Harris Iskandar Soal Angka Buta Aksara: Bukan Sekadar Membaca dan Menulis, Namun Skill

pendidikan nonformal juga memiliki peran untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memperoleh pengalaman kerja praktik

Harris Iskandar Soal Angka Buta Aksara:  Bukan Sekadar Membaca dan Menulis, Namun Skill

Citizen Reporter
Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

PONTIANAK - Ditemui awak media usai kegiatan, Direktur Jenderal PAUD dan Pendidikan Masyarakat Kemendikbud, Harris Iskandar, mengatakan bahwa literasi tidak hanya cukup membaca, menulis dan berhitung (calistung). 

“Enam literasi dasar harus dikuasai oleh semua orang dewasa di dunia. Kalau sekarang masih diukur dengan melihat angka buta aksara. nanti akan geser instrumennya mungkin menyangkut enam literasi dasar,” jelas Dirjen Harris. 

“Untuk Literasi digital leading sector-nya Kementerian Komunikasi dan Informatika. Kalau untuk literasi keuangan leading sector-nya Otoritas Jasa Keuangan, Bank Indonesia, dan Kementerian Keuangan,” tambah Harris.

Selanjutnya, kata Dirjen Harris, pendidikan nonformal juga memiliki peran untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memperoleh pengalaman kerja praktik, seperti pada program Pendidikan Kesetaraan Paket C.  

Baca: Mendikbud: Indonesia Capai Angka Literasi di Atas 98 Persen

Baca: Mendikbud: Tradisi Perpindahan Pejabat Akan Terus Dilakukan

“Jadi semua ikut paket C sekarang ini akan mendapatkan layanan keterampilan khusus sehingga lulusnya akan mendapatkan ijazah negeri paket C yang setara SMA, dilindungi oleh negara lalu berlaku di perguruan tinggi, di dunia usaha dan laku juga secara kompetensi,” jelas Harris

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, mengemukakan bahwa Komisi X DPR RI siap memberikan dukungan kepada dunia pendidikan nonformal dan informal dalam bentuk anggaran atau kebijakan khusus yang nantinya akan berdampak kepada para alumni kursus. 

“Anggaran sudah jauh meningkat. Namun kalau dibandingkan pendidikan formal tentu saja jauh. Tapi jika kita bandingkan dengan 5 tahun terakhir itu sudah sangat meningkat. Tahun ini ada Rp8,3 triliun untuk pusat dan daerah. Apalagi kita yang perempuan ya sebab bagi perempuan, kesempatan untuk pemerataan akses pendidikan dan pengetahuan itu bisa terjadi. Apalagi tadi yang ibu-ibu yang mungkin tadinya buta aksara sekarang jadi bisa baca tulis. Itu luar biasa dan sudah ikuti tren dan pasar yang berkembang” jelas Hetifah. 

Baca: Kemendikbud Adakan Pekan Kebudayaan Nasional di Jakarta, Ikutan Yuk

Baca: Kemendikbud Dukung Gerakan Anak Muda Sehat dan Keren Tanpa Rokok

Pendidikan keluarga, lanjut Hetifah, tidak kalah penting. Menurutnya, pendidikan justru harus dimulai dari keluarga untuk membentuk karakter anak.

Halaman
12
Penulis: Maudy Asri Gita Utami
Editor: Ishak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved