Cap Go Meh
Cap Go Meh Singkawang Jadi Even Terbesar Dunia, Tjhai Chui Mie Ucap Syukur dan Bangga
Festival Cap Go Meh dikukuhkan sebagai kekayaan intelektual komunal, ekspresi budaya tradisional oleh Kementerian Hukum dan HAM.
Penulis: Ridhoino Kristo Sebastianus Melano | Editor: Maudy Asri Gita Utami
Wisatawan asal Swedia, yakni James sengaja datang ke Singkawang untuk menyaksikan Cap Go Meh.
Menurutnya, kinerja panitia Cap Go Meh patut diacungi jempol.

"Saya suka Cap Go Meh, acaranya sangat teroganisir," ungkapnya saat diwawancarai Tribun saat menyaksikan parade Tatung.
Selain itu, ia juga menceritakan jika Cap Go Meh merupakan hal menarik yang sayang dilewatkan.
"Mungkin tahun depan saya akan kembali lagi," tambahnya.
800 Tatung Ramaikan
Lebih dari 800 Tatung unjuk kebolehan di Jalanan Kota Singkawang, Sabtu (8/2).
Parade Cap Go Meh rutin digelar setiap tahunnya di Kota Singkawang.
Tahun ini sedikitnya terdapat lebih dari 800 Tatung berpartisipasi meramaikan Cap Go Meh.

Tampak para kelompok Tatung silih bergantian mengelilingi rute pawai dengan membopong tandu dewa dan tandu tatung.
Tabuhan gendang dan musik khas Cap Go Meh juga bergantian mengiringi para Tatung dengan menunjukan aksinya.
Ketua Umum Panitia, Festival Imlek 2571 dan Cap Go Meh 2020 Singkawang, Hengky Setiawan mengatakan hari ini merupakan puncak kegiatan rangkaian Festival Imlek dan Cap Go Meh yang dimulai sejak 23 Januari 2020.
"Hari ini ada 847 Tatung, naga, barongsai dan seni budaya lainnya," katanya.
Tahun ini panitia mengangkat tema Budaya Pemersatu Bangsa yang telah dilihat melalui tarian NKRI dari beragam budaya yang menyatu.
Kota Singkawang telah meraih predikat sebagai kota tertoleran di Indonesia tahun 2019 dari Setara Institute.