Daya Beli Turun, Kalbar Alami Deflasi pada April

Masing-masing Kota Pontianak deflasi 0,08 persen, Kota Singkawang deflasi 0,15 persen dan Kabupaten Sintang 0,21 persen.

TRIBUN PONTIANAK/NINA SORAYA
Kepala BPS Kalbar Moh Wahyu Yulianto memberikan pemaparan terkait deflasi yang terjadi di Kalbar via live streaming, Senin (4/5/2020). 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID,PONTIANAK – Badan Pusat Statistik (BPS) RI mencatat inflasi April adalah sebesar 0,08 persen. Angka inflasi yang sangat rendah padahal di momentum Ramadan.

Tak jauh berbeda, BPS Kalbar mencatat inflasi April 2020 di Kalbar justru minus atau deflasi 0,10 persen. Dengan inflasi sepanjang 2020 yakni sebesar 1,21 persen.

Inflasi April 0,08%, Kepala BPS RI: Ini Tak Biasa

Tagana Serahkan Masker ke Masyarakat Desa Suka Maju

Peringatan Dini BMKG untuk Wilayah Kalbar: Potensi Terjadi di Singkawang, Pontianak & Daerah Berikut

Lalu untuk inflasi tahun ke tahun (April 2020 terhadap April 2019) sebesar 2,87 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kalbar Moh Wahyu Yulianto mengungkapkan tiga kabupaten kota di Kalbar yang dilakukan pencatatan inflasinya juga mengalami deflasi pada April 2020.

Masing-masing Kota Pontianak deflasi 0,08 persen, Kota Singkawang deflasi 0,15 persen dan Kabupaten Sintang 0,21 persen.

“Memang biasanya tekanan inflasi relatif tinggi (di Bulan Puasa). Tapi karena adanya wabah Covid-19 menyebabkan daya beli turun,” ungkap Wahyu dalam live streaming Berita Resmi Statistik, Senin (4/5/2020).

Jika melihat kelompok pengeluaran, maka ada tiga kelompok penyumbang deflasi.

Yaitu kelompok makanan minuman dan temabakau, kelompok transportasi, dan kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan.

“Walau hanya tiga kelompok, tapi tarikannya cukup kuat dalam sumbangsih deflasi April,” urainya.

Satuan Lalu Lintas Polresta Pontianak Kota Laksanakan Program Peduli Keselamatan Tahun 2020

Gunakan APD, Polres Bengkayang Latihan Pemulasaran Jenazah Covid-19

Daftar Akhir Masa Jabatan DPD Golkar Kabupaten Kota di Kalbar

Adapun komoditi pendorong deflasi di antaranya daging ayam ras, tariff angkutan udara, biaya pulsa ponsel, ikan kembung dan cabai rawai.

“Kita ketahui memang terjadi penurunan harga pada komoditas tersebut,” katanya.

Sementara itu komoditi yang menjadi penahan deflasi atau yang harganya masih tinggi yakni telur ayam ras, bawang merah, gula pasir, sawi hijau dan emas perhiasan.

Penulis: Nina Soraya
Editor: Nina Soraya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved