Corona Masuk Indonesia

Sejarah Catat 4 Wabah Besar Mematikan dalam Siklus 100 Tahun, Tak Hanya Virus Corona

Entah sebuah kebetulan atau tidak, dalam catatan sejarah setiap 100 tahun ada wabah atau pandemi luar biasa besar yang melanda dunia.

Penulis: Dhita Mutiasari | Editor: Dhita Mutiasari
news-intel.com
Sejarah Catat 4 Wabah Besar Mematikan dalam Siklus 100 Tahun, Tak Hanya Virus Corona 

Sejarah Catat 4 Wabah Besar Mematikan dalam Siklus 100 Tahun, Tak Hanya Virus Corona

Siklus 100 Tahun (1720, 1820, 1920, 2020) Wabah Besar Pernah Melanda Dunia

Virus Corona (Covid-19) yang saat ini mewabah di seluruh dunia.

Persebaran virus corona baru atau 2019-CoV sudah menginfeksi lebih dari 150 negara di dunia.

Sementara lebih dari 180 kasus positif virus corona teridentifikasi sejak kasus pertama akhir Desember 2019 di Wuhan, China.

Pesatnya persebaran virus jenis baru ini akhirnya membuat Badan Kesehatan Dunia (WHO) pekan lalu (11/3/2020) menetapkannya menjadi sebuah pandemi.

Karena manusia telah menyebar ke seluruh dunia, demikian pula halnya dengan penyakit menular.

Bahkan di era modern ini, wabah hampir konstan, meskipun tidak setiap wabah mencapai tingkat pandemi seperti yang dimiliki Novel Coronavirus (COVID-19).

Entah sebuah kebetulan atau tidak, dalam catatan sejarah setiap 100 tahun ada wabah atau pandemi luar biasa besar yang melanda dunia.

Pandemi tersebut adalah Wabah Besar Marseille (1720), Wabah Kolera (1820), Flu Spanyol (1920), dan terakhir adalah Virus Corona (2020).

Daftar Negara Lockdown Akibat Wabah Virus Corona : Belgia Susul Malaysia, Spanyol, Belanda & Italia

Apakah ini hanya sebuah kebetulan atau kah ada sesuatu di baliknya?

Terlepas dari beragam teori konspirasi yang menyertainya, namun inilah daftar pandemi global seperti dilansir Tribunpontianak.co.id dari berbagai sumber:

1. Wabah Besar Marseille (1720)

Pemandangan Balai Kota selama wabah 1720 (Pemandangan Balai Kota selama wabah 1720)
Pemandangan Balai Kota selama wabah 1720 (Pemandangan Balai Kota selama wabah 1720) (Michel Serre via europebetweeneastandwest.wordpress.com)

Pada 1720 ada pandemi mematikan penyakit pes.

Wabah tersebut dimulai di Marseille dan kemudian disebut "Wabah Besar Marseille."

Para peneliti memperkirakan jumlah kematian sebanyak 100.000 orang.

Wabah Besar Marseille merupakan salah satu wabah bubonik terakhir yang signifikan di Eropa.

Wabah ini datang ke Marseille, Prancis pada tahun 1720, dan membunuh 100.000 orang di dalam kota dan sekitarnya.

Bagaimanapun, Marseille dapat pulih dengan cepat dari wabah tersebut.

Aktivitas perekonomian hanya membutuhkan beberapa tahun untuk kembali seperti semula, terutama ketika perdagangan telah berkembang menuju Hindia Barat dan Amerika Latin.

Pada tahun 1765, jumlah populasi telah kembali seperti pada tahun 1720.

OBAT Virus Corona asal Jepang Diklaim China Efektif Sembuhkan Covid-19, Sudah Terbukti Uji Klinis

2.  Wabah Kolera (1820)

Wabah Kolera (tahun 1820)
Wabah Kolera (tahun 1820) (Devastating Disasters)

Kolera menjadi penyakit yang sangat penting secara global pada tahun 1817.

Pandemi atau wabah ini dikenal juga dengan pandemi kolera Asiatik atau kolera Asiatik pertama.

Awal mula kemunculannya dimulai dekat kota Calcutta lalu kemudian menyebar ke seluruh Asia Tenggara, Timur Tengah, Afrika Timur, hingga pantai Mediterania.

Ratusan ribu orang tewas akibat pandemi ini termasuk banyak tentara Inggris yang kemudian menarik perhatian Eropa.

Pada tahun itu wabah yang sangat mematikan terjadi di Jessore, India, di tengah-tengah antara Calcutta (Kolkata) dan Dhaka (sekarang di Bangladesh), dan kemudian menyebar ke sebagian besar India, Burma (Myanmar), dan Ceylon (Sri Lanka).

Pada 1820 epidemi telah dilaporkan di Siam (Thailand), di Indonesia (di mana lebih dari 100.000 orang meninggal di pulau Jawa saja), dan sejauh Filipina.

Di Basra, Irak, sebanyak 18.000 orang meninggal selama periode tiga minggu pada tahun 1821.

Pandemi menyebar ke seluruh Turki dan mencapai ambang Eropa.

Penyakit ini juga menyebar di sepanjang rute perdagangan dari Saudi ke pantai timur Afrika dan Mediterania. Selama beberapa tahun berikutnya, kolera menghilang dari sebagian besar dunia kecuali untuk "pangkalan" di sekitar Teluk Benggala.

Pandemik ini dimulai dari orang-orang yang minum air yang terkontaminasi bakteri ini. Asal dari endemik ini adalah dari Sungai Gangga.

Pada saat festival, para peziarah tertular penyakit di sana dan membawanya ke tempat-tempat lainnya di India saat mereka kembali.

Beberapa ahli epidemiologi dan sejarawan medis telah menyarankan bahwa penyebarannya secara global melalui ziarah Hindu, Kumbh Mela, di hulu Sungai Gangga. Wabah kolera sebelumnya telah terjadi di dekat Purnia di Bihar.

Total kematian akibat epidemi ini di seluruh dunia masih belum dapat dipastikan dengan jelas.

Namun beberapa ahli memperkirakan bahwa untuk di Bangkok, Thailand kemungkinan terjadi 30.000 kematian akibat penyakit ini. Sementara itu di Semarang, ada sebanyak 1.225 orang meninggal dunia dalam 11 hari pada bulan April 1821.

3. Flu Spanyol (1920)

Barak yang diperuntukkan penderita flu Spanyol di Camp Funston, Kansas, 1918.
Barak yang diperuntukkan penderita flu Spanyol di Camp Funston, Kansas, 1918. (TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ISTIMEWA/Otis Historical Archives, National Museum of Health and Medicine via Kompas.com)

Pandemi influenza 1918 (Januari 1918 - Desember 1920; juga dikenal sebagai flu Spanyol) adalah pandemi influenza mematikan yang luar biasa, yang pertama dari dua pandemi yang melibatkan virus influenza H1N1, dengan yang kedua adalah flu babi pada 2009. 

Flu Spanyol menginfeksi 500 juta orang di seluruh dunia, atau sekitar 27% dari populasi dunia antara 1,8 dan 1,9 miliar.

Jumlah korban diperkirakan sekitar 17 juta  hingga 50 juta, dan mungkin setinggi 100 juta, menjadikannya salah satu epidemi paling mematikan dalam sejarah manusia.

Data historis dan epidemiologis tidak memadai untuk mengidentifikasi dengan pasti asal geografis pandemi ini. 

Kebanyakan wabah influenza secara tidak proporsional membunuh orang yang sangat muda dan sangat tua, dengan tingkat kelangsungan hidup yang lebih tinggi untuk mereka di antaranya, tetapi pandemi flu Spanyol menghasilkan tingkat kematian yang lebih tinggi dari perkiraan untuk orang dewasa muda.

Untuk mempertahankan moral, sensor masa perang meminimalkan laporan awal penyakit dan kematian di Jerman, Inggris, Prancis, dan Amerika Serikat.

Makalah bebas melaporkan efek epidemi di Spanyol yang netral (seperti penyakit serius Raja Alfonso XIII).

Kisah-kisah ini menciptakan kesan yang salah tentang Spanyol sebagai pukulan telak, sehingga menimbulkan nama panggilan pandemi, "flu Spanyol". 

4. Virus Corona/ Covid-19 (2020)

ILUSTRASI - KISAH Wanita Relawan Pertama Uji Vaksin Virus Corona! AS, Eropa hingga China Berlomba Atasi Covid-19
ILUSTRASI - KISAH Wanita Relawan Pertama Uji Vaksin Virus Corona! AS, Eropa hingga China Berlomba Atasi Covid-19 (TRIBUNNEWS)

Virus ini pertama kali diidentifikasi di Wuhan, ibu kota provinsi Hubei China. Virus ini telah menunjukkan bukti penularan dari manusia ke manusia dan tingkat penularannya tampaknya meningkat pada pertengahan Januari 2020.

Meskipun ada upaya dari pemerintah China dan lembaga lain untuk mengkarantina seluruh kota, tampaknya virus tersebut telah berhasil menyebar ke luar perbatasan Cina, dengan sejumlah penduduk negara lain mulai dari Eropa hingga Amerika didapati orang-orang yang suspect virus ini.

Gejala orang yang terindikasi virus Corona antara lain yaitu demam, batuk, kesulitan bernafas yang bisa berakibat fatal hingga kematian.

Kematian pertama yang dikonfirmasi disebabkan dari infeksi virus corona terjadi pada tanggal 9 Januari 2020 dan sejak itu sudah ada 214 kematian yang telah dikonfirmasi.

Sementara itu penularan virus di luar China yang pertama terjadi di negara Vietnam dari seorang ayah ke putranya.

Sementara itu, penularan lokal pertama yang tidak melibatkan keluarga yaitu terjadi di Bavaria, Jerman.

Pada 22 Januari 2020 seorang pria Bavaria tertular penyakit ini dari seorang rekan bisnis dari China pada sebuah pertemuan di Jerman. 

Di Indonesia sendiri hingga berita ini diturunkan, terjadi penambahan signifikan kasus Covid-19  jika dibandingkan data pasien pada Selasa (17/3/2020).

Menurut Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Virus Corona, Achmad Yurianto, hingga Rabu ada 227 kasus Covid-19 di Indonesia. "Ada tambahan 55 kasus, sehingga total sampai sekarang, dihitung sampai kami melaporkan pada Rabu, 18 Maret 2020 pukul 12.00 ada 227 kasus," ucap Achmad Yurianto, dalam konferensi pers di Graha BNPB, Rabu.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved