Ustadz Abdul Somad

Ustadz Abdul Somad dan Filosofi Bermain Sepak Bola

Pesepak bola Arsenal, Mesut Oezil pada Jumat (14/12/2019) mengunggah sikapnya terhadap kondisi Muslim Uighur di Xinjiang, China.

Penulis: Nasaruddin | Editor: Nasaruddin
Instagram Ustadz Abdul Somad Official
Ustadz Abdul Somad dan Filisofi Bermain Sepak Bola 

Ustadz Abdul Somad mengungkapkan, bahwa hidup ini seperti bermain sepak bola.

Hal itu disampaikan Ustadz Abdul Somad dalam postingan di Instagram miliknya, Ustadz Abdul Somad Official.

Menurut Ustadz Abdul Somad, Keeper tetap jaga gawang. Striker tetap menyerang. Wasit tetap tidak berpihak.

"Kalau terjadi ikhtilaf, kembali ke statuta yang disusun fifa. Kalau dapat bola, bagi ke kawan," tulis Ustadz Abdul Somad.

Ustadz Abdul Somad Beri Renungan Surah al-Maidah 54 saat Posting Mesut Ozil yang Bela Muslim Uighur

Dalam postingannya, Ustadz Abdul Somad juga menyertakan foto tim Arsenal yang satu di antara pemainnya adalah Mesut Ozil.

Pada foto berikutnya, UAS juga membagikan foto dirinya bersama beberapa rekannya dengan satu bola dipegang.

Pada postingan sebelumnya, Ustadz Abdul Somad menyampaikan renungan surah al-Ma'idah ayat 54 dalam postingan di Instagram miliknya, Ustadz Abdul Somad Official.

Menurut Ustadz Abdul Somad, kalau ada orang yang cuek, tidak mengamalkan Islam Allah akan ganti dengan sekelompok orang, sifat mereka:

1. Allah mencintai mereka

2. Mereka mencinta Allah

3. Bersikap lembut pada orang beriman

4. Tegas pada orang kafir

5. Berjihad di jalan Allah

6. Tidak pernah gentar pada mrk yang mencela

Unggahan itu disertakan UAS dengan foto pemain Arsenal Mesut Ozil, yang tampak menengadahkan tangan.

Pesepak bola Arsenal, Mesut Oezil pada Jumat (14/12/2019) mengunggah sikapnya terhadap kondisi Muslim Uighur di Xinjiang, China.

Unggahan pesepak bola Jerman berdarah Turki di akun Twitter-nya itu menuai kecaman dari sejumlah warganet di China.

Oezil dalam kicauannya merujuk Daerah Otonomi Xinjiang, China, yang banyak dihuni etnis minoritas Uighur tersebut dengan sebutan Turkistan Timur.

Dia mencurahkan isi hati dan doanya untuk Muslim Uighur dalam bahasa Turki.

Berikut terjemahannya dalam bahasa Indonesia:

Oh Turkistan Timur!

Umat yang terluka berdarah. Komunitas pejuang yang menolak penindasan. Orang-orang beriman yang berjuang sendiri melawan mereka yang memaksa keluar dari Islam. Al Quran dibakar, masjid-masjid ditutup, sekolah madrasah dilarang, para sarjana Muslim dibunuh satu per satu.

Saudara-saudaraku dipaksa masuk ke dalam kamp. Pria China dimasukkan ke dalam keluarga (Uighur). Saudari-saudariku dipaksa menikah dengan pria-pria China.

Namun, umat Muhammad hanya diam, tidak menyatakan keberatan apa pun. Umat muslim lain tidak mendukung. Tidakkah mereka tahu bahwa membiarkan penindasan adalah bentuk dari penindasan itu sendiri? Betapa indahnya kalimat Hadrah Ali: "Jika kamu tidak bisa mencegah penindasan, maka publikasikanlah penindasan itu!"

Saat peristiwa ini (penindasan ethis Uighur) menjadi agenda bahkan di media Barat selama beberapa pekan dan bulan, di mana suara negara-negara Muslim dan media mereka?

Tidakkah mereka tahu bahwa bersikap netral saat penindasan terjadi adalah penghinaan? Tidakkah mereka tahu bahwa saudara-saudari kita (Uighur) akan mengingat kesedihan ini beberapa tahun kemudian sebagai bukan dari akibat tirani, tetapi akibat sikap diam kita, saudara Muslim mereka?

Ya Allah, tolonglah saudara-saudariku di Turkistan Timur.

Tak diragukan, Allah adalah sebaik-baiknya perencana.

-Mesut Oezil

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved