Berikut Alasan Kenapa Pimpinan Harus Lebih Bijak Hadapi Bawahan
Mendengarkan pimpinan adalah hal penting yang perlu kita ketahui bersama. Dengan adanya pemimpin dalam sebuah tim di perusahaan
Penulis: Maudy Asri Gita Utami | Editor: Madrosid
Berikut Alasan Kenapa Pimpinan Harus Lebih Bijak Hadapi Bawahan
PONTIANAK - Mendengarkan pimpinan adalah hal penting yang perlu kita ketahui bersama. Dengan adanya pemimpin dalam sebuah tim di perusahaan ataupun bagian pemerintahan, kita akan bisa termotivasi untuk mendapatkan pengalaman yang lebih baik.
Berikut ini pendapat Psikolog motivasi dari Dr. Chairul Fuad.
Pertanyaan
Smart leadership
Saya seorang pimpinan di salah satu unit tingkat Kecamatan, Membaca rubrik beberapa minggu yang lalu tentang responsive leadership yang selalu inovatif dengan membangun mindset positive, maka saya ingin bertanya : bagaimana cara menghilangkan rasa tidak suka yang mendalam terhadap bawahan yang selalu saja tidak pernah sejalan dengan ide-ide pimpinannya, sehingga selalu saja menjadi pimpro (pimpinan provokator).
Perasaan saya selalu “reject” terhadap dirinya, di sisi lain seperti Bapak jelaskan bahwa membangun kebersamaan tim juga sangat penting. Mohon advisnya
(Ibu SW, Kab Sambas).
Baca: Sedang LIVE ! Sulut United Vs Persik Kediri Liga 2 2019, Gol Macan Putih Kejutkan Tuan Rumah
Baca: Ketua DPC SBMI Mahadir Sebut Korban Kawin Kontrak Alami Gangguan Psikis Hingga Asusila Dari Mertua
Baca: 4 Kategori Sholat Sunnah | NIAT Sholat Sunnah Rawatib, Sholat Sunnah yang Mengiringi Sholat Fardhu
Jawaban
Selamat pagi dan semangat pagi ibu SW, Sebuah pertanyaan yang sangat bagus dan menarik untuk dibahas. Memang benar bahwa seorang pemimpin yang responsif dituntut untuk sensitif, dinamis, plastis, berpikiran positif, berperasaan positif, dan optimis.
Rasa tidak suka dengan bawahan secara berkelanjutan tanpa disadari akan merugikan pikiran dan perasaan kedua belah pihak (Anda dan dia); karena energi yang mengalir adalah energi negatif.
Saya lebih memberikan saran coba untuk mempelajari lebih dalam kenapa bawahan selalu bertentangan dengan ide-ide Anda atau mengapa dia menolak Anda.
Berusahalah untuk mengambil inisiatif untuk mencari akar permasalahan dengan dialog, diskusi, atau negosiasi dengan pendekatan komunikasi yang bersifat humanistik (memanusialkan manusia/menghargai manusia seperti adanya manusia dengan kebutuhannya, seperti perhatian, penghargaan, pengakuan, mendapat tempat, merasa penting).
Ketika Anda juga “reject” kepada yang bersangkutan maka jurang semakin dalam.
Semakin kita membenci seseorang, maka rasa ketidaksenangan akan semakin dalam. Di sinilah fungsi berpikir dan berperasaan positif. Anda harus mulai membisakan untuk “open mind” (buka pikiran), menuju ke “zero mind” (kosongkan/jernihkan pikiran dan perasaan negatif).