St Paulus - tepatnya di Biara Bruder MTB, yang lokasinya bersebelahan dengan Katedral St Yoseph Pontianak, Jl Pattimura.

Kini, kita tak bisa lagi menemui laki-laki bule dengan tongkat cokelat tua nyaris kehitam-hitamannya itu. Pada Selasa (12/05/2020) sekitar pukul 19.35 WIB, Br Claudius Kuijpers MTB menghembuskan nafas terakhir di RSU St Antonius Pontianak dalam usia 91 tahun.

Biarawan dari kongregasi Maria Tak Bernoda (MTB) ini lahir sebuah desa di Belanda pada 16 Maret 1929.

Kepergian Br Claudius Kuijpers MTB menyisakan banyak kenangan manis dari orang-orang yang mengenalnya secara pribadi.

Satu di antara mantan murid Br Claudius Kuijpers MTB adalah Marsellus Basso. Mantan Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Kapuas Hulu ini berkisah, “Waktu pertama kali ketemu sore hari, siangnya kami testing masuk SMA. Sorenya ketemu beliau di jalan Sekabu-Wisma Widya (kompleks Persekolahan Katolik Nyarumkop). Saya arah menuju ke Sekabu dan beliau dari sekabu menurun ke arah gereja. Saya sapa beliau, ‘Selamat sore, pater.’ Beliau jawab, ‘Saya bukan pastor, saya bruder.’

Marsellus Basso mengingat pertemuan pertama kali dengan Br Claudius Kuijpers MTB terjadi pada tahun 1973 saat diriny amasuk SMA St Paulus Nyarumkop. Marsellus Basso berada di Nyarumkop selama tahun 1973-1976. “Saya SMA 4 tahun karena perubahan tahun ajaran pada Januari-Februari,” kenangnya.

“Beliau rendah hati, senyum dikulum dan sangat cerdas,” Marsellus Basso berkisah, “beliau sering bilang, macam tuku garam, mungkin artinya tidak tahu apa-apa. Juga kalian seperti dalam karung.”

Marsellus Basso mengungkapkan Br Claudius Kuijpers MTB adalah orang yang disiplin.

Ia mengatakan, teori pelajaran selalu dipraktikkan di depan kelas bukan hanya sekadar ngomong tentang teori.

Saat di depan kelas Br Claudius Kuijpers MTB sering memanggil para siswa-nya karung garam jika pasif dalam pelajaran. Belakangan mantan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (DPMPD) Kapuas Hulu ini baru tahu istilah karung garam karena para siswa diam saja atau tidak ada respon saat beliau-mengajar.

Marsellus Basso sangat berduka dengan kepergian Br Claudius Kuijpers MTB. Di laman Facebook-nya Marsellus Basso pun menulis cukup panjang:

Turut berbela sungkawa yg mendalam atas berpulangnya Br. Claudius, MTB. Semoga para kudus di Surga menyambutnya dengan sukacita. Br. Claudius, MTB adalah mantan guru aljabar dan IPA di SMA Santo Paulus Nyarumkop dan di SPG Adisucipto Nyarumkop.

Saya mengagumi beliau antara lain karena sifatnya yg rendah hati, murah senyum dan cerdas. Menghitung perkalian, pembagian, penambahan dan pengurangan di atas 2 digital cukup dilakukan di luar kepala; hanya dengan menempelkan telunjuk kiri di sela2 gigi bagian bawah, beliau sudah mengetahui jawabannya.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved