Corona Masuk Indonesia

Kenapa Dinamakan Virus Korona? Berikut Penjelasannya

Virus corona atau korona (2019-nCoV) diumumkan positif masuk Indonesia, Senin (2/3/2020) dengan dua pasien yang kini sedang dalam penanganan medis.

Penulis: Marlen Sitinjak | Editor: Marlen Sitinjak
SMITH COLLECTION/GADO
Ilustrasi struktur virus korona. Kenapa Dinamakan Virus Korona? Berikut Penjelasannya. 

Kenapa Dinamakan Virus Korona? Berikut Penjelasannya

VIROS CORONA - Virus corona atau korona (2019-nCoV) diumumkan positif masuk Indonesia, Senin (2/3/2020) dengan dua pasien yang kini sedang dalam penanganan medis.

Berikut penjelasannya kenapa dinamakan virus corona.

Disebut sebagai virus corona, sebetulnya merujuk pada sebutan kelompok virus yang melingkupinya.

Virus ini juga telah diberi sebutan sementara 2019-nCoV. Tetapi sebutan itu dikatakan terlalu rumit.

Sekelompok ilmuwan sedang bergulat untuk menemukan istilah yang tepat.

Saat ini mereka mengatakan kepada BBC bahwa mereka segera mengumumkan nama yang tepat bagi virus itu.

Jadi, mengapa proses penamaan itu menyita waktu lama?

Sempat Berinteraksi dengan 2 Pasien Positif Corona di Depok, Kondisi 73 Petugas Medis Dipantau

10 Cara Stop Keganasan Virus Korona

"Penamaan virus baru acapkali tertunda dan fokusnya sampai sekarang adalah pada respon otoritas kesehatan, yang kira-kira lebih gampang dipahami," kata Crystal Watson, asisten profesor di Johns Hopkins Center for Health Security.

"Tapi ada berbagai alasan bahwa penamaan itu harus menjadi prioritas," tambahnya.

Untuk mencoba membedakan virus khusus ini, para ilmuwan telah menyebutnya novel atau virus baru corona. Nama Virus corona digunakan karena bentuknya menyerupai mahkota dengan ujung-ujungnya berpaku ketika dilihat melalui mikroskop.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah merekomendasikan nama sementara, yakni 2019-nCoV, yang merujuk pada tahun ditemukannya, dan huruf "n" untuk merujuk pada new (baru) atau novel, serta "CoV" untuk coronavirus atau virus corona. Tapi istilah itu belum benar-benar pasti.

"Nama yang dimilikinya sekarang tidak mudah digunakan dan media serta masyarakat menggunakan nama lain untuk virus tersebut," kata Dr Watson.

"Menjadi berbahaya saat Anda tidak memiliki nama resmi, di mana masyarakat mulai menggunakan istilah-istilah seperti virus China, dan hal itu dapat memancing reaksi negatif terhadap populasi tertentu," paparnya.

Dengan keberadaan media sosial, nama tidak resmi tersebut akan cepat menyebar dan bertahan lama dan sulit untuk ditarik kembali, katanya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved