Mahasiswa Kalbar Kenalkan Inovasi Produk Lokal
Banyak hal unik yang bisa di temui dari berbagai stan mahasiswa kreatif perwakilan masing-masing Universitas di Kalbar.
Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Septi
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KUBU RAYA - Memasuki hari terakhir kegiatan Lomba Parade Cinta Tanah Air Kalbar 2019, peserta yang tampil adalah kategori Perguruan Tinggi di Kalbar yang bersaing mengenalkan inovasi kreatifitas produk lokal.
Kegiatan yang digelar sejak Rabu (24/7/2019) ini telah diikuti siswa dan siswi SMA di GrahaTeddy Kustari Lanud Supadio Kabupaten Kubu Raya. Mengajak anak muda untuk mewujudkan semangat generasi muda yang cinta tanah air dan bela negara sebagai penggerak industri kreatif.
Banyak hal unik yang bisa di temui dari berbagai stan mahasiswa kreatif perwakilan masing-masing Universitas di Kalbar.
Seperti stan mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Pontianak, mereka mengangkat kearifan lokal yakni dengan memanfaatkn kulit kedebong pisang yang sudah dikeringkan, daun lengkeng dan kulit kayu kapuak diolah menjadi aksesoris kerajinan tangan, seperti gelang, bros bunga, jam tangan, pulpen dan sebagainya.
"Kami di sini menciptakan inovasi karya, di mana kami di sini menggunakan bahan-bahan tadisional lokal dan kami modifikasikan dari bahan-bahan modern (terkini) yang tekah di olah di pabrik," ungkap Aldino Persi, Kamis (25/7/2019).
Baca: Pembebasan Lahan Warga Sungai Jawi, Dewan Imbau Pendekatan Persuasif
Baca: Proyek Jalan Pararel Sungai Jawi Masih Terganjal Lahan Warga, Camat Siap Bantu Negoisasi
Lebih lanjutnya, mahasiswa Jurusan Manajemen Bisnis ini memaparkan, jika inovasi yang di hasilkan juga mengikuti tren kekinian tanpa meninggalkan unsur etnik budaya, sehingga menjadi nilai jual di sektor perekonomian.
"Di sini kami juga menciptakan inovasi yang cocok dengan anak-anak zaman sekarang tetap modis namun tidak meninggalkan unsur budayanya sehingga ini tetap bisa menjadi nilai jual untuk ekonomi kreatif," terangnya.
Selain kearifan lokal, ada juga stan yang berinovasi dengan daun kelor, daun yang memiliki nama latin Moringa Oleifera ini biasanya dikonsumsi dalam bentuk sayur.
Namun, mahasiswa Politeknik Negeri Pontianak jurusan akuntansi ini menjadikan daun kelor sebagai olahan teh, dengan tekstur berwarna hijau dan wanginya seperti teh hijau.
"Kami ingin mematahkan stigma (pemikiran) orang tentang fungsi daun kelor sebelumnya (untuk hal magis) namun di balik itu ada manfaat berkali-kali lipat dan lebih banyak di bandingkan tanaman-tanaman yang lain," ujar Mahendra Purnama sembari menjelaskan produk inovasi yang ditampilkan. Ia juga mengharapkan dengan kombinasi produk ini dapat di gunakan sehari-hari oleh masyarakat. "Makanya produk kita seperti ini, biar bisa di gunakan sehari-hari," pungkasnya.