Kabinet Indonesia Maju
Rekrut 12 Wakil Menteri, Jokowi Disebut Inkonsistensi dan Lakukan Politik Akomodatif
Tapi saya lihat, terjadi inkonsistensi antara lima tahun yang lalu dengan apa yang disampaikan Pak Jokowi saat pidato Kepresidenan.
Penulis: Chris Hamonangan Pery Pardede | Editor: Maudy Asri Gita Utami
News Analysis
Pengamat Politik Untan
Jumadi, Ph.D
Rekrut 12 Wakil Menteri, Jokowi Disebut Inkonsistensi dan Lakukan Politik Akomodatif
PONTIANAK - Pengisian jabatan mesti dilakukan atas dasar analisis jabatan dan beban kerja sebuah institusi.
Itu dasarnya.
Jika memang analisis jabatan dan beban kerjanya memerlukan itu, tidak masalah.
Namun semangatnya ketika pemerintahan awal Jokowi lima tahun yang lalu itukan memangkas wakil menteri yang ada pada jaman pemerintahan SBY dengan pertimbangan efisiensi.
Baca: VIRAL Ramalan Santri di Magelang Prabowo Jadi Menteri Jokowi, Gubernur Ganjar Pranowo Angkat Suara
Baca: PUJI Wamennya, Menteri Pariwisata Wishnutama: Angela Tidak hanya Cantik tapi juga Cerdas dan Pintar
Baca: Susunan Kabinet Jokowi - Maruf Amin Belum Rampung, Moeldoko: Lagi Dihitung-hitung Asalnya
Tapi saya lihat, terjadi inkonsistensi antara lima tahun yang lalu dengan apa yang disampaikan Pak Jokowi saat pidato Kepresidenan.
Jadi yang diperlukan sekarang, semangat memangkas jabatan eselon, ada debirokratisasi dan deregulasi, kemudian efesiensi, dengan penambahan jabatan wamen yang beberapa kementrian menurut saya tidak memerlukan itu, maka tidak konsisten dengan semangat efisiensi itu.
Jadi memang, lebih mengedepankan politik akomodatif, akhirnya terjebak dengan politik akomodatif.
Menurut saya memang sangat disayangkan tidak konsisten dengan semangat efisiensi.
Kita inikan menghadapi situasi krisis ekonomi global, pertumbuhan ekonomi kita hanya 5 persen lebih, yang diperlukan sekarang menurut saya semangat efisiensi, satu diantaranya adalah jabatan yang hanya membengkakan anggaran.
Dan hal ini sebenarnya sudah dimulai ketika pemerintah menyetujui, dan politisi kita dengan berbagai komunikasi yang dilakukan, mengisi jabatan 10 wakil MPR.
Bisa kita lihat misalnya dikomposisi wamen yang duduk, ada timses dan partai-partai kecil yang mendukung saat pemilu.
Kecuali menurut saya posisi untuk wamen luar negeri, karena beban kerjanya cukup berat, sehingga dianalisis beban kerja bisa diterima dengan akal sehat.
Namun yang lain lebih kepada politik akomodatif.