Sutarmidji: Kepiting Bakau Bisa Jadi Potensi Utama di Kalbar
Diharapkan, SKPD terkait mampu lebih dapat mengembangkan potensi lain di bidang kehutanan karena telah tersedia regulasi,
Penulis: Anggita Putri | Editor: Jamadin
Kegiatan tersebut dilakukan untuk memastikan keberlanjutan usaha budidaya kepiting bakau di Hutan Desa Bentang Pesisir Padang Tikar, mempromosikan, dan menjaring pasar komoditas kepiting bakau.
Ia mengatakan adapun tujuan kegiatan ini adalah untuk menyampaikan progres budidaya kepiting kepada stakeholder terkait dan penyerahan simbolis pencairan tahap 2 kredit lunak BLU P3H KLHK untuk pengembangan budidaya kepiting bakau kepada KUPS Silvofishery Budidaya kepiting.
"Selain itu adanya kesepakatan kerjasama jual beli kepiting hasil budidaya di tingkat lokal maupun internasional dan adanya dukungan oleh instansi terkait dalam aspek pembinaan kelompok maupun bantuan secara material," jelasnya.
Ia mengatakan sejak tahun 2017, SAMPAN Kalimantan dengan dukungan Yayasan Inisiatif Dagang Hijau telah memfasilitasi masyarakat di Bentang Pesisir Padang Tikar untuk meningkatkan produktifitas Kepiting bakau melalui budidaya sistim silvofishery.
Pengembangan ini merupakan salah satu program strategis untuk pengembangan Hutan Desa Bentang Pesisir Padang Tikar (HD BBPT) sebagaimana tertuang dalam Rencana Pengelolaan Hutan Desa (RPHD) Bentang Pesisir Padang Tikar periode 2018 s/d 2028.
Pengembangan ini memiliki 3 tujuan utama, yakni mengembangkan alternatif pendapatan dan mata pencaharian masyarakat yang ramah lingkungan. Sehingga berkontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Lalu untuk menjaga dan melestarikan hutan mangrove di Bentang Pesisir Padang Tikar sebagai Mega Biodiversity Mangrove di Indonesia, dan menciptakan rantai produksi-distribusi kepiting bakau dari sektor budidaya kepiting yang ramah lingkungan.
Upaya ini dimulai dengan mengirimkan perwakilan masyarakat/nelayan dari 8 Desa di Bentang Pesisir Padang Tikar (Desa Nipah Panjang, Desa Tanjung Harapan, Desa Seruat II, Desa Dabung, Desa Sungai Nibung, Desa Batu Ampar, dan Desa Tasik Malaya) untuk melakukan kunjungan belajar tentang penggemukan dan pembesaran kepiting bersama Kelompok Tani Pembudidaya Kepiting Bakau di Ekowisata Mangrove, Provinsi Bali pada bulan Juli 2017.
Kemudian pada tahun 2019 SAMPAN Kalimantan memfasilitasi Desa Batu Ampar, Desa Nipah Panjang dan Desa Tanjung Harapan, belajar cara pembenihan kepiting bakau menggunakan hatchery.
Hal tersebut merupakan tindak lanjutdari bantuan dana usaha oleh BLU P3H. Study banding di Balai Besar Pembenihan Perikanan Air Payau (BPPAP) Kabupaten Jepara Provinsi Jawa Tengah menuai hasil positif, kelompok usaha pembudidaya kepiting bakau BPPT berhasil menduplikasi hatchery mini, walaupun secara praktek hatchery mini belum berkontribusi besar terhadap benih yang dihasilkan.
Upaya pembenihan kepiting dalam 2 kali percobaan terjadi kegagalan penetasan telur kepiting, namun setidaknya kegagalan hatchery mini merupakan tahap pembelajaran untuk mencapai keberhasilan.
" Hingga saat ini kepiting hasil pembesaran tambak kelompok usaha pembudidaya kepiting BPPT diperoleh dari benih yang diberikan oleh BPPAP Kabupaten Jepara. Sejak tebar bibit kepiting atau baby crab pada bulan Mei ahun 2019 di tambak kelompok usaha pembudidaya kepiting BPPT, telah dilakukan pemanenan berjangka di setiap kelompok pembudidaya kepiting," jelasnya.
Sedangkan untuk total panen berjangka seluruh pembudidaya hingga bulan Oktober 2019 sebanyak ± 300 Kg yang berasal dari 3 KUPS yaitu KUPS 1 Batu Ampar, KUPS 2 Batu Ampar dan KUPS Seruat II.
Panen Raya seluruh kelompok diprediksi pada bulan Desember 2019 dan diperkirakan mencapai ± 2,5 ton kepiting.
Update berita pilihan
tribunpontianak.co.id di WhatsApp
Klik > http://bit.ly/whatsapptribunpontianak
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/kepiting-hutan-raya.jpg)