Soroti Masalah Karhutla, Bambang Haryo: Salah Satu yang Paling Buruk adalah di Pekanbaru Riau

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terjadi di Indonesia sampai saat ini, terbukti kabut asap

Soroti Masalah Karhutla, Bambang Haryo: Salah Satu yang Paling Buruk adalah di Pekanbaru Riau
TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Anggota Komisi V DPR RI, Bambang Haryo Soekartono. 

Soroti Masalah Karhutla, Bambang Haryo: Salah Satu yang Paling Buruk adalah di Pekanbaru Riau

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terjadi di Indonesia sampai saat ini, terbukti kabut asap di beberapa wilayah semakin pekat, salah satu yang paling buruk adalah di Kota Pekanbaru, Riau.

Hal itu diungkapkan oleh Anggota Komisi V DPR RI, Bambang Haryo Soekartono, dimana menurut dia dampak dari karhutla sudah puluhan ribu warga Pekanbaru menderita sesak napas bahkan demam.

Bambang menjelaskan, berdasarkan data yang dia terima dari Walhi Provinsi Riau, sedikitnya 47 ribu masyarakat Riau sudah terpapar ISPA yang diduga semuanya akibat kabut asap.

"Titik api karhutla sudah meluas ke 30 Provinsi, dan kita semua tahu bahwa yang paling parah adalah Kalimantan, dan Sumatera, sekarang ditambah lagi Riau," ujarnya.

Baca: Wakapolri Komjen Ari Dono Mengecek Perlengkapan Penanganan Karhutla di Mapolda Kalbar

Baca: FOTO: Wakapolri Pantau Peralatan Penanganan Karhutla di Mapolda Kalbar

Baca: Wakapolri : Penanganan Karhutla oleh Polda Kalbar Sudah Bagus

Bambang mendesak pemerintah agar segera mengambil langkah pasti, sebab sudah puluhan ribu masyarakat Indonesia yang sakit akibat kabut asap, bahkan kata Bambang ada yang meninggal dunia, dia amat menyayangkan lamban nya penanganan karhutla tersebut.

Menurutnya Bambang, Kementerian Lingkungan Hidup harus merasa bertanggung jawab atas permasalahan karhutla di Indonesia, dia meminta agar karhutla ini segera diselesaikan.

"Masalah karhutla ini seperti sudah berlarut-larut dan pemerintah sekan lambat dalam penanganannya, bahkan pemerintah terkesan melakukan pembiaran, karena terlihat tidak serius menangani karhutla tersebut," ujarnya.

Bambang mempertanyakan kenapa presiden belum menetapkan situasi ini sebagai bencanana nasional, sebab sudah banyak sekali korban akibat karhutla.

"Presiden harus tegas dalam mengambil sikap, harus ada sanksi tegas juga kepada yang bertanggung jawab atas semua ini yakni KLHK, karena pemeliharaan hutan di Indonesia tugas mereka," ujarnya.

Bambang mengatakan, asap akibat karhutla bahkan sudah meluas sampai ke Malaysia dan Singapura, jika pemerintah Indonesia tidak sanggup menangani karhutla, kata dia, bisa meminta bantuan ke dunia internasional, dan itu jauh lebih baik untuk mengatasinya.

"Malaysia dan Singapura itu sudah menawarkan bantuan, tapi kita yang tidak mau, KLHK itu tidak mau mengakui kalau dampak karhutla di Indonesia sampai ke negara orang, di Malaysia sendiri tidak terjadi kebakaran, jadi kalau ada asap, asap dari mana," katanya.

Bambang berharap, kedepannya pemerintah bisa mengantisipasi karhutla lebih dini agar tidak sampai berdampak parah bagi seluruh masyarakat di Indonesia. (*/Yak)

Penulis: Ya'M Nurul Anshory
Editor: Madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved