Stok Obat HIV di Indonesia Tidak Aman, 2020 ODHA Terancam Putus Obat dan Berisiko Tularkan Virus

Dilihat dari data stok ARV yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan, beberapa obat ARV sudah menunjukkan stok

Stok Obat HIV di Indonesia Tidak Aman, 2020 ODHA Terancam Putus Obat dan Berisiko Tularkan Virus
SHUTTERSTOCK
Ilustrasi 

Direktur Eksekutif Indonesia AIDS Coalition (IAC) Aditya Wardhana mengatakan stok obat Antiretroviral (ARV) yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk menekan virus HIV/AIDS dalam tubuh orang dengan HIV/AIDS (ODHA) sudah menipis.

"Dilihat dari data stok ARV yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan, beberapa obat ARV sudah menunjukkan stok diambang kekurangan atau dalam kondisi “merah” ," ucap Aditya Wardhana.

Aditya Wardhana menuturkan kondisi tersebut dapat diartikan bahwa dalam jangka waktu 1 atau 2 bulan ke depan ODHA yang mengonsumsi obat ARV jenis ini akan menghadapi kesulitan dalam mengakses obat ARV karena stok obat habis.

Pihaknya menilai respons pemerintah terkait pengadaan obat ARV ini dirasa kurang padahal dananya sudah tersedia dan bahkan beberapa obat sudah tercantum dalam E-Katalog.

Berdasarkan data yang didapat dari Kementerian Kesehatan mengenai stok ARV nasional per tanggal 22 November 2019, untuk obat ARV jenis TLE (Tenovofir, Lamivudin, Zidovudine) dengan jumlah pasien yang dalam pengobatan ARV jenis ini sebanyak 48.981 ODHA hanya tersisa 290.908 botol saja sehingga apabila dikalkulasikan stok tersebut hanya akan cukup untuk konsumsi 5,9 bulan ke depan.

Padahal idealnya stok kecukupan ARV dikatakan dalam batas aman bisa dapat menyuplai kebutuhan selama 9 bulan dikarenakan beberapa obat ARV ini masih diimpor dan oleh karenanya memerlukan waktu yang cukup guna bisa didistribusikan kepada pasien.

Putus pengobatan ARV bagi ODHA, diungkap Aditya Wardhana akan memperburuk tingkat kesehatannya bahkan bisa menemui kematian dan juga akhirnya bila ODHA tersebut melakukan kegiatan berisiko maka dia akan menularkan HIV kepada orang lain.

"Status “merah” tidak hanya ARV jenis TLE saja, ada beberapa obat lain yang masuk dalam status “merah” yaitu Abacavir 300mg, Efavirenz 200mg, Liponavir/Ritonavir, Tenofovir 300mg dan Zidovudine Emtricitabine," tuturnya.

Status stok obat-obatan tersebut semuanya tidak berada dalam batas aman.

Yang terendah adalah obat ARV dari jenis Tenofovir 300mg yang tersisa stock untuk 2,5 bulan dan dikonsumsi oleh 29.131 pasien dan obat ARV jenis kombinasi Tenofovir Emtricitabine yang lebih parah lagi hanya dapat bertahan selama 1,5 bulan untuk 5.238 pasien.

Halaman
1234
Editor: Madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved