Stok Obat HIV di Indonesia Tidak Aman, 2020 ODHA Terancam Putus Obat dan Berisiko Tularkan Virus

Dilihat dari data stok ARV yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan, beberapa obat ARV sudah menunjukkan stok

Editor: Madrosid
SHUTTERSTOCK
Ilustrasi 

Menurutnya jumlah kasus anak dengan HIV yang hanya tiga persen menjadi pemicu utama Kemenkes tidak ingin mengeluarkan uang untuk mempersiapkan stock ARV pediatric.

"Kalau merujuk dari pendapat orang-orang di Kemenkes, mereka bilang ya seperti itu, karena harganya mahal tidak mungkin mengeluarkan uang khusus untuk beli obat untuk anak yang jumlahnya hanya tiga persen," ujar Natasya.

Meski Natasya mengaku tidak mengetahui apakah harga ARV anak itu lebih mahal atau tidak dari ARV biasa, yang jelas, karena jumlah permintaan sedikit, maka dari pasarnya sendiri harganya akan mahal.

Lebih lanjut, Natasya berpendapat kalau Kemenkes menyiapkan stock terlalu banyak, hal tersebut justru membuat sebagian besar obat tersebut menjadi terbuang sia-sia karena kadaluarsa.

"Terus kalau misalnya kita belinya terlalu banyak, dengan harga yang lebih murah, tidak mungkin kita biarkan sebagian besar obat itu terbuang expired karena kebutuhannya cuma sedikit," ujar Natasya. (Tribun Network/fel/gen/wly)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved