Gubernur Sutarmidji Usulkan Tata Niaga Ekspor Kratom Saat Pertemuan di Kantor Staf Kepresidenan

Dalam pembicaraan di KSP Midji, menegaskan tidak untuk mengambil keputusan tapi mematangkan kajian-kajian tentang kratom.

TRIBUN PONTIANAK/ANESH VIDUKA
Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji 

Bahkan menurutnya UNICEF sudah menetapkan kawasan itu, sebagai kawasan yang menopang paru-paru dunia.

Maka hal itu harus dipikirkan, dampak ekologinya akan lebih besar dibandingkan yang lainnya apabila 20 juta pohon kratom di Kapuas Hulu ditebang.

Kemudian seandainya diputaskan dilarang, maka untuk mengalihkan 120 ribu atau lebih dari separuh penduduk Kapuas Hulu yang bergantung pada kratom, harus diganti dengan sumber pendapatan lainnya.

"Sehingga saya sarankan, tidak buru-buru untuk melarang. Tapi lebih baik lakukan kajian atau penelitian secara ilmiah, mendasar dan menjadikan kratom sebagai bahan baku obat-obatan," tegas Midji.

Kratom disebutnya mengandung senyawa yang menghilangkan rasa nyeri dan bisa juga menambah kebugaran.

Orang yang sudah menderita diabetes akut, kemudian dengan luka yang menganga dan kalau dia harus membeli obat-obat yang penghilang nyeri maka dia tidak akan mampu.

"Tapi dengan kratom, beberapa kasus bisa disembuhkan. Bahkan sebuah universitas di Jepang sudah melakukan penelitian dan menghasilkan kratom sintetik."

"Kita jangan buru-buru dulu, karena yang disediakan alam bahan obat-obatan di nagara ini sangat besar," tambahnya.

Ia mengambil contoh, obat herbal dari luar negeri ada 180 kapsul harganya Rp 4 juta, padahal seluruh bahannya adalah obat herbal yang ada di Indonesia.

"Sehingga kalau misanya yang lalu, Bu Megawati Ketua PDIP menyampaikan harus digali lagi rempah-rempah yang ada di Indonesia, maka bisa menjadi alternatif untuk obat."

Halaman
1234
Penulis: Syahroni
Editor: Wahidin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved