Nongkrong di Warung Kopi, Baik atau Tidak ya?
Ada kalanya mereka memperkenalkan cara-cara tersendiri untuk mengaplikasikan bagaimana menjadi tren yang bisa berguna bagi dirinya dan orang banyak
Penulis: Maudy Asri Gita Utami | Editor: Madrosid
Nongkrong di Warung Kopi, Baik atau Tidak ya?
PONTIANAK - Gaya hidup mahasiswa dari zaman ke zaman kini semakin berubah.
Ada kalanya mereka memperkenalkan cara-cara tersendiri untuk mengaplikasikan bagaimana menjadi tren yang bisa berguna bagi dirinya dan orang banyak.
Melihat hal itu, banyak mahasiswa yang mulai sadar betapa pentingnya waktu untuk berkumpul baik bersama teman, dosen ataupun keluarga.
Tren yang disebut dengan nongkorng bukan lagi sebuah karangan melakukan candu bagi sebagian masyarakat yang gemar dalam menikmati suasana bersama orang lain.
Tidak hanya itu saja, banyaknya cafe serta warung kopi yang disingkat warkop kini sudah banyak mendesain tempat serta arsitek mereka agar banyak diterima oleh anak-anak muda khususnya yang masih status mahasiswa.
Dengan tren tersebut, orangtua tidak lagi ragu membiarkan anaknya pergi untuk keluar atau sekedar nongkrong di cafe.
Dalam istilah ilmiah, seorang peneliti asal Amerika, Tucker mengatakan bahwa gaya hidup yang mengalir melalui secangkir kopi menjadi kafe sebagai pilihan gaya hidup yang bisa didapatkan, diisi ulang, atau bahkan ditingkatkan.
Hal tersebut yang menarik para pelaku usaha dalam menggeluti bisnis warung kopi modern agar lebih menarik dan menjadi pilihan tongkrongan anak-anak muda.
Baca: Dinkes Mempawah Imbau Masyarakat Tidak Gegabah Konsumsi Bajakah yang Belum Jelas Efeknya
Baca: BREAKING NEWS - Polisi Bekuk Pria Diduga Transaksi Narkoba di Warung Kopi
Baca: VIDEO: Penampilan Kape J Hibur Pengunjung Warung Kopi Su Sani
Seperti ungkapan seorang penulis asal Indonesia, Heryanto, yang menyebutkan bahwa berbagai pilihan yang ditawarkan ‘tempat ngopi’
menjadikan orang memiliki beragam pilihan seperti gaya hidup baru yang lebih cair, dan disadari atau tidak menjadi bagian dari kehidupan
mereka sehingga kecenderungan untuk terikat pada kegiatan ini yang cukup tinggi.
Keberadaan orang memilih kafe sebagai tempat ketiga dengan berbagai alasan tentu menjadi fenomena yang menarik dan berdampak bagi kehidupan sosial kita, terutama soal perubahan gaya hidup, pola konsumsi, dan bentuk interaksi yang terjadi.
Seakan menjadi hal yang lumrah ketika orang-orang memindahkan kegiatan sehari-hari mereka ke kafe seperti mengetik, membaca, mengobrol bersama teman, ataupun sekedar mencari hiburan.
Sebagian para ahli juga menjawab dengan penelitian mereka, yang menyebutkan bahwa suatu tempat hiburan bisa membawa pada efek sosial, yaitu kedekatan yang lebih intim karena ada alat untuk komunikasi secara tidak langsung.
Namun bisa juga menjadi bumerang karena sebagian mahasiswa yang tidak tahu waktu dan aturan dan menyebabkan seseorang lalai dalam bekerja ataupun lupa pulang.
Kalau kamu gimana nih sahabat Tribun, jadi mahasiswa yang bijak ya dalam menerapkan pola sosial kamu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/mahasiswa-fgrhgb.jpg)