Mahasiswa KKN RKPB Untan Bangun Desa Sentra Kopi Liberika Kayong Utara
Kuliah Kerja Nyata (KKN) Revitalisasi Kawasan Perkotaan Baru (RKPB) 2019 telah berlangsung selama 35 hari terhitung sejak tanggal 1 Agustus
Penulis: Anggita Putri | Editor: Madrosid
Mahasiswa KKN RKPB Untan Bangun Desa Sentra Kopi Liberika Kayong Utara
PONTIANAK - Kuliah Kerja Nyata (KKN) Revitalisasi Kawasan Perkotaan Baru (RKPB) 2019 telah berlangsung selama 35 hari terhitung sejak tanggal 1 Agustus sampai dengan 5 September 2019 di Kecamatan Seponti, Kabupaten Kayong Utara.
Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh 38 mahasiswa Universitas Tanjungpura (Untan) yang dibagi menjadi beberapa kelompok pada setiap desa.
Mahasiswa yang tergabung ke dalam kegiatan tersebut memberikan kontribusinya dalam mengembangkan potensi daerah Seponti. Tepatnya di Desa Podorukun dengan potensi Kopi Liberika yang menjadi salah satu komoditas unggulan di Kayong Utara, di mana permintaan pasar cukup tinggi.
Baca: UBSI Pontianak Siap Gelar ORMIK dan SEMOT 2019 untuk Sambut Ratusan Mahasiswa Baru
Baca: Mantan Ketua Umum HMKM Angkat Bicara Tanggapi Masalah Asrama Mahasiswa Melawi
Baca: Mahasiswa Fakultas Hukum Usulkan Penolakan Revisi UU KPK
“Permintaan pasar terhadap komoditas tersebut cukup tinggi. Sejak 19 tahun lalu, kopi Liberika Podorukun sudah dikenal daerah dan luar Kayong Utara, salah satunya Kabupaten Sambas dan Kota Singkawang,” kata Nurhalikha, salah seorang petani kopi, saat dijumpai di kebunnya, di Podorukun, Kamis (08/08).
Likha menuturkan bahwa petani kopi di Podorukun berharap agar pemerintah memberikan bantuan berupa bimbingan dan permodalan. Alat yang digunakan pun masih manual dibuat sendiri.
Dengan adanya kerjasama dan bantuan tersebut, mereka bisa bertani kopi dengan baik, dan otomatis penghasilan masyarakat pun meningkat.
Ditemui terpisah, seusai melaksanakan KKN RKPB, Dosen Pembimbing Lapangan Uray Edi Suryadi menjelaskan tentang keberhasilan mahasiswa yang dibimbingnya saat melakukan pendampingan kepada masyarakat, khususnya Desa Podorukun.
Di Desa Podorukun mahasiswa mendampingi masyarakat dalam mengembangkan kopi. Pendampingan dilakukan dengan mengubah cara pemasaran, yakni mengemas bubuk kopi tersebut ke dalam kemasan, dari yang sebelumnya hanya menjual bubuk murni.
Selain itu, masyarakat juga diberikan sosialisasi dan pelatihan terkait pengembangan potensi kopi tersebut. Sosialisasi telah dilakukan pada Kamis, 15 Agustus 2019 dengan kedatangan tim Pusat Penelitian Kopi dan Kakao dari Jember dan Jakarta.
“Sudah 19 tahun kopi ini diusahakan oleh Ibu Likha. Mereka tahunya ini kopi liberica, cuma sayangnya setelah diteliti Pusat Penelitian Kopi dan Kakao dari Jember ternyata tidak murni liberica. Memang lebih banyak liberica, tapi bercampur dengan excelsa dan robusta. Ini menjadi potensi masyarakat Podorukun. Karena ketidaktahuan bagaimana pemasaran dan sebagainya, mereka menjualnya tidak dalam bentuk kemasan tetapi dibawa dengan bubuk biasa. Tidak ada bimbingan sama sekali,” tutur Urai.
Kemudian, kegiatan sosialisasi dilanjutkan pada hari Jumat, 16 Agustus 2019 pukul 07.30-11.30 di Balai Desa Podorukun yang dihadiri oleh perangkat desa, masyarakat, dan petani kopi.
“Sosialisasi Pelatihan Pengembangan Potensi Kopi Khas Desa Podorukun” disampaikan oleh narasumber dari Pontianak bernama Gusti Iwan Darmawan sebagai salah satu pengusaha Kopi Kojal yang sukses.
Narasumber memberikan pelatihan kepada masyarakat petani mengenai cara memilih bibit dan menanam yang baik, termasuk cara mencegah hama yang terjadi pada pohon kopi.
Ia menjelaskan cara memanen, mengolah, dan memasarkan produk dengan baik, serta cara pengurusan izin P-IRT (Produk Industri Rumah Tangga).