Pembekalan KKL IAIN Pontianak 2019 Hadirkan Kemenko PMK RI Sebagai Narasumber

Hadir sebagai narasumber, Anggota Gugus Tugas Nasional (GTN) Kemenko PMK, Marbawi menyampaikan materi tentang Gerakan Revolusi Mental.

Pembekalan KKL IAIN Pontianak 2019 Hadirkan Kemenko PMK RI Sebagai Narasumber
ISTIMEWA
Kemenko PMK RI Menjadi Narasumber Pembekalan KKL IAIN Pontianak 2019 "Teguhkan Gerakan Revolusi Mental" 

Kemenko PMK RI Menjadi Narasumber Pembekalan KKL IAIN Pontianak 2019 "Teguhkan Gerakan Revolusi Mental"

PONTIANAK - Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) RI menjadi salah satu narasumber di Pembekalan KKL 2019, di Auditorium Abdul Rani Mahmud IAIN Pontianak, Jumat (19/7/2019).

Hadir sebagai narasumber, Anggota Gugus Tugas Nasional (GTN) Kemenko PMK, Marbawi menyampaikan materi tentang Gerakan Revolusi Mental.

Dalam sambutannya Marbawi mengatakan, Mental kolonial masih melekat di masyarakat Indonesia.

Mental korup, mental ongkang-ongkang kaki menjadi suatu kebiasaan.

Presiden Soekarno pada Peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus 1956 pernah mengatakan Revolusi Mental adalah suatu gerakan untuk menggembleng manusia Indonesia agar menjadi manusia baru, yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala.

Baca: Output KKL IAIN Pontianak 2019 Berupa Buku

Baca: Rektor IAIN Pontianak Harap Peserta KKL 2019 Bisa Jadi Duta IAIN Pontianak

Pria yang lahir di Bangka tahun 1976 juga menjelaskan ada tiga hal yang harus dirubah dari diri masyarakat.

"Pertama cara berfikir. Contohnya sampah, kita harus berfikir bahwa sampah adalah suatu hal yang berharga. Sehingga kita bisa memperlakukannya secara baik. Tidak buang sembarangan, bahkan sampah bisa di jual dan diolah. Kedua cara kerja. Kita harus merubah cara kerja, bagi mahasiswa cara kerja membuat makalah satu jam jadi dengan mengambil makalah orang lain, itu bukan suatu cara kerja yang baik. Mahasiswa harus Menghasilkan karya yang original. Ketiga cara hidup. Hidup harus lebih baik lagi dari sebelumnya," ujarnya.

Ia pun menambahkan, revolusi mental membicarakan hal-hal yang bisa diterima semua kalangan. Terdapat tiga hal juga yang perlu dirubah dan dipertahankan.

Pertama integritas yang merupakan keselarasan antara fikiran, ucapan dan tindakan. Dengan integritas masyarakat harus jujur dan bisa di percaya. Kedua Etos kerja, dalam bekerja harus ada ilmu dan keahlian.

"Jika kita dipercaya untuk melakukan sesuatu tetapi kita belum ada ilmu dan keahlian kita harus ada mentor yang mendampingi. Ketiga Gotong royong, untuk terjadi gotong royong harus ada kesetaraan dalam masyarakat, kalau tdk ada kesetaraan tdk akan terwujud gotong royong," imbuhnya.

Baca: Terobosan Baru KKL 2019, Wakil Rektor I Apresiasi LP2M IAIN Pontianak

Baca: PMII Gelar Diskusi Hukum di Taman Rektorat Kampus IAIN Pontianak

"Kita harus ingat Kekuatan masyarakat adalah kekuatan yang tidak berubah dari zaman ke zaman. Karena yg paling lama bertahan adalah kekuasaan masyarakat. Masyarakat harus bergandengan tangan dan gotong royong. Jangan membuat sekat antar masyarakat, kita harus saling mengenal dengan suku dan agama orang lain untuk tercapainya gotong royong," tambahnya.

Terdapat lima program dalam impress Gerakan Nasional Revolusi Mental. pertama Gerakan Indonesia Melayan. Kedua Gerakan Indonesia mandiri.

Ketiga Gerakan Indonesia tertib. Keempat Gerakan Indonesia bersih dan kelima Gerakan Indonesia Bersatu. Marbawi, S.Sos, M.Si juga memberi pesan kepada mahasiswa yang akan KKL.

“Saat kalian meninggaalkan tempat KKL nanti, tempat itu harus lebih baik lagi dari sebelum kita datang dan tinggalkan juga berupa Jejak fisik dan jejak praktek yang baik di masyarakat." Pungkasnya.

Penulis: Anggita Putri
Editor: Ishak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved