human interest story
Gerindra Salurkan Enam Ton Beras, Ringankan Masyarakat Terdampak Covid-19
Aksi bagi-bagi beras dan masker ini sudah dilakukan sejak Jumat (10/4) lalu dan akan terus berlanjut hingga Senin (13/4) mendatang.
Penulis: Chris Hamonangan Pery Pardede | Editor: Didit Widodo
Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Ridho
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, TRIBUN - Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Provinsi Kalimantan Barat menunjukkan kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak kebijakan pembatasan sosial akibat wabah korona. Kepedulian tersebut ditunjukkan dengan memberikan bantuan beras dan masker secara cuma-cuma kepada masyarakat.
Sebanyak enam ton beras dan belasan ribu helai masker dibagikan dalam aksi sosial yang turut melibatkan DPC Gerindra Kota Pontianak dan Anggota Fraksi Gerindra DPRD Kota Pontianak tersebut.
Beras dan masker sebanyak itu diserahkan kepada masyarakat umum, pemilik warung kecil, pondok pesantren, panti asuhan, lembaga pendidikan, dan kelompok masyarakat lain yang terdampak wabah Covid-19.
Ketua DPD Partai Gerindra Kalbar Yuliansyah mengatakan, aksi sosial yang dilakukan ini bertujuan meringankan beban masyarakat yang terdampak pandemi korona, terutama masyarakat yang berdomisili di Kota Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya.
Dirinya menuturkan, aksi bagi-bagi beras dan masker ini sudah dilakukan sejak Jumat (10/4) lalu dan akan terus berlanjut hingga Senin (13/4) mendatang.
"Total semuanya enam ton beras yang kita bagikan. Ini tidak kita bagikan sekaligus, tetapi bertahap. Jumat lalu kita bagikan ke Kecamatan Pontianak Utara, hari ini di Pontianak Barat, Pontianak Kota, Pontianak Selatan dan Pontianak Tenggara. Kemudian besok ke Pontianak Timur dan terakhir, Senin nanti di Kubu Raya," katanya, Minggu (12/04).
• Bupati Landak Tegaskan Penyerahan Bantuan Pangan Tidak Dipungut Biaya
• Bupati Landak Tegaskan Penyerahan Bantuan Pangan Tidak Dipungut Biaya

Pria yang biasa disapa Yuli ini mengharapkan agar bantuan yang disalurkan oleh partainya ini dapat bermanfaat bagi seluruh penerima. Meskipun, kata dia, bantuan tersebut belum bisa menjangkau seluruh masyarakat yang terdampak wabah korona.
"Kita sadari betul bahwasanya bantuan ini memang belum mampu meng-cover seluruh masyarakat yang terdampak. Meski begitu, mudah-mudahan bantuan yang jauh dari kata cukup ini dapat meringankan beban mereka yang terdampak," harapnya.
Lebih lanjut pria yang juga menjabat Ketua Ikatan Motor Indonesia (IMI) Kalimantan Barat ini juga mengimbau seluruh masyarakat untuk melakukan langkah-langkah pencegahan penularan Virus Corona, seperti menerapkan pola hidup bersih dan sehat, mengurangi aktivitas di luar rumah, menghindari kerumunan, rajin mencuci tangan, dan disiplin menerapkan pembatasan fisik.
Di tengah pandemi Corona ini, masyarakat juga dimintanya untuk tetap tenang dan tidak panik.
"Selaku Ketua DPD Gerindra Kalbar, saya turut mengimbau seluruh masyarakat, khususnya masyarakat Kalbar untuk menghindari kerumunan guna mengurangi risiko penularan Covid-19. Lebih baik berdiam diri di rumah dan tidak keluar kalau tidak ada urusan yang penting," tandasnya.
Terpisah, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Ferry Juliantono, menilai virus corona atau Covid-19 telah menimbulkan krisis ekonomi maupun sosial dalam kehidupan rakyat Indonesia. Kehidupan rakyat secara umum semakin berat, dan menyebabkan kesengsaraan rakyat kian menggunung atau memuncak terutama dalam bentuk kesenjangan antara rakyat dengan elite.
"Namun demikian, krisis juga bukan hanya memperlihatkan kesenjangan sosial dan ekonomi yang ada di masyarakat kita, tapi juga terdapat kesenjangan sekaligus perbedaan pikiran antara elite pemerintahan dengan pikiran dalam masyarakat tentang realita yang ada," kata Ferry, belum lama ini.
Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (DPP APPSI)
itu menuturkan sebelum kasus Covid-19 muncul, rakyat sudah terbiasa hidup dalam berbagai ketidakpastian oleh karena pemerintah kerap menggunakan buzzer serta influencer (pemengaruh) bayaran yang menyebabkan penguasa menjadi tidak peka, anti kritik, serta cenderung elitis, yang semata-mata mengejar tercapainya sebuah pencitraan di luar harapan rakyat.
"Nah, biasanya kalau terjadi kesenjangan seperti itu maka pemerintah akan menggunakan kekuasaan yang otoriter, sementara rakyat hanya akan menggunakan jalan kekuatannnya sendiri," pungkas Ferry.