Kalbar Berduka

Tumbang Saat Belanja, Prof Dr AB Tangdililing Wafat, Alumni FISIP Untan Sampaikan Duka Cita

Juru bicara keluarga, Dharma Rerung menceritakan, almarhum tiba-tiba terjatuh saat sedang berbelanja bersamanya di Swalayan Dutalia

kolase
Jenazah Prof Dr Andreas Barung (AB) Tangdililing MSc masih disemayamkan di Kupang NTT, Jumat (14/2). Almarhum semasa hidupnya. 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Ridho /Post Kupang  

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, TRIBUN - Keluarga besar Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik (FISIP) Universitas Tanjungpura, berduka. Satu di antara guru besarnya yakni, Prof Dr Andreas Barung (AB) Tangdililing MA tutup usia, Jumat (14/2/2020) pukul 10.45 WIB di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kabar duka ini pun sontak mengejutkan berbagai kalangan, termasuk para alumni FISIP Untan yang pernah merasakan sentuhan akademisinya.

Prof Dr Andreas Barung (AB) Tangdililing MSc  semasa hidupnya
Prof Dr Andreas Barung (AB) Tangdililing MSc semasa hidupnya (istimewa)

Ucapan turut berduka atas kabar tersebut meramaikan beberapa grup whatsApp ikatan alumni FISIP Untan.

“Hingga saat ini beliau masih menjabat Dewan Penasihat (Wanhat) Pengurus Pusat Ikatan Keluarga Alumni (PP IKA) FISIP Untan. Orangnya cerdas, tenang. Saya mewakili pengurus serta Ketua Umum PP IKA FISIP, menyampaikan rasa duka mendalam,” ujar Sekjen PP IKA FISIP Untan, Deden Ari Nugraha.

Almarhum juga dikenal sebagai dosen yang tidak pernah menyusahkan mahasiswa dalam urusan akademik.

“Saya dan keluarga turut berduka cita, semoga almarhum diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa. Selamat jalan sang dosen dan penguji skripsiku,” tulis Arifin, satu di antara senior di pengurusan IKA FISIP.

Ungkapan duka cita juga memenuhi grup whatsApp alumni PKM Untan. “RIP untuk almarhum dan keluarga yang ditinggalkan semoga tabah,” tulis Andi Robert.

“Turut berduka cita, semoga arwah beliau tenang di sisi TuhanNya,” tulis Iwan ‘Enggang’ Darmawan.

TERUNGKAP Pemicu Kecelakaan Renggut 2 Jiwa di Depan Markas TNI Sambas, Ada yang Melanggar Aturan

Prof Dr Andreas Barung (AB) Tangdililing MSc tatap muka bersama jajaran Pengurus Pusat Ikatan Keluarga Alumni FISIP Untan yang menjadikannya dewan penasehat (wanhat) PP IKA FISIP Untan priode 2016-2020, beberapa waktu lalu.
Prof Dr Andreas Barung (AB) Tangdililing MSc tatap muka bersama jajaran Pengurus Pusat Ikatan Keluarga Alumni FISIP Untan yang menjadikannya dewan penasehat (wanhat) PP IKA FISIP Untan priode 2016-2020, beberapa waktu lalu. (istimewa)

Sosok Penuh Kasih

Sekretaris Program Pascasarjana FISIP Untan Pontianak, Dr Yulius Yohanes MSi menerangkan semasa hidup, sosok Prof AB Tangdililing merupakan akademisi yang telah mengeyam beberapa jabatan di Untan.

Mulai dari ketua jurusan, pembantu dekan, sampai kepada Dekan FISIP, dan terakhir ia menjabat Pembantu Rektor IV Bidang Kerjasama.

Selain itu juga, Almarhum AB Tangdililing merupakan senat Universitas Tanjung Pura.

Almarhum meninggalkan istri bernama Kristina, tiga anak, dua orang menantu, dan dua orang cucu.

"Kami dari keluarga besar FISIP Untan dan masyarakat Kalbar umumnya merasa kehilangan atas sosok Prof AB Tangdililing MA, semasa hidupnya beliau betul-betul berperan sebagai bapak yang baik, selalu menuntun dan memberikan motivasi kepada kami," tutur Yulius Yohanes.

Selain itu, Yulius Yohanes mengenang jika almarhum sosok yang menjalankan tugas dengan penuh tangung jawab dan berkerja dengan konsisten.

Almarhum, kata dia, juga selalu berkata jangan melakukan sesuatu berdasarkan emosional, namun gunakan hati dan perasaan dengan penuh kasih.

Di lain sisi, lanjutnya, almarhum adalah tokoh yang cukup banyak kontribusinya dapam kemajuan pembangunan terutama pada bidang pendidikan.

"Almarhum sosok guru yang selalu bersahaja, bergaul tidak memandang batas kalangan usia, sosok almarhum ini sangat terbuka dan periang dan sangat enjoy, namun dibalik kelembutan sikap beliau sangat tegas dan adil," terangnya.

Dekan FISIP Untan Kehilangan Sosok Guru Besar AB Tangdililing, Jenazah Akan Diterbangkan ke Toraja

Apresiasi MIN Sanggau Gelar Market Day, Abang Indra: Berharap Kegiatan Ini Berkelanjutan

Kunjungi Anak 

Almarhum Prof AB Tangdililing wafat pada usia 67 tahun. Saat ini jenazah sementara masih disemayamkan di Kupang.

Pihak keluarga berencana untuk membawa jenazah almarhum ke kediamannya di Pontianak.

Namun belum disepakati keluarga apakah jenazah dibawa untuk dimakamkan di Pontianak atau Toraja, tanah kelahirannya.

Juru bicara keluarga, Dharma Rerung mengatakan, sesuai rencana jenazah akan diberangkatkan dari Kupang pada Sabtu. Namun, masih menunggu keputusan keluarga.

"Kita masih tunggu keputusan keluarga apakah jenazah almarhum dibawa ke Pontianak atau Toraja. Rencananya besok pagi atau kalau molor bisa lusa (Minggu), " ujar Dharma di ruang pemulasaran zenazah RSUD Prof Johannes Kupang.

Sementara itu, putra bungsu dari almarhum, Rendy A Tangdililing yang bertugas sebagai ASN di Pemkab Kupang setia mendampingi jasad almarhum.

Juru bicara keluarga, Dharma Rerung menceritakan, almarhum tiba-tiba terjatuh saat sedang berbelanja bersamanya di Swalayan Dutalia yang berada di Jalan Timor Raya Kelurahan Oesapa Kecamatan Kelapa Lima, sekira pukul 11.00 WITA.

Saat itu, Dharma yang berpangkat keponakan dalam keluarga menemaninya untuk mencari oleh-oleh dan bekal perjalanan karena mereka akan pergi ke Malaka.

"Saya sempat tangkap tubuhnya yang jatuh ke samping. Saya tahan dengan tangan kanan," kata Dharma. Dharma yang panik langsung meminta pertolongan pertama saat pamannya terjatuh.

Ia tidak lagi menghiraukan barang belanjaannya.

Saat itu pula, ia melarikan pamannya ke RSUD Johanes Kupang dengan mobilnya.

"Kita lari (perjalanan dengan mobil) dari Dutalia ke rumah sakit mungkin hanya sepuluh menit," tuturnya.

Sesampainya di IGD RSUD Prof Johannes, dokter kaga bersama para tenaga medis sempat melakukan pertolongan. Namun tak berselang lama, dokter menyatakan meninggal dunia.

"Paman meninggal dunia karena serangan jantung. Sudah tidak ada lagi pukul 12 kurang. Waktu kita bawa, denyut nadi masih ada," katanya. Dharma bahkan seakan tak percaya dengan kematian yang seolah tanpa aba-aba itu.

Pasalnya, sejak tiba beberapa hari yang lalu dari Pontianak dan saat bersama dengannya, Prof AB Tangdililing terlihat sehat.

"Misteri Tuhan kita tidak tahu, padahal saat bersama dari pagi paman tampak sehat," katanya.

Dharma mengatakan, almarhum di Kupang beberapa hari ini, untuk menjenguk putranya, Rendy. Rendy sendiri tidak tinggal bersamanya, namun ia tinggal di kos.

Sebab Rendy sudah bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil di Kabupaten Kupang. "Almarhum juga pilih tinggal bersama putranya karena temat kosnya juga representatif," ujarnya.

Pagi sebelum berangkat itulah, dia dihubungi almarhum untuk berbelanja kebutuhan untuk pergi ke Malaka. "Rencananya setelah dari Malaka, Senin almarhum langsung balik ke Pontianak karena Selasa ada menguji mahasiswanya di kampus," kenang Dharma. Almarhum memang sudah dua kali ini secara khusus datang ke Kupang untuk melihat putranya.

Rendy yang menunggui jenazah ayahnya terlihat banyak diam. Sejumlah kerabat berusaha memberikan penghiburan untuk meneguhkan hatinya. Ia sama sekalii tidak menyangka kalau kedatangan ayahnya kali ini, adalah kedatangan yang terakhir kali untuk melihat dirinya.

Sebelum diberangkatkan ke rumah duka, dilakukan doa bersama, doa pelepasan untuk almarhum oleh Pendeta Liance di RSUD RSUD Prof Johannes Kupang. (*/Pos Kupang)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved