Kapolda Kalbar: Dibanding 2015, Kebakaran Lahan di 2019 Menurun 87 Persen

Kapolda Kalimantan Barat Irjen Pol Didi Haryono menuturkan, masalah karhutla merupakan masalah yang harus diberantas bersama.

Kapolda Kalbar: Dibanding 2015, Kebakaran Lahan di 2019 Menurun 87 Persen
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ RIVALDI ADE MUSLIADI
Kapolda Kalbar Irjen Pol Didi Haryono secara resmi meluncurkan Smart SIM yang merupakan terobosan baru yang dilakukan oleh Polri. Peluncuran Smart SIM tersebut dilakukan Police Center Komplel Ayani Mega Mal Jl. Ahmad Yani, Selasa (24/9) sore. Turut dihadiri oleh Walikota Pontianak, Bupati Kubu Raya, Dandim, Danlanud, dan Forkopimda. 

Kapolda Kalbar: Dibanding 2015, Kebakaran Lahan di 2019 Menurun 87 Persen

PONTIANAK - Kapolda Kalimantan Barat Irjen Pol Didi Haryono menuturkan, masalah karhutla merupakan masalah yang harus diberantas bersama.

Semua pasti ingin dan sepakat untuk terus hidup sehat. Hal itu diungkapkannya saat menghadiri Focus Group Discussion (FGD) dengan tema Penanganan Karhutla dan Solusinya, di Ballroom Ibis Hotel Pontianak, Selasa (8/10).

“Aparat penegakkan hukum adalah opsi terakhir. Kearifan lokal boleh membakar 2 hektar, tetapi ada kousul-kousul yang harus dilaksanakan, harus ada ijin dari kepala desa tidak boleh ditinggal, situasinya tidak dimusim panas dan seterusnya," ujar Didi.

Didi melanjutkan, fenomena karhutla tidak hanya terjadi di Indonesia saja. data KLHK RI menyebutkan bahwa Republik Indonesia tidak sendiri, negara-negara lain juga menghadapi hal yang sama dengan Indonesia soal karhutla. Karhutla terjadi lebih luas di negara-negara maju seperti Kanada, hingga Amerika Serikat.

Data menyebutkan, fenomena karhutla pada 2019, Indonesia berada di posisi ke-6 dengan total lahan yang terbakar seluas 328.000 hektar, sedangkan di urutan pertama ada negara Rusia dengan luas lahan yang terbakar mencapai 10 Juta hektar.

"Dalam 5 tahun terakhir, fenomena karhutla terbesar di Indonesia terjadi pada tahun 2015. dimana pada saat itu luas lahan yang terbakar mencapai 2,6 Juta hektar.

"Sedangkan di tahun ini (sampai dengan september 2019) luas lahan yang terbakar seluas 328 Ribu hektar, artinya luas lahan yang terbakar mengalami penurunan mencapai 87 persen," tutur Kapolda.

Jenderal bintang dua itu juga menyebutkan, kondisi geografis Kalimantan Barat yang begitu luas berpotensi menjadikan oknum yang tidak bertanggung jawab untuk membuka lahan dengan cara membakar, disamping itu kebiasaan masyarakat yang menjadi kearifan lokal dalam mengolah lahan dengan cara membakar tanpa mempertimbangkan luas lahan dan kondisi cuaca menjadi problematika yang di atensi.

Berdasarkan pengolahan data Lapan oleh BMKG, menyebutkan hotspot sepanjang Agustus 2019 terdapat sejumlah 7.655 titik di Kalimantan Barat, Dimana hotspot terbanyak terdapat di Kabupaten Ketapang yaitu sejumlah 2126 titik dan Kabupaten Sanggau sejumlah 1440 titik.

Sedangkan sepanjang September 2019 (sampai dengan 23 September) di Kalimantan Barat terdapat sebanyak 15.767 hotspot.

"Pada 24 September 2019 sampai dengan 25 September 2019 kita bersyukur karena hampir di seluruh wilayah Kalimantan turun hujan sehingga data menyebutkan hotspot di kalimantan berkurang secara signifikan menjadi hanya tersisa 34 titik api," katanya.

Update berita pilihan
tribunpontianak.co.id di WhatsApp
Klik > http://bit.ly/whatsapptribunpontianak

Penulis: Rivaldi Ade Musliadi
Editor: Madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved